Showing posts with label Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan. Show all posts

05 December 2013

,

[CCSA] Fresia Hari Kedua

Departemen/UPF Penyakit Dalam
Ruang Fresia Kelas 2 (masih dikenal dengan nama Anyelir)
Kamis, 7 November 2013
14.00-21.00

Saya berangkat jam 1 siang dari Dipati Ukur karena baru saja mengahadiri wisudanya Kang Ridwan, senior saya di keperawatan. Saya makan siang bareng Riri, Bela, Teh Ela, Kang Zu, Kang Dadieh, dan satu lagi yang saya lupa namanya. Sampai di ruang fresia, teman-teman yang dinas pagi masih bertugas dan terlihat lebih ceria karena tidak ada pembimbing yang datang.

Ketika pergantian shift, saya dan Indah ikut operan di wing dua. Ada 6 pasien hari itu, satu pasien dipindahkan ke HCCU. Ada juga pasien yang pulang dan pasien baru yang datang kemarin malam. Selesai operan, kita berdua langsung bertugas untuk mengecek TTV. Kita bagi dua, jadi masing-masing menegcek 3 pasien tapi kita datang ke pasien barengan. Jadi ketika Indah ngecek TTV, saya ngajak ngobrol pasien dan keluarga sambil mencatat hasilnya. Sebaliknya, kalau saya yang sedang ngecek TTV, Indah yang mencatat dan berkomunikasi dengan pasien dan keluarga.

Setelah memindahkan dokumentasi TTV,  jam 4 sore waktunya memberi obat. Ketika memberi obat kita didampingi perawat penanggung jawab. Namanya Teh Dian, cantik, baik, ceria, komunikatif, dan perawat banget. Lagi hamil mau 8 bulan.

Saya sempat ngoplos obat dua kali, mematahkan ampul kecil dan ampul yang agak besar. Sempat ada aquabides yang tumpah karena saya terlalu kencang menarik spuit. Dan itu bikin suasana di ruangan jadi agak tegang. Tapi ketika memberikan obat melalui selang infus Alhamdulillah lancar, cuma harus dibiasakan ngoplos obat aja. Ada pasien yang diambil darah dan saya masih ngeri melihatnya, bukan darahnya yang bikin ngeri tapi suntikannya. Padahal saya biasa pakai jarum sehari-hari untuk pakai kerudung dan udah bisa menyuntikan jarum ke IV lewat selang. Tapi tetap saja membayangkan jarum memasuki pembuluh darah atau kulit atau otot itu masih terasa ngilu.

Setelah selesai memberi obat, ada pasien yang harus kita bawa ke ruang hemodialisa untuk cuci darah dan ada sampel darah yang harus diantarkan ke lab. Kita langsung bersemangat untuk mengantarkan kesana karena keluar ruangan ketika dinas itu rasanya legaaaaaaaaaaaaa banget. Pressure-nya itu kerasa berkurang.

Memasuki jam lima sore, makanan diantarkan oleh petugas dan ada satu pasien yang harus diberi insulin dulu sebelum makan. Indah semangat ingin mencoba memberikan suntik insulin, saya masih ngeri meskipun jarumnya cuma seuprit. Dan Alhamdulillah, Indah akhirnya berhasil mencoba suntik insulin. Kayaknya besok saya mau coba deh, Insya Allah.

Jam 6 sore kita istirahat. Semuanya sepakat untuk pergi keluar. Total yang dinas sore ada 6 orang. Djoko dan Puspa di wing 1, saya dan Indah di wing 2, Ais dan Syifa di wing 3. Kita kembali ke ruangan jam 7 malam, saya dan Indah hanya tahu agenda kita selanjutnya adalah mengambil sampel darah salah satu pasien dan menjemput pasien di ruang hemodialisa. Tapi ketika sampai di ruangan, ternyata ada pasien dying. Kita langsung ke kamar pasien.

Nafas pasien hanya ada sedikit-sedikit, jadi kita memompakan oksigen ke pasien. Ada dua perawat yang harus di dekat pasien, yang satu memegang cup di mulut pasien supaya tidak ada udara yang terbuang keluar, yang satu lagi memompa udara setiap pasien membuka mulutnya. Karena bantuan pompa nafas itu pasien masih bisa bertahan, nadinya masih ada meskipun tidak teraba ketika hendak ditensi.

Memompa dan memegang cup itu pegalnya luar biasa. Selama dua jam kita berenam ganti-gantian. Saya sempat gantian sampai lima kali dan bolak-balik ke base camp untuk minum dan meregangkan badan. Sekitar 20-an keluarga ada di ruangan ketika itu, ada yang menangis, membaca tahlil, membaca al-quran, dan kita tidak boleh terganggu dengan suara-suara itu.

Saya tetap bolak-balik ke kamar itu, sementara Indah bolak-balik ke kamar lain karena ada yang harus diambil darah, diganti infus, dan sebagainya. Mahasiswa lain, yang tidak ada tindakan di wing-nya membantu kita untuk memompa oksigen.

Menjelang jam 9 malam, perawat penanggung jawab dan dokter sudah menyampaikan kepada keluarga bahwa nafasnya sudah tidak ada,  tapi nadinya masih ada karena bantuan oksigen yang sedang dipompa oleh mahasiswa, pasiennya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Saya tahu maksud dokter adalah sekarang keputusan ada pada keluarga, meskipun kami sudah pegal-pegal pun kita tetap menunggu keputusan keluarga apa akan dipertahankan atau bagaimana.

Akhirnya ketika perawat dan dokter sudah keluar, salah satu keluarga yang berada di dekat pasien meminta kami untuk mencoba menghentikan pompa. Saat itu yang berada di dekat pasien adalah Indah dan Ais, saya dan Puspa stand by di belakang mereka. Dan ketika pompa dihentikan, nadi pasien menghilang sedikit demi sedikit dan saya langsung memanggil dokter dan perawat penanggung jawab.

Keluarga sudah mengikhlaskan, dokter sudah memutuskan, perawat sudah berjuang sampai akhir. Allah sudah berkehendak. Malam itu untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan pasien dying, merangkul istri pasien yang terisak.


Pulangnya saya dijemput A Heri, kakak kedua yang istrinya sedang hamil 37 minggu. Selama perjalanan bahkan setelah sampai rumah, saya masih merenungi proses tadi. Pengalaman spiritual semoga meningkatkan keimanan kita akan hari akhir. Amin.
Continue reading [CCSA] Fresia Hari Kedua
,

[CCSA] Fresia Hari Pertama

Ruang Fresia UPF Penyakit Dalam Kelas 2
Day 1
Rabu, 6 November 2013
07.00-14.00 WIB

Hari pertama dinas, saya berangkat dari Cimahi diantar oleh A Heri, kakak kedua. Agak nggak tenang sih soalnya kita berangkat jam 6 pagi, tapi ternyata perjalanan Cimahi-RSHS dengan keselowan A Heri menjalankan motor hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit.

Jam setengah tujuh saya sudah di Gedung Pendidikan RSHS, menunggu Puspa sampai jam 06.45 dan kita agak kesulitan menemukan ruang fresia. Berbekal tanya satpam, saya dan Puspa bisa sampai ruang fresia tepat waktu.

Bu Tati, pembimbing klinik (PK/CI) sekaligus kepala perawat di ruang fresia belum datang, jadi kami hanya bekerja biasa mengikuti ronde keperawatan, bed making, dan memberikan obat. Bed making-nya agak keteteran karena dilakukan dengan sangat cepat, saya sempat mencoba memberi obat dengan mematahkan ampul dan memasukan obatnya melalui selang infus. Lumayan.

Setelah Bu Tati datang kita diorientasi ruangan terlebih dahulu, membagi wing dan shift. Saya mendapat pasien di kamar nomor 5-9, setiap kamar ada dua bed tapi hari itu bed yang terisi hanya 7 bed. Saya bertugas bareng Indah, Nurul, dan Kang Ridho. Kebayang kalau tidak ada mahasiswa praktek, satu perawat harus mengurusi sepuluh pasien. Huwah.

Ketika kita masih orientasi ruangan, Bu Bela yang menjadi pembimbing akademik di ruang fresia, datang dan mendampingi kami untuk menemui pasien. Ada pasien yang memakai CTT dan WSD, ada yang nunggu kemoterapi, ada yang baru dikemo pertama kali dan sudah tiga minggu ada disana, ada yang bercerita kalau dia termotivasi dengan sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan (SKUT), macam-macam. Setelah semua bed dikunjungi kami langsung dituntut untuk melakukan pengkajian dan periksa TTV (tanda-tanda vital). Karena tidak ada yang berani melakukannya pertama kali, saya akhirnya mengangkat tangan dan bersedia jadi orang pertama yang melakukan pengkajian ke pasien. Tumbal.

Komunikasi saya tidak terlalu jelek, tapi saya masih tidak terbiasa mendengarkan nadi pakai stetoskop. Kalau mengukur TD, saya biasanya pakai nadi yang di pergelangan tangan, sebenarnya nggak salah tapi lebih bagus di lipatan siku yang kita pasang spigno supaya memastikan spigno itu berjalan dengan baik. Saya juga belum bisa mendengarkan suara nafas pasien dengan benar dan failed ketika menghitung suara bising usus. Stetoskop pun bolak-balik dipakai karena selalu ada yang kelupaan diperiksa. Ketika mengecek refleks tendon pakai hammer pun saya sempat kesulitan karena tidak menemukan tempat yang pas. Dan kesalahan lain adalah kebiasaan saya mengusap wajah sendiri ketika mengobrol itu tidak boleh dilakukan ketika pengkajian karena itu sama saja memindahkan bakteri yang ada di kulit kita ke kulit pasien. Duhh.
Secara keseluruhan lumayan lah untuk pengkajian pertama kali.

Karena ruangan yang saya tempati adalah ruangan penyakit dalam, maka kebanyakan pasien disana adalah pasien kanker. Macam-macam sebenarnya, Ca Colon, Ca Paru, GGK, DM, MM. pasien yang saya kaji mengalami MM (Multiple Myeloma). Sepulangnya dari RSHS saya langsung mencari Askep MM.

Selesai dinas saya langsung menuju perpustakaan di Gedung Pendidikan karena harus menyelesaikan proposal skripsi pada bulan ini. Secara kebetulan saya bertemu dengan A Indra, kakak ipar yang rumahnya saya tinggali selama saya di Cicalengka. Dia sedang kuliah S2 di Kedokteran dan sedang mengerjakan tesisnya.


Selesai di perpustakaan jam 4 karena perpus mau tutup. Saya langsung pergi ke Dago, kunjungan ke D3 FISIP dan pulang diantar oleh Riri, junior saya yang kuliah di FEB, sambil membicarakan langit hitam yang hanya menghadirkan bulan dan satu bintang.
Continue reading [CCSA] Fresia Hari Pertama
,

[CCSA] Angkat Janji dan Orientasi

Gedung Pendidikan RSHS
Jumat, 1 November 2013
07.00-14.00

Perjalanan …

Pagi itu saya janjian dengan Wasilah, Ketua BEM Fkep Unpad 2013, untuk pergi angkat janji CCSA jam tujuh pagi di Eyckman. Wasil berangkat dari rumahnya di Rancaekek, saya berangkat dari kosan di Jatinangor. Jam lima pagi saya sudah selesai mandi dan langsung pergi ke Cileunyi, menunggu Wasil. Jam setengah enam Wasil ngasih tahu kalau dia sedang janjian dulu dengan temannya Sinta untuk membawakan name tag Sinta dan Tsaalits yang tertinggal di Rancaekek sementara mereka berdua sendiri sudah di Bandung. Akhirnya saya menunggu Wasil dan itu berasa lamaaaaaaa banget.

Entah apa yang terjadi, mereka salah janjian tempat atau bagaimana, intinya mereka baru bertemu jam enam pagi dan saya baru bertemu Wasil jam 06.10 WIB.

06.15: Tegang, tentu saja. Senior kita teh Suci, telat angkat janji 20 menit karena sakit lalu dia tidak boleh ikut CCSA tahun kemarin dan harus mengulang tahun ini. Dosen CCSA, Bu Bella pun sudah mewanti-wanti kita agar jangan terlambat angkat janji apapun alasannya. Dan membayangkan jalanan Bandung yang macet di pagi hari itu …. Hahh.

06.20: Pagi itu Wasil ngebut sengebut-ngebutnya, saya baru sadar kalau ternyata Wasil bisa juga ngebut seperti itu karena selama ini biasanya dia menjalankan motor dengan santai. Saya yang pagi itu perutnya baru terisi susu ultra langsung dungdeng dan serasa mau terbang.

06.30: Jam setengah tujuh kita masih di Ujung Berung dan itu pun dengan jalanan yang tersendat-sendat. Saya langsung menghubungi Nabila dan Asri untuk mengkonfirmasi kalau kita masih di perjalanan. Horor.

06.40: Bangga juga sama Wasil, diantara pressure khawatir kesiangan dan sedang membonceng saya, dia masih bisa ngebut dengan sadar. Berkali-kali Wasil mengatakan kalau memang rezekinya CCSA tahun ini, insya Allah bisa sampai tepat waktu. Dan berkali-kali saya memberi sugesti kepada diri sendiri ‘tenang, ada Allah. tenang saja.’

Sehari sebelumnya saya baru mengantarkan jenazah teman saya ke Subang, beliau meninggal ketika naik motor di Panyileukan, lalu pagi itu saya malah langsung kebut-ngebutan. Terbayang hal-hal terburuk yang mungkin bisa terjadi, salah satunya ditilang polisi dan perjalanan semakin lama. Kita nggak ada waktu buat ditilang polisi, salah belok, jatuh dari motor, kesenggol, ngedengerin omelan tukang angkot, habis bensin, apapun. Tapi pagi itu perasaan saya penuh dengan rasa percaya bahwa kita akan selamat dan tepat waktu sampai di Eyckman.

Jam 06.50: Akhirnya saya melihat jalan layang. Sebelumnya kita sempat tersendat lamaaaa dengan motor yang membanjiri jalanan, entah jalan apa namanya. Ketika itu penunjuk waktu diantara arloji Wasil, ponsel Wasil, dan ponsel saya berbeda. Ada yang menunjukan jam 7 tepat, jam 7 lebih, ada yang jam 7 kurang 2 menit. Saya langsung menghubungi Hanna dan menanyakan keadaan disana, dia bilang Bu Bela belum datang dan anak-anak masih foto-foto. Syukurlah.

Jam 06.55: Perjalanan lancar selancar-lancarnya. Kita memasuki Jl. Prof. Eyckman yang saat itu sedang diperbaiki sehingga kecepatan Wasil yang masih ekstra membuat kita terguncang-guncang dengan keras. Dinny menelepon tepat saat kita mau masuk gerbang Gedung Pendidikan, ketika Wasil menanyakan siapa yang menelepon hampiiiir saja kita menabrak trotoar sampai Wasil harus spontan membelokan motornya dan saya oleng karena fokus ke telepon. Tapi kita sampai di parkiran dengan selamat, bertemu dengan Tian yang pagi itu juga hampir kesiangan.

06.58: Kita tertawa puas di parkiran. Menertawakan perjalanan pagi itu. Berlari-lari menuju lantai 6 dan bergabung dengan teman-teman lainnya. Sebagian dari mereka yang tahu kalau kita hampir kesiangan memeluk saya dan bersyukur saya sudah datang tepat sebelum kita diminta masuk ruangan. Bahkan Sinta sampai minta maaf karena merasa bersalah.

Tenang, ada Allah.

Angkat Janji …
MC                                                         : Chika 2011
Pembaca Ayat Suci Al Quran       : M. Zaenudin Wasilah
Pembaca Janji                                   : Agustian Barkah Juanda
Wakil Penanda Tangan                  : Dina Sonya dan Aditya Bayu Kusuma
Sambutan                                           : Kusman Ibrahim, Ph.D dan Direktur RSHS Bagian SDM
Pembaca Doa                                    : Rossi Akbar

Ada sepuluh janji yang kita ucapkan, diantaranya akan menghormati pembimbing, CI, perawat ruangan, pasien, dll, akan menjaga kerahasiaan pasien, akan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya, akan taat peraturan instansi tempat praktek, dan sebagainya. Pak direktur, yang juga dokter spesialis ortopedik, menyampaikan tentang pentingnya pendidikan tinggi dalam profesi keperawatan, bahkan menjadi seorang spesialis keperawatan. Beliau juga menjelaskan mengenai RSHS secara umum dan meminta maaf karena direktur utama berhalangan untuk hadir. Angkat janji tersebut selesai sekitar jam 10 dan ditutup dengan lagu Oleh-oleh Bandung oleh PSM Fkep Unpad.

Selesai angkat janji saya baru sadar bahwa ada satu orang di angkatan kita yang tidak hadir hari itu, Brigita Puspa Juwita, katanya dia tidak diizinkan mengikuti CCSA karena dia tidak mengikuti ujian pra-CCSA, padahal dia tidak ikut ujian karena sedang sakit dan sudah memberikan surat sakit tapi dia tetap harus mengulang tahun depan. Horor ya.

Orientasi …
Ada tiga materi yang disampaikan hari itu, tentang Standar Akreditasi Internasional, Profil RSHS, dan Universal Precaution. Kita diajarkan cara komunikasi efektif ke pasien, cuci tangan yang sudah berubah jadi 6 langkah, penyakit-penyakit yang bisa menularkan infeksi, sejarah RSHS yang dulu bernama Rumah Sakit Rancabadak dan informasi bahwa RSHS adalah pusat rujukan se-Jawa Barat dan yang bisa dirujuk kesana pun hanya yang tingkat keparahannya sudah di grade 3-5. Dari 3000 perawat yang tersedia, RSHS rata-rata menerima pasien 25.000 orang per hari. Huoooooohhh.

Setelah istirahat untuk sholat zuhur dan sholat jumat untuk laki-laki, kita diajak berkeliling ruangan. Hanya sedikit ruangan yang kami kunjungi karena keadaan RSHS yang penuh orang berlalu lalang dan RSHS yang luuaaaaaass banget. Saya pernah bermalam di RSHS ketika sepupu saya, Teh Yomi, dirawat di ruang HCU Kemuning karena komplikasi persalinan. Pertama kali ke RSHS pun ketika SMP, menengok senior yang kecelakaan motor dan diamputasi. Dan saya sering sekali tersesat di RSHS.

Orientasi selesai sekitar jam 2, lalu kita foto angkatan dan haha hihi dulu. Tegang sekaligus excited menjalani mata kuliah ini.


Sepulangnya dari RSHS, saya langsung menuju Jl. Singaperbangsa untuk mengikuti kunjungan ke D3 MIPA dan pulangnya dijemput oleh Dhya, sahabat saya yang tinggal di Katapang. Menikmati perjalanan dan kehidupan.
Continue reading [CCSA] Angkat Janji dan Orientasi

05 October 2013

All Video About BPJS Kesehatan (Mendadak KTI)

Executive Forum BPJS
http://www.youtube.com/watch?v=SZYbqak-L9U

Resume Seminar Jaminan Sosial di Sumbawa
http://www.youtube.com/watch?v=mY9HKcWJyMk

Jamkesmas 2012 dan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan
http://www.youtube.com/watch?v=S1tH4fIivpM

Dialektika Demokrasi "Tolak KJS dan Nasib BPJS"
http://www.youtube.com/watch?v=KQv2EwSaV-M


dan lain-lain. kalo udah buka satu video kayaknya video yang lain bermunculan. saya udah ngantuk, waktu sudah menunjukan pukul 03.09 WIB. let's sleep, my dear.
Continue reading All Video About BPJS Kesehatan (Mendadak KTI)

13 September 2012

10 September 2012

13 June 2012

11 June 2012

Menghitung Angka Kelahiran Kasar, Kematian Kasar, Pertumbuhan Alami, dan Pertumbuhan Total

Jumlah penduduk pada tahun 2005, 200.000 jiwa, jumlah bayi 125, jumlah meninggal 95, imigrasi 75 dan emigrasi 63, hitunglah angka kelahiran kasar, kematian kasar, pertumbuhan alami, pertumbuhan total, angka pertumbuhan, pertumbuhan pada tahun 2007!

Jawab:
Continue reading Menghitung Angka Kelahiran Kasar, Kematian Kasar, Pertumbuhan Alami, dan Pertumbuhan Total

Menghitung Harapan Hidup [www.news-medical.net]

Titik awal untuk menghitung harapan hidup adalah angka kematian usia tertentu dari anggota populasi. Sebuah model yang sangat sederhana dari usia kematian spesifik menggunakan fungsi Gompertz, meskipun hari ini metode yang lebih canggih yang digunakan.

Dalam kasus dimana jumlah data yang relatif kecil, metode yang paling umum adalah untuk menyesuaikan data ke rumus matematika, seperti perpanjangan dari fungsi Gompertz, atau untuk melihat di meja kematian ditetapkan sebelumnya diturunkan untuk populasi yang lebih besar dan membuat penyesuaian sederhana untuk itu (misalnya kalikan dengan faktor konstan) agar sesuai dengan data.

Dengan sejumlah besar data, satu melihat pada angka kematian sebenarnya mengalami pada usia masing-masing, dan berlaku smoothing (misalnya dengan splines kubik) untuk besi keluar setiap fluktuasi statistik tampaknya acak dari satu tahun usia ke yang berikutnya.
Continue reading Menghitung Harapan Hidup [www.news-medical.net]

Tingkat dan Bentuk Intervensi Keperawatan Komunitas

1. Tingkat pencegahan intervensi keperawatan meliputi:

Prevensi primer ditujukan bagi orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum menderita tetapi berpotensi untuk menderita DM. Perawat komunitas harus mengenalkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut. Sejak masa prasekolah hendaknya telah ditanamkan pengertian tentang pentingnya latihan jasmani teratur, pola dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan.
Continue reading Tingkat dan Bentuk Intervensi Keperawatan Komunitas

Keperawatan Komunitas: Demografi

Diambil dari makalah Ragil Setiyabudi, SKM


Contoh demografi ratio Polri dengan penduduk

A. Pengertian
Demografi berasal dari Bahasa Yunani
Demos : Rakyat
Grafein : Menulis
Demografi : Tulisan tulisan tentang rakyat/penduduk ( ilmu kependudukan)

Menurut Donald J Boque :
Ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk beserta perubahannya sepanjang masa, melalui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
Continue reading Keperawatan Komunitas: Demografi

05 May 2012

Individual English Writing Task


Name : Sarah Nurul Khotimah
ID Class : A
NPM : 220110100134

Case: Indonesian Nursing Act in Indonesia should incorporate the legal aspect for allowing nurses to prescribe medicines particularly for those who work in remote area

Essay:
Nursing is the most health professionals. However, nurses have a duty only upon the fulfillment of basic human needs. Nurses can’t deliver the drug as a means of healing.
In remote places, where the number of doctors are not balanced by the number of patients, the nurse to be confusing because if health professionals don’t provide assistance to people who are sick, it can be imprisoned.
Emergency situations often occur in areas where there is no doctor and patient referral process to the hospitas bercause of constrained geographical factors, cost, distance, and availability of transportation facilities, nursing had prosecuted like fruit simalakama of having to give drugs that included a list of G to save the patient. In facr, the Health Act does not allow it, but on the other hand, ehen the nurses left patients stranded snared law.
From this, we can realize that nurses in key positions in health service delivery to communities, so we need a clear regulation in regulating the provision of nursing care and legal protection were obtained by a nurse absolute. With the Nursing Practice Act, there will be a guarantee of quality and standards of practice, as well as legal protection for the giver and the recipient of nursing care. Currently the insistence of all elements of nursing Nursing Act will need to be higher. The above description illustrate just how important the Nursing Act is not just for nurses themselves, but also for the community as the recipient of nursing care.
Continue reading Individual English Writing Task

29 February 2012

28 February 2012

KEP: Definisi dan Etiologi (tugas kelompok, eh)

A. Pengertian

Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP.

Continue reading KEP: Definisi dan Etiologi (tugas kelompok, eh)