Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Showing posts with label Entertainment. Show all posts

28 January 2014

,

Memahami Perjalanan dan Teman Perjalanan

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Ayat di atas bukanlah dalil yang berhubungan dengan ide pluralisme agama. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Terlebih mengenai diciptakannya dua gender yang berbeda, laki-laki dan perempuan. Setelah tulisan ini dibuka dengan ayat al-quran, mari kita simak salah satu teori perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ada tiga teori yang dikenal mengenai perbedaan gender, yaitu teori nurture, nature, dan equil.

Teori nurture: adanya perbedaan perempuan dan laki-laki  adalah hasil  kontruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.

Teori nature: adanya perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima. Seperti perbedaan biologis dimana laki-laki dan perempuan memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Teori equil: adanya perbedaan karena biologis, naluri, dan sosial budaya. Juga memerlukan kerjasama saling melengkapi dalam kemitraan yang harmonis.

Siapapun bisa menginterpretasikan teori perbedaan laki-laki dan perempuan secara berbeda, tergantung dari suku, budaya, pola asuh, pelajaran, dan pengalaman yang didapatkan. Berbicara mengenai pengalaman, kita mengenal satu ungkapan ‘belajar dari pengalaman’. Pengalaman siapa? Bisa diri sendiri, orang terdekat, bahkan orang yang tidak dikenal, termasuk dari pengalaman yang diada-adakan seperti pengalaman para tokoh fiktif di film dan novel.

Saya ingin berbagi pengalaman yang saya pelajari dari pengalaman fiktif di film Seven Something, sebuah film dari Negara Thailand. Seven Something merupakan sebuah film omnibus yang berisi tiga cerita dari tiga suradara yang berbeda. Di Indonesia, tipe film omnibus bisa kita lihat di film Rectoverso. Arti dari judul film dan angka-angkanya tidak akan saya jelaskan disini karena panjangnya tulisan saya akan menjelaskan hal yang lain.

Cerita dibuka dengan “14” dengan cerita Puan dan Milk. Puan adalah seorang remaja lelaki yang freak terhadap media sosial. Ketika akhirnya dia dekat dengan Milk, maka setiap momen yang mereka alami akan Puan bagikan di media sosial. Mungkin sekedar mengubah status facebook menjadi in relationship masih dianggap wajar tapi bagaimana jika pasanganmu merekam setiap kejadian termasuk hal memalukan, membagikan video obrolan skype di youtube, mendiskusikan tempat kencan di twitter, dan membuat status di facebook setiap kali mereka ada masalah.

Klimaks dari cerita ini adalah ketika Puan membagikan video Milk sedang menyanyi untuknya lewat skype. Saat itu Milk sedang di kamarnya dengan pakaian rumah yang apa adanya. Ketika keesokan harinya sekolah heboh dengan video tersebut dengan penonton yang sudah jutaan, Milk mengeceknya dan melihat komentar macam-macam mengenai dirinya, termasuk pakaiannya yang tidak pantas.

“Saya ingin kamu menghapus video itu.” Kata Milk.

“Tapi kenapa? Penontonnya sudah jutaan. Itu berarti orang-orang suka menontonnya.”

Drama pertengkaran pun terjadi sampai Puan berkonsultasi kepada para pengguna internet (netizen) mengenai apa yang harus dia lakukan. Ketika ada seorang netizen yang menyarankan bahwa Puan harus datang ke rumah Milk dan meminta maaf, Puan mendatanginya.

“Kenapa harus meminta saran kepada publik apa yang harus kamu lakukan?” Tanya Milk. “Kamu tidak butuh saya. Masih banyak jutaan pengguna media sosial yang peduli dengan kamu.”

Sampai disini coba kita perhatikan bahwa akar masalahnya hanyalah media sosial. Puan tidak mengerti kenapa Milk harus marah ketika video dirinya dibagikan di Youtube. Milk tidak mengerti kenapa Puan harus melakukan itu. Bahkan akhir cerita ini ditutup dengan Puan membuat sebuah permintaan maaf dan ungkapan perasaannya yang dia bagikan di Youtube. Disini saya tahu bahwa dengan kegilaan Puan terhadap media sosial, bukan hanya wanita yang ingin dimengerti tapi juga laki-laki. Karena kesimpulannya adalah Puan tidak bisa menghentikan candunya terhadap media sosial.

