Showing posts with label Karya Sarah. Show all posts
Showing posts with label Karya Sarah. Show all posts

28 March 2014

,

Hei, Sarah El Zohrah, What's Up?

Saya hobi menulis sejak umur 5 tahun, surat-suratan dengan kakak ke-4, Rahmi Nurfadhilah, ketika saya SD, senang main drama dan bertindak sebagai penguasa skenario. Sejak SMP (I mean tsanawiyyah in boarding school) saya nulis diary, punya buku komunikasi dengan sahabat saya, Salma Fathia Al Huda, yang isinya celotehan-celotehan penting nggak penting. Pernah bikin cerpen tentang Penjara Suci di tahun 2007. Keluar dari pesantren diajarin bikin cerpen dan novel sama Pak Bagja, guru Bahasa Indonesia. Tahun 2009 sempat coba-coba nulis dua cerpen judulnya Sang Calon Ketua dan Harry Potter Freaks, dan satu novel judulnya Mutiara Islam. Masuk kuliah semakin gila menulis dan bersahabat dekat dengan internet. Mendapatkan informasi tentang ajang menulis dan lahirlah anak-anak saya dari antologi di bawah ini:

1. Sebilah Pisau Tumpul (Cerpen)
Foto saya terpampang nyata di sebelah kanan atas, sebelah Mbak Achie TM. Nama saya tersemat di bingkai cover. Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang stres menjalani cuci darah selama empat tahun. Terinspirasi dari teman dekat saya, M. Fauzan Adly Haqiki, yang didiagnosa gagal ginjal pada saat berumur 16 tahun dan menjalani cuci darah selama empat tahun. Fauzan meninggal dunia saat berumur 20 tahun.

2. Telaga Kausar Indonesia (Puisi)
Saya nggak terlalu ingat saat proses membuat puisi ini. Saya nggak terlalu mahir bikin puisi. Kadang asal-asalan, seenak saya bikinnya aja. Kadang tanpa pola ataupun stimulus. Puisi ini pernah dimuat di Interval 21 juga. Ini bukan puisi terbaik saya, menurut saya sih gitu.

3. Rembulan itu Menebas Bintang Timur (Cerpen)
Ini cerpen terlebay yang pernah saya buat.Ceritanya tentang saya yang ditinggal nikah sama teman saya. Padahal saya kira kita sudah sepakat untuk saling menunggu. Ternyata saya kepedan -_-"

4. Sajak Reofilia (Puisi)
Saya lebih suka puisi ini daripada puisi Telaga Kausar Indonesia, karena puisi yang saya buat disini lebih berpola. Isinya tentang negara Indonesia yang sedang ditimpa musibah dari tanah, air, dan Bumi. Selalu begitu.

 5. Duhai, Tania ... Duhai, Tiara ... (Cerpen)
Ini cerpen terenggak banget. Saya aja kalau baca ulang jijik bacanya :D. Ceritanya tentang ... ah, sudahlah.

6. Orientasi Mahasiswa Dodol (Cerpen)
Ini salah satu cerpen yang agak bagus menurut saya. Tapi sayangnya dari sepuluh penulis yang lolos audisi menulis di Sekolah Tinggi Menulis Jogja ini, judul Diaduk Jablay lah yang menjadi judul cover. Entah tulisan siapa itu, saya lupa. Saya pernah menemukan buku ini di Gramedia dan Tisera, tapi saya nggak kebayang kalau saya beli buku ini dengan dandanan muslimah saya, apa kata kasirnya :|. Oh iya, cerpen ini terinspirasi dari masa-masa saya Mabim di Fkep Unpad.

7. Cinta Kasih Kelapangan Hati (Cerpen)
Salah satu cerpen terbaik saya karena bercerita tentang keluarga. Ibu saya menangis waktu baca cerpen ini :).

8. Dari yang Jutek Hingga yang Gokil (Cerpen)
Meski temanya tentang cinta, tapi isinya nggak bikin saya jijik kok. Ini cuma tulisan saya tentang tipe-tipean itu loh, lagian saya nulis ini pas saya lagi nggak galau.

Sejujurnya kalau kalian melihat rak buku saya, nggak akan ada judul-judul buku di atas. Meski buku-buku tersebut memuat tulisan saya, tapi saya nggak beli buku itu. Pertama, karena saya selektif dalam membeli buku, saya nggak pernah beli buku antologi macam buku-buku di atas. Kedua, sayang uang. Ketiga, ini bukan pencapaian terbaik saya, karena saya maunya bikin novel sendiri, bukan antologi cerpen atau puisi (maksa -_-"). Makanya saya tulis celotehan ini di blogspot bukan di tumblr. Nanti kalau saya sudah berhasil menceklis pencapaian saya, baru saya show up di tumblr.

By the way, saya senang mengetahui bahwa saya pernah semangat belajar menulis dan uji publik tentang kelayakan tulisan saya. Meski buku-buku di atas adalah tulisan saya zaman tahun 2010-2011, sebelum saya resmi jadi aktivis. Tapi, hei, saya independen sekarang. Seharusnya saya bisa meneruskan masa-masa Sarah el Zohrah itu. Nama yang saya buang semenjak saya jadi aktivis. Tapi perlu diketahui bahwa aktivis bukan penyebab saya tidak melanjutkan proses belajar menulis fiksi. Justru menjadi aktivis mematangkan intuisi dan kepekaan saya dalam hal tulisan. Terbukti, saya tidak pernah menulis hal-hal sepele yang galau nggak jelas lagi. Setelah jadi aktivis semua yang saya tulis berbentuk rilis dan artikel dengan memakai nama asli, Sarah nurul Khotimah. Beberapa contoh judulnya:

- Aksi dan Mahasiswa (2012)
- UKT Untuk Kesejahteraan dan Kecerdasan Mahasiswa (2013)
- Menelusuri Jejak Medfo (2014)
- Mempertanyakan Kongres Mahasiswa (2014
- Rilis-rilis event dan aksi, dll

Dan, by the way, what's up Sarah El Zohrah? Miss you so much ... :*
Continue reading Hei, Sarah El Zohrah, What's Up?

11 March 2014

,

Apakah ini Menginspirasi

Saya hanya mau memposting tulisan saya yang saya kirim ke ... apa nama lombanya tadi, yang man jadda wajadda di postingan sebelumnya. Kalau lolos, otomatis saya harus menghapus postingan ini, karena tulisannya akan dimuat. Kalau tidak lolos, saya akan biarkan postingan ini disini. Ini adalah dua tulisan yang saya buat dalam waktu kurang lebih sejam. Cuma satu halaman, kalau lolos seleksi, harus dipanjangin jadi 8-12 halaman kalau nggak salah. Tulisan ini akan saya endapkan dulu. Jiga naon wae :D.

Semoga saya masih ada gairah buat membuka folder novel. Eh, bukan semoga, tapi harus. Ceritanya lagi keras sama diri sendiri. Oh ya, cerita yang kedua berjudul 'Rumah Virtual' belum selesai, karena saya tiba-tiba nangis pas lagi nulis cerita itu ehehee.

------

Tema: Kisah Para Lulusan Pesantren

Mengabaikan Hipotesa
Selalu akan ada turbulensi ketika hendak mencapai garis finish. Seperti lari maraton. Tantangan terberat ada di kilometer menjelang garis finish. Antara berteriak, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan ekspresi bergairah atau bergumam pelan, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan nada kepayahan. Ketika hendak mencapai garis finish, saya kembali membayangkan apa yang saya tekadkan pada garis start. Mengingat titik-titik kilometer pencapaian dalam perjalanan ini. Dan saya mengingat guncangan terhebat dalam hidup saya, yaitu ketika memilih keluar dari pesantren setelah lima tahun tinggal disana.
Lalu saya sampai pada pertanyaan mendasar dalam hidup. Kenapa? Seperti mencari akar permasalahan. Kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, dan terus begitu sampai pertanyaan itu menemui kebuntuan. Sehingga saya memaksakan diri untuk menemukan hipotesis awal.
Kenapa dulu saya masuk pesantren?
Karena orangtua saya baru menyadari ketika sampai masa tuanya bahwa manusia memerlukan ilmu agama untuk menjalani kehidupan.
Kenapa dulu saya keluar dari pesantren?
Karena dalam benak saya ilmu pengetahuan adalah matematika, fisika, biologi, kimia, dsb, bukan nahwu, tafsir, qira’at, ushul fiqih, dsb.
Kenapa saya masih berhubungan dengan teman-teman di pesantren setelah keluar?
Karena persahabatan yang tumbuh di asrama berkembang layaknya sebuah keluarga. Tidak ada kalimat ‘hubungan kita selesai’ dalam sebuah kekeluargaan.
Kenapa saya enggan mengakui bahwa saya pernah mesantren ketika kuliah di kampus negeri?
Karena selalu ada beban dan tanggung jawab yang terlalu berat ketika diri kita sudah dilabeli sebagai ‘lulusan pesantren’. Ahli agama, diantaranya.
Cerita ini berlatar belakang renungan saya mengenai destinasi diri yang pernah tinggal di pesantren lima tahun dari tujuh tahun yang seharusnya dijalani. Memilih untuk mempelajari ilmu-ilmu umum karena pesantren saya termasuk pesantren tradisional yang hanya mengajarkan ilmu agama. Kebingungan dengan pelajaran matematika dasar ketika menjadi murid baru di sekolah umum. Lantas mengejar ketertinggalan dengan ‘nodong’ ke rumah guru dan kakak kelas untuk minta diajarkan ilmu umum, khususnya eksak.
Enam tahun setelah peristiwa keluar dari pesantren, saya merenungi kembali pilihan itu dan menemukan banyak hikmah dan ‘tangan’ Allah yang bergerak di dalamnya. Hingga perenungan itu sampai pada kerinduan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama di pesantren dulu. Mungkin lain kali saya tidak memerlukan pertanyaan-pertanyaan masalah. Mungkin lain kali saya harus mengabaikan hipotesa-hipotesa yang berkeliaran dalam kepala saya.

Tema: Orangtuaku Pahlawanku
Rumah Virtual
            Saya perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ilmuwan di bidang teknologi. Karena mereka saya bisa terkoneksi dengan keluarga saya yang sejak dulu tidak pernah tinggal satu rumah. Dalam era percepatan komunikasi seperti sekarang, kita berkumpul dalam satu ‘rumah virtual’ pada sebuah grup aplikasi pesan. Kita tidak mengenal obrolan di meja makan, sholat bersama, berdiskusi di depan televisi, atau hal-hal yang biasa dilakukan keluarga, karena kita tidak pernah satu rumah. Namun kini kita memiliki rumah virtual yang nyaman.
Dalam obrolan di rumah virtual tersebut saya baru mengetahui bahwa almarhum ayah saya adalah penikmat musik, jago main catur, dan membuat satu ruangan khusus untuk buku-bukunya tanpa ada yang boleh diizinkan masuk. Saya tidak tahu apapun tentang ayah saya karena beliau meninggal di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya. Sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa ayah saya tidak mewariskan harta banyak tapi dia mewariskan karakternya pada saya. Kecintaannya pada musik, buku, dan sifat-sifatnya. Saya menyimaknya di rumah virtual.
Di sela-sela saya kuliah, makan siang, belajar di perpustakaan, saya selalu merasa berada di sekeliling keluarga saya dan membicarakan kehidupan bersama. Sampai pada suatu hari salah seorang kakak saya memulai diskusi. “Teteh baru tahu kalau Mamah kuliah lagi untuk syarat sertifikasi. Katanya sekarang lagi KKN. Kayaknya beberapa bulan lagi wisuda.”
Lalu anggota ‘rumah virtual’ yang berjumlah sembilan orang mulai merincikan satu-satu tentang keadaan ibu saya, ibu kita. Bagaimana dia berjuang ketika suaminya meninggal, prasangka dalam pembagian warisan, terusir dari rumah, terpaksa menitipkan anak-anaknya di tempat yang berbeda, berjuang agar anak-anaknya bisa sekolah, tinggal di rumah yang kecil sendirian, dan bagaimana dia merahasiakan kesusahannya dari anak-anaknya. Dari saya.
Ketika masih kecil, saya selalu iseng bertanya kepada ibu saya, “Mah, kenapa sih Mamah punya anak malah dititip-titipin. Jauh-jauhan lagi.” Ibu saya tidak pernah menjawab. Sekarang saya baru sadar bahwa itu adalah pertanyaan yang jahat. Seharusnya tidak memerlukan sebuah grup aplikasi pesan untuk bisa mengetahui pengorbanan seorang ibu.

Continue reading Apakah ini Menginspirasi

05 December 2013

,

Video Project [Protagonis Award]

Padahal kerjaan masih banyak. Revisi skripsi belum dikerjain, LPJ belum kelar dan molor seminggu lebih. perencanaan pengkajian komunitas belum diapa-apain. Terus tiba-tiba diminta Kang Zu buat bikin video perpisahan gitu. Nggak ada ide sama sekali konsepnya gimana. Akhirnya saya cuma nanya tentang Protagnis Award.

And then ... saya ketawa-ketawa sendiri dengan hasilnya. Gara-gara ternyata ada beberapa orang yang memberi saya label tergalau. Nggak masalah sih, seniman kalau nggak galau susah menciptakan karya seni yang bisa langsung nyentuh hati orang. Hahaha.

Asumsi saya mungkin karena saya suka ngomong 'nikah' secara gamblang. Dari dulu juga saya sudah begitu. Sejak saya berumur 16 tahun malah, saya selalu bilang ke teman-teman asrama saya kalau saya akan nikah cepat. Itu semacam doa sebenarnya. Lalu misalkan pas akhir BEM 2011, ketika saya ditanya tahun depan saya akan di BEM lagi atau enggak, saya malah bilang enggak ah, saya mau nikah aja. Saya pun ngakak.

Ada apa dengan ngomongin 'nikah'?

Kemungkinan kedua mungkin karena saya sering GR. Yo'i banget, saya emang GR-an, tapi nggak gampangan. Nggak mempan dimodusin, dikodein, diceng-cengin, dan semacamnya. Saya sudah kenyang cuma dijadikan bahan dagelan :D.

Kemarin itu saya pulang dari sekre sekitar jam setengah sembilan. Saya agak risih, bukan karena pulang malam, tapi karena ada Kang Rendi. Haha. Kalau malam-malam lagi ada Kang Rendi bawaannya pengen cepet-cepet pulang soalnya dia islami banget. Saya berasa lagi ketemu sama Ustad saya di pesantren kalau lagi ketemu dia. Makanya saya nulis dia tersoleh, terlepas dari definisi soleh itu apa.

Ini dia project video saya, dimulai jam 9 malam dan akhirnya selesai sekitar jam 12 malam.


Yeah, saya kalau lagi mood emang kadang lupa waktu dan harus selesai saat itu juga. Kalau dibesokin mungkin malah nggak kegarap. Mungkin ada yang heran kenapa di awal ada video Kang Agil lagi ketawa. Menurut saya sih itu ekspresi yang lucu, karena seorang Hilman Agil Satria agak jarang nangkring si sekre kalau memang nggak ada rapat, agenda, dan semacamnya. Terus malam itu dia ada di sekre dan tertular gila dengan teman-temannya.

Mungkin saya akan merindukan mereka. Mungkin juga enggak. Haha. Tapi tawa dan canda yang terdokumentasikan ini akan menjadi tand abahwa kita pernah saling bertaut. Ahay.

Continue reading Video Project [Protagonis Award]

16 November 2013

,

[Spasi] Pemilihan Judul

Saya memulai novel Gais-Sasi sejak tahun 2011. Selama 3 tahun nge-BEM, selama itu pula proyek ini terbengkalai. Ketika itu tokoh utamanya masih Gais dan Mia, ditambah tokoh pelengkap Wishu, Ken, dan Intan. Setelah saya ada masalah dengan Wishu dan Intan, teman saya yang kuliah di UPI, maka di akhir tahun 2012 nama tokoh saya ganti jadi Gais dan Sasi dengan tokoh pelengkap Mia, Regi, dan Arga.

Awalnya judul novel ini adalah Nersauthor. Akhir tahun 2011, saya ganti jadi Bintang Timur dan Sihir Hujan. Akhir tahun 2012 saya memulai lagi proyek ini dari nol. Lalu tiba-tiba saya masuk BEM lagi, proyek ini jadi tersendat. Tapi di pertengahan 2013, ketika saya KKN dan istirahat sebentar dari BEM, saya mulai menyelesaikan proyek ini. Dan saya baru sadar, judul Bintang Timur dan Sihir Hujan ini terlalu aneh.

Akhirnya ketika saya memandag laptop keyboard sambil memikirkan judul yang pas, saya menemukan tombol Spasi. Lalu saya menulis, "Kamu dan bintang memiliki jarak yang sangat jauh. Maka, jika kamu menyimpan mimpimu setinggi bintang, kamu harus terus bergerak untuk mencapainya."

Bintang itu terletak di luar angkasa. Saya jadi ingat salah satu bab di novel ini yang saya beri nama 'Another story from space'. Ya, mimpi kita ada di bintang, mimpi kita ada di luar angkasa (space), kita dan mimpi memiliki jarak yang sangat jauh. Dan tanpa pikir panjang saya memberi proyek novel ini dengan judul 'Spasi'.

Beberapa kutipan yang membicarakan 'Spasi'.

Dialog Gais dan Arga:



“Oh ya, Ga. Aku mau tanya, kamu tahu nggak kenapa tombol spasi di keyboard laptop menjadi satu-satunya tombol yang tidak diberi label?”
“Emh, emang iya ya? Aku tidak terlalu memperhatikan.” Arga balik bertanya. “Menurutmu kenapa?"
“Menurutku?” Gais berseru girang, semangat untuk menjelaskan hipotesisnya. “Karena … kamu tahu kan spasi dalam bahasa inggris adalah space. Dan space juga bisa diartikan luar angkasa. Jadi, sebenarnya mereka yang tahu rahasia spasi tidak ingin membiasakan mata manusia dengan tulisan dan tombol itu.”
“Rahasia spasi?”
“Bahwa tombol spasi adalah tombol penghubung kita dengan makhluk ekstraterestial.”
“Caranya?”
“Memencetnya di keyboard yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan oleh orang yang tepat.” Gais tergelak seketika, menyukai ekspresi Arga ketika menyadari bahwa hal yang tadinya dia kira serius merupakan lelucon dari Gais.




Dialog Gais dan Regi:
“Re, lo tahu nggak kenapa spasi di tombol keyboard laptop menjadi satu-satunya tombol yang tidak diberi label tapi sering dipakai ketika mengetik. Spasi juga satu-satunya tombol yang bentuknya beda dari yang lain.”
“Itu kamu tahu jawabannya.”
“Maksudnya?”
“Kamu tanya 'kenapa' tapi sebenarnya kamu bukan sedang mencari jawaban. Karena jawaban apapun yang keluar nanti, kamu sebenarnya sudah punya jawaban sendiri.”
Gais menerawang. “Karena spasi itu tidak haus popularitas. Dia tidak perlu dikenal meskipun dibutuhkan setiap saat. Dan … spasi itu unik, beda dari yang lain tapi tetap bersatu menjadi bagian dari keyboard. Itu yang aku pikirkan.” 
Continue reading [Spasi] Pemilihan Judul

23 October 2013

,

[Spasi] No Writer's Block

Sepertinya banyak penulis lain mengalaminya. Ketika Writer's Block terus tiba-tiba menemukan dialog kunci. Rasanya pengen jumping pakai trampolin.

Saya selalu berpikir kalau mau menciptakan tokoh yang konsisten, saya nya juga jangan galau. Itulah mungkin, kenapa banyak penulis atau seniman lain yang anti sosial. Karena hubungan sosial mereka akan mempengaruhi hasil karya mereka. Ini cuma menurutku loh ya.

Sejak saya menciptakan karakter Shaula Sasikirana (Sasi), saya sudah tahu dia maniak belajar dan dia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Jadi saya tahu kalau Kedokteran bukan passion-nya karena profesi dokter nanti menuntutnya untuk bekerja melayani banyak orang. Saya jadi bingung bagaimana nasib Sasi. Tapi kalau dari awal dia saya masukan di jurusan yang lebih sains, seperti MIPA dan sebagainya, terus konfliknya dimana? Pelajaran kehidupannya dimana?

Saya tahu pada akhirnya Sasi akan menjadi ilmuwan tapi bagaimana menyadarkan Sasi bahwa dia bisa dan harus mengejar passion-nya untuk menjadi ilmuwan sejak awal. Tokoh yang lain sudah menemukan nasibnya, Sasi belum. Sampai akhirnya saya berpikir ya udah, karena kehidupan Sasi biasanya lurus-lurus saja, kali ini pun nasib dia adalah kuliah rapi, jadi dokter, lanjut S2, lanjut residen, baru profesor. Tapi kok nggak ngerasa ada pemantiknya.

Sampai akhirnya ketika saya sedang di Cicalengka, lahirlah dialog.

"Kalau passion kamu adalah belajar dan kamu harus bekerja, ya sudah, pekerjaan kamu adalah belajar." 
Sasi mengerutkan kening, khawatir Marwan tengah meledeknya. "Sampai kapan aku hanya jadi pelajar? Aku tahu kita tidak seharusnya berhenti belajar sampai akhir hayat. Maksudku ... kita harus menjadi seseorang kan. Memiliki profesi yang menuntut kita untuk terus belajar." 
"Kamu bisa memiliki profesi sebagai pembelajar murni. Fokus kepada pengembangan ilmu, menjadi ilmuwan. Menurutku itu juga profesi."

And that's it! Itu kata-kata yang aku butuhkan untuk menyadarkan Sasi dengan passion-nya. Dan aku tidak tahu betapa lamanya aku harus menunggu lahirnya dialog sesederhana itu. Dialog yang ... bisa dibilang biasa banget buat orang yang nggak ngalamin ... tapi dialog semacam itu juga yang memunculkan ekspresi Kugy seolah-olah dia berpikir, "Ya, ya. Kamu benar. Itu yang selama ini ada di kepalaku dan aku hanya butuh seseorang untuk mengucapkannya." Dan itu adalah ekspresi yang ... apa ya, kayak orang menemukan kunci harta karun buat mimpinya. Dan dia baru sadar kalau kunci itu selama ini ada di saku celananya. Saya suka ekspresi itu.

Ekspresi Kugy (dua gambar paling atas) saat Keenan berkata,
"Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin.
Ujung-ujungnya kita juga tahu kok mana yang diri kita sebenarnya,
mana yang kita bukan diri kita, dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalanin."

 

No writer's block (again)!
Continue reading [Spasi] No Writer's Block

03 December 2012

,

Tulisan 'Sarah El Zohrah' yang Berserakan

Dulu saya pakai nama pena Sarah El Zohrah sampai saya lebih dikenal dengan nama itu daripada Sarah Nurul Khotimah. Kini saya sudah memakai nama Sarah Nurul Khotimah di semua akun jejaring sosial. Terakhir, ketika tulisan saya dipublikasikan oleh majalah Blitz edisi November, saya pakai nama Sarah Nurul Khotimah.

Sudah setahun ini saya macet menulis. Banyak yang harus dipikirkan, kuliah, keluarga, dan organisasi. Saya mundur di salah satunya, yaitu organisasi. Pokoknya di tahun 2013 tidak ada lagi yang namanya Sarah Nurul Khotimah si aktivis yang doyan nongkrong di Sekre. No, no, no.

Saya sedang mencari independensi diri. Lagaknyaaa. Dan independensi diri ini saya temuka di dunia menulis. Yaa, saya belum menjadi penulis profesional tapi sudah nyampah banyak tulisan ketika tahun 2010. Di tahun 2011 dan 2012 saya berhenti menulis karena fokus di organisasi. Jadi, kalau ada yang beranggapan saya berhenti berorganisasi karena ingin menulis. Yap, itu benar.

Saya tiba-tiba kangen dengan nama Sarah El Zohrah, lalu saya tulis di Google 'Sarah El Zohrah'. Ada banyak result. Cieee ... Dan tiga diantaranya membuat saya tercengang.

Pertama adalah http://www.anggareni.net/pecandu-rindu.html
Blog milik seseorang yang bernama Anggraeni itu memasukan puisi saya jaman lebay, judulnya Pecandu Rindu. Asli, itu puisi jaman saya masih suka geje menggalau. November 2010 bikinnya juga. Salah satu cuplikan puisinya adalah 'Aku selalu rindu ... sebab perasaanku tak terbendung oleh friksi.' Huahahahaaa demi apa lah aku ngakak bacanya. Agak ajaib juga entah apa yang terjadi ketika itu sampai saya membuat puisi seperti ini. Yang jelas saya berterima kasih kepada orang-orang yang sudah mengapresiasi puisi saya dan tetap mencantumkan nama Sarah El Zohrah sebagai penciptanya. Terharu :').

Yang kedua adalah http://tiyaradam.wordpress.com/2011/10/05/cinta-salah-sambung-buku/
Yang ini lebih ngakak lagi. Saya lupa bikinnya kapan. Yang jelas isi cerita ini adalah masa-masa abege ketika SMP sampai SMA dalam menilai cowok. Tulisan yang ada disini judulnya Dari yang Jutek Hingga yang Gokil di urutan 11. Saya sendiri lupa tepatnya isi cerita itu apa dan aku baru tahu kalau ternyata tulisan itu sudah dibukukan tahun kemarin. Benar-benar lah.

Yang ketiga adalah http://cupid3.wordpress.com/2011/08/19/seribu-cinta-yang-menyala-persembahan-apik-untuk-keluarga/
Sama nasibnya seperti tulisan Dari yang Jutek Hingga yang Gokil. Saya menulis cerita ini entah kapan, mengirimnya entah kapan pula, dan baru tahu sekarang bahwa tulisan ini dibukukan karena diterbitkan tahun 2011 akhir. Itu adalah masa-masa aku terobsesi dengan organisasi.
Oh ya, kembali ke tulisan yang mereka muat. Tulisan yang dimasukan ke dalam buku ini judulnya Cinta Kasih Kelapangan Hati. Tentang keluarga kalau nggak salah. Saya ingat ketika menuliskan cerita ini dan meminta ibu saya untuk membacanya dan dia menangis.

Daaan ... begitulah. Tiba-tiba saya terbangun dengan suatu kesadaran bahwa ternyata dulu saya memang sangat rajin menulis, mengirimkannya, dan mendapatkan respon dari orang lain. Sooo ... tunggu apa lagi. Saya akan merindukan Sarah Nurul Khotimah si aktivis yang kerjaannya aksi di Jakarta, tapi aku juga sangat merindukan Sarah El Zohrah si tukang begadang di depan laptop sambil memuntahkan imajinasinya.
Continue reading Tulisan 'Sarah El Zohrah' yang Berserakan

25 November 2012

29 August 2012

09 August 2012

07 June 2012

06 January 2012

Kafe :)

Saya duduk menelungkupkan tangan di meja, selesai menceritakan kejadian hari ini. Melirik ke sekeliling kafe seolah tak boleh ada yang terlewatkan untuk dilihat. Padahal saya hanya sedang meyakinkan diri saya bahwa saya menceritakan semuanya dengan tepat.

Ini adalah cerita saya keribuan kalinya. Di hadapannya. Di kafe ini. Semuanya masih sama. Dan entah kenapa bagi saya akan selalu sama. Pria itu tidak pernah membosankan sejak saya bercerita untuk pertama kalinya.

Kami duduk berhadapan. Selalu begitu. Dan dia akan mempersilahkan saya untuk bercerita tentang semuanya tanpa dia sela.

Asap kopi panas dan teh hangat masih mengepul, mengiringi helaan nafas saya.

Senyumnya. Yang akan selalu saya rindukan setiap saya selesai bercerita. Dan semua yang dia ucapkan. Hal yang menyebalkan, terkadang kontra, atau bahkan menyalahkan saya. Tidak ada masalah dengan itu semua.

Saya bertanya. Membantah. Menuntut.
Dan dia akan tersenyum mengucapkan kata-kata yang akan membuat saya menunduk. Paham.

Dan akhirnya dia akan berkata, "Semuanya baik-baik saja."

Hanya tulisan ringan tentang lamunan saya. Entahlah, tiba-tiba ingin menulis seperti ini. Tentu saja ini bukan sekedar 'galau picisan', hanya sekedar memberikan kesadaran kepada diri saya sendiri bahwa teman bercerita saya selama 17 bulan terakhir adalah laptop axioo yang penuh sticker, menggantikan buku agenda bohemian rapshody yang tak kalah dipenuhi sticker zaman saya sekolah. Pria itu tak pernah ada, pun kafenya. Atau mungkin, hanya belum. Dan saya tidak ingin mengkhawatirkan hal itu.
Continue reading Kafe :)

22 December 2011

,

Mahasiswa Unpad Gelar Aksi Peringati Hari Ibu

[Unpad.ac.id, 22/12] Pagi ini, Kamis (22/12) mahasiswa Unpad melakukan aksi memperingati Hari Ibu di Gerbang Selatan Kampus Unpad Jatinangor. Mereka terdiri dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM Kema) Unpad, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Kema Unpad, dan BPM dari sejumlah fakultas di lingkungan Unpad. Aksi ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap peran penting dari seorang Ibu.
Continue reading Mahasiswa Unpad Gelar Aksi Peringati Hari Ibu

09 April 2011

,

Totalitas dan Pengoptimalan Diri untuk Menjadi Keluarga Mahasiswa yang Berkualitas



 (Tulisan ini dikirimkan saat mendaftarkan diri menjadi pengurus BEM Kema Kabinet Sigap)
 
Sarah Nurul Khotimah 220110100134
Fakultas Keperawatan 2010

Menjadi pengurus BEM?
Bagi sebagian mahasiswa apatis mungkin merasa heran melihat sekumpulan orang berbondong-bondong berkontribusi untuk BEM. Berkumpul untuk membahas proker-proker yang harus disepakati bersama. Menjalankan kegiatan yang tidak sedikit menguras keringat.
Continue reading Totalitas dan Pengoptimalan Diri untuk Menjadi Keluarga Mahasiswa yang Berkualitas