Berbeda dengan cerita kedua yaitu “21/28”. Cerita yang menggunakan alur maju-mundur ini, menunjukan bahwa wanitanya yang harus dimengerti. Dalam arti tidak bisa menjadi pengalah dalam masalah. Bercerita tentang Jon dan Mam, Jon yang merupakan fans Mam mengikuti casting dan bermain film dengan Mam. Sampai akhirnya mereka berdua membintangi film yang sama, sukses, terkenal, terkena cinta lokasi, dan hidup bersama.

Mam berambisi menjadi bintang film. Jon tidak. Baginya satu kali bermain film dengan Mam dan bisa hidup bersama dengannya sudah cukup. Tapi Mam selalu menerima film apapun yang datang kepadanya, termasuk film yang sebenarnya tidak pantas. Ketika dalam suatu perhelatan, Jon menerima award dan dalam ucapan persembahannya dia mengatakan bahwa Mam, yang dulu dia kenal sebagai wanita baik telah berubah menjadi wanita murahan.

Drama pertengkaran pun (kembali) terjadi. Mereka berpisah selama 7 tahun. Jon menjadi seorang ahli biota laut, sementara karir Mam semakin terpuruk. Ketika ada kabar bahwa film yang dulu mereka bintangi akan dibuat sekuel, Mam bersemangat untuk mencari Jon karena dia tahu ini kesempatannya untuk mengembalikan karirnya yang hilang.

Disinilah konfliknya, ketika Mam mendesak Jon untuk mau kembali berakting dengannya tapi Jon menolak. Baginya dunia keartisanlah yang membuat Mam berubah dan mengubah perasaan Jon, membuatnya jatuh cinta secara cepat dan membenci secara cepat pula.

“Aku tidak mau main film lagi denganmu karena aku tidak mau jatuh cinta lagi kepadamu.”
Tapi Mam tidak peduli. Dia hanya peduli dengan karirnya. Akhirnya Mam pun berusaha dengan semua cara yang bisa dia lakukan tapi karena tidak ada progress dari Mam dan Jun, pembuat film tersebut akhirnya menerima artis pemeran utama melalui casting.

Meski cerita “14” dan “21/28” sama-sama bercerita mengenai ambisi seseorang dan penolakan pasangannya terhadap ambisinya itu, namun cerita “21/28” menunjukan bahwa orang dewasa lebih mudah memahami masalah dan mengalah karena di akhir cerita ketika Mam mengamuk di depan Jon, ada satu kalimat dari Jon yang membuat Mam tersenyum dan terlihat menerima.

Cerita terakhir adalah “42.195”. Mengenai perumpamaan hidup yang diibaratkan seperti berlari maraton. Seorang wanita muda bernama She ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat dan dia sampai di titik ingin ‘lari dari kenyataan’. Akhirnya dia berlari dalam arti sebenarnya. Jogging.Dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang lelaki bernama He, berkenalan, berbincang, lalu mengajaknya untuk ikut lomba lari maraton tanpa mengerti bahwa maksud perkataan She bahwa dia ‘ingin berlari’ adalah lari dari nasibnya yang tidak baik.

Di cerita ini saya mulai memahami bahwa ketika kita berlari, pertanyaan terbesarnya adalah bukan sekedar ‘kamu lari dari apa’ tapi ‘kamu mau berlari kemana, sampai kapan, berapa lama’. Dan dalam cerita tersebut He memberikan garis finish-nya kepada She.

“Kamu akan berlari sampai garis finish.”

Titik-titik penting kehidupan manusia ibarat tanda kilometer yang kita temui ketika kita berlari maraton. Bahkan diceritakan bahwa He selalu mendengar pikiran-pikiran yang menyuruhnya menyerah ketika di KM tertentu, beberapa meter sebelum garis finish. Sama seperti ungkapan ‘Ketika kamu menyerah di percobaan yang ke-99, mungkin sebenarnya kamu akan sukses di percobaan yang ke-100’. Seperti Edison.

Bukankah hidup memang seperti itu. Sebuah perjalanan panjang dimana kita tahu bahwa kita memiliki garis finish. Sebutlah capaian atau targetan yang kita inginkan dan terkadang apa yang kita cari kita temukan dalam perjalanan, bukan tujuan. Seperti She yang merasa tenang ketika melihat matahari terbit ketika berlari di lomba maraton. Hal lain yang lebih keren dari cerita ini adalah tidak seberapa penting apakah kamu sampai di garis finish lebih cepat atau lebih lama. Kapanpun kamu sampai di garis finish, kamu adalah juara, dan akan ada yang mengalungkan medali ketika kamu sampai di garis finish. Jadi jika peserta lomba lari ada 1000 orang, maka ada 1000 medali yang siap dikalungkan.

Dua hal yang saya pelajari dari ketiga cerita ini yaitu mengenai perjalanan dimana kita tahu ada titik-titik kilometer yang kita perhatikan. Sudah berapa kilometer ini? Masih lamakah? Apakah saya bisa mencapai garis finish? Mungkin bisa jika saya terus bergerak. Tapi mungkin saya bisa menyerah saat ini juga. Seberapa berharganya mencapai garis finish sehingga saya harus kelelahan untuk mencapainya? Itulah hidup.  Kumpulan pertanyaan. Bukankah Allah menyuruh kita berfikir?



Hal lain yang saya pelajari adalah mengenai teman perjalanan dimana kita ditakdirkan untuk bertemu seseorang yang Allah titipkan untuk saling mengenal dan menjadikannya mulia karena taqwa. Akan banyak pertanyaan tentang manusia yang ada di hadapan kita. Apa maunya dia? Kenapa dia melakukan itu? Tidakkah dia mengerti? Mungkin seharusnya saya bisa mengingatkannya dengan lebih baik. Tapi mungkin saya bisa memilih berpisah saat ini juga. Seberapa berharganya orang ini sampai saya harus kesulitan memahaminya. Itulah pasangan. Saling mempertanyakan. Bukankah Allah menyuruh kita saling mengenal?
Continue reading Memahami Perjalanan dan Teman Perjalanan

16 November 2013

, , , ,

Keep Your Eyes Open and Just Close Your Eyes

Saya ingin berbicara tentang dua lagu Taylor Swift yang menjadi soundtrack film Hunger Games. By the way, seminggu lagi Hunger Games 2: Catching Fire mau rilis. Yeay.

Sambil mendengarkan lagu acapella gubahan Mike Tompkins, saya baca-baca tulisan lawas saya di blogspot. Dan, nge-blog adalah godaan terkuat ketika mengerjakan skripsi. Oke, kembali ke lagu Taylor, di lagu pertama yang berjudul Eyes Open. Ada lirik yang berbunyi, keep your eyes open ... kalimat yang meminta kita untuk tetap bertahan membuka mata atas kejadian yang mungkin terjadi. Sementara di soundtrack lain yang berjudul Safe and Sound (apa kebalik ya) ada lirik yang berbunyi, just close your eyes ... seolah meminta kita pasrah menutup mata pada keadaan yang tengah terjadi.

Kedua lirik dalam dua soundtrack Hunger Games ini seolah selaras dengan balasan saya ke twitter @mizanmediautama ketika dia bertanya ceritakan pengalaman inspiratif apa yang membuat kalian sadar bahwa hidup ini indah. Lalu saya menjawab ...




Ya, saya sedang mendalami proses spiritual dalam kelahiran (hidup) dan kematian. Lirik keep your eyes open (tentang bertahan dalam kehidupan) dan lirik just close your eyes (tentang menyerah dalam kematian) kembali menjadi pemicu insprasi saya untuk membuat cerita mengenai kehidupan dan kematian. Apa yang membuat kita merasa usefull untuk tetap bertahan hidup dan apa yang membuat kita bisa merasa berserah bahwa kematian akan menjadi akhir perjalanan kita di dunia.

Jadi begini, setelah menyelesaikan novel 'Spasi', saya berencana membuat novel yang berjudul 'Insting'. Berbeda dengan 'Spasi' yang mengharuskan saya mengambil tema 'Passion', novel 'Insting' ini bertemakan 'Pulang', termasuk pulang kembali ke dalam ketiadaan atau mati. Rencananya (yeah, ini memang baru wacana), tokoh di dalam novel 'Insting' sama dengan tokoh dalam novel 'Spasi'. Sambil praktek di RSHS, saya sambil mempelajari proses lost and grief orang-orang terhadap kematian.

Semoga saya masih bisa menulis novel ^_^

By the way, nge-blog dan menceritakan tentang proyek novel itu benar-benar godaan ketika menulis skripsi.

Continue reading Keep Your Eyes Open and Just Close Your Eyes

30 July 2012

04 July 2012

, ,

"Angsa dan Serigala" Keluar Kandang

Kembali ke berbulan-bulan lalu di akhir tahun 2011. Ketika BEM Kema Unpad mengadakan Buper (Bumi Pagelaran) Unpad 2011. Banyak bintang tamu yang tampil, yang paling banyak penontonnya adalah saat Saman Geologi yang menyebut diri mereka Gigolos itu tampil. Saya suka saman ini, lucu aja, tapi bukan cuma Gigolos yang saya sukai tampilannya, saya juga suka Karinding Merinding (apa Karinding Attack ya?) pokoknya Karinding dari FISIP Unpad lah. Karena memang Karinding di Unpad itu ada banyak.

Puncak para bintang tamu, di tengah malam, ada Angsa dan Serigala. Awalnya saya bertanya-tanya, saya kira ada semacam kabaret fabel di Buper, tapi ternyata Angsa dan Serigala ini adalah sebuah band dari FISIP Unpad. Orang bilang, ini band banyak fansnya di Unpad dan bahkan Bandung. Ah, masa iya, kok saya ga tahu. Sebenarnya saat itu penasaran dengan Angsa dan Serigala Band, tapi karena mereka tampilnya larut malam banget, jadi saya milih diam di Sekre BEM karena males berkeliaran malam-malam di luar.


Dan hari ini, saat saya nonton AMI (Anugerah Musik Indonesia), ada nominasi pendatang baru terbaik. Nominasi yang pertama disebutkan adalah Angsa dan Serigala, saya langsung bergumam berkali-kali. Angsa dan Serigala? Perasaan pernah denger. Dimana ya?

Akhirnya searching di google dan mendapatkan arsip mengenai Fornas Unpad 2011 yang penutupannya dilaksanakan saat Buper Unpad 2011. Ingatlah saya bahwa Angsa dan Serigala adalah band yang digadang-gadang bintang tamu paling mahal di Buper Unpad 2011. Dan sekarang mereka sudah dikenal di industri musik ibukota. Congrats.

Buat yang ga tahu siapa Angsa dan Serigala, saya merekomendasikan untuk baca wawancara yang di Formagz. Soalnya lucu abis. Diklik aja, Angsa dan Serigala; Menyatukan Sesuatu yang Berbeda. Disana dijelaskan, alasan band yang terbentuk tahun 2008 ini memberi nama Angsa dan Serigala pada band mereka, lalu aliran musik mereka, influence mereka, dan macam-macam lagi.

Yo wis lah, saya hanya ingin berbagi ini saja sebelum lupa dan malas. Sekarang saya harus melanjutkan belajar karena besok ujian CNP. Wish me luck.

Salah satu video Angsa dan Serigala - Hitam dan Putih
Continue reading "Angsa dan Serigala" Keluar Kandang

01 July 2012

, , ,

Nikita - Maggie Q, Obrolan di Tronton

Berawal dari obrolan mengenai novel-novel Dan Brown, Sarita yang suka kemakan sama omongan saya tiba-tiba jadi menyukai segala hal yang menyangkut konspirasi, termasuk freemason, illuminati, dan sejenisnya. Saya yang memang kerjaannya kebanyakan baca dan nonton, jadi agak tahu lebih banyak mengenai hal itu. Dan Sarita nagih cerita lebih banyak.

Ketika perjalanan menuju Ciwidey, acara LDKO, saya dan Sarita kebetulan satu mobil. Satu tronton. Saya duduk diantara Ikhwan dan Sarita. Tidak ada lagi yang bisa diceritakan. Semua yang saya tahu mengenai novel dan Brown, mengenai konspirasi Yahudi, mengenai jejak Freemason di Indonesia, semuanya sudah saya ceritakan. Akhirnya saya ceritakan mengenai Hunger Games dan Battle Royale (bosan memang, di blog aja udah sering). Ikhwan yang tadinya setengah tidur tiba-tiba ikutan nimbrung. Jadilah kita ngobrolin film-film yang kita suka. Dari obrolan itu, saya dapat 1 novel dan 1 TV series yang akan saya cari. Sekuel novel immortal dan TV series Nikita.

Di perpustakaan baca Buku saya sudah menemukan sekuel novel Immrotal, tapi belum saya pinjam karena saya sedang menamatkan buku lain. dan TV series Nikita sudah saya dapatkan dari Ikhwan, tapi belum saya tonton. Sibuk.

Ini dia para pemeran di TV series Nikita.


Jadi ingat ketika saya ngekopi ini TV Series di gazebo. Ria tiba-tiba nyamperin dengan keingintahuannya yang biasa.

"Ngekopi film apa?"

Ingin rasanya bilang lihat aja sendiri. Haha. Akhirnya saya iseng bilang, "Film Nikita. Nikita Mirzani."

Wew, semoga dia ga tahu kalau Nikita Mirzani adalah pemeran film Nenek Gayung.

"Film apa itu?"

"Bukan, deng, film Nikita. Nikita doang, ga pake Mirzani, ataupun Willy."

"Pasti bukan tontonan Iya." Kata Ria.

Ya, siapa peduli. Saya ini yang mau nonton. Karena diburu-buru oleh Ria, saya ngekopi TV Series itu hanya sebagian saja. Ya, nanti juga ketemu lagi sama Ikhwan.

Sampai akhirnya ketika di kosan Ria, dia penasaran dengan TV Series Nikita itu karena saya bilang ini film Hollywood cuma pemainnya setengah blasteran Amerika-Vietnam, artis Asia tapi juga main di film Mission Impossible III, betul ya?. Akhirnya dia nonton dan keesokan harinya dia terus-terusan nagih.

"Sar, mintain lanjutannya ke Ikhwan dong."

Ezzzzzz -_________-

Seperti biasa, ini trailernya ^_^
Continue reading Nikita - Maggie Q, Obrolan di Tronton

19 June 2012

, , , ,

Berbicara Tentang Cerpen "Peluk"

Dengan segala kejadian yang saya alami beberapa hari terakhir, mendadak saya teringat cerpen 'peluk' yang ditulis Dee di Rectoverso. Awalnya ini bukan cerpen favorit saya, saya lebih suka cerpen 'cicak di dinding' sampai memutar lagunya berulang kali. Cerpen 'peluk' rasanya terlalu berat buat saya, mungkin karena saya enggan memikirkan konteks 'berpisah' antara dua pasangan yang sudah berjanji sehidup semati.

Tapi hari ini saya bersahabat dengan cerpen 'peluk'. Awalnya saya merasa mellow abis, kenapa mau pisah saja minta dipeluk, bodoh. Tapi ini bukan tentang kecengengan, justru keberanian. Keberanian untuk mengakui bahwa berpisah adalah satu-satunya jalan yang harus dilalui.

Dan saya mengerti sekarang.

Peluk - Dee feat. Aqi Alexa download

menahun, ku tunggu kata-kata
yang merangkum semua
dan kini ku harap ku dimengerti
walau sekali saja pelukku

tiada yang tersembunyi
tak perlu mengingkari
rasa sakitmu
rasa sakitku

tiada lagi alasan
inilah kejujuran
pedih adanya
namun ini jawabnya

lepaskanku segenap jiwamu
tanpa harus ku berdusta
karena kaulah satu yang kusayang
dan tak layak kau didera

sadari diriku pun kan sendiri
di dini hari yang sepi
tetapi apalah arti bersama, berdua
namun semu semata

tiada yang terobati
di dalam peluk ini
tapi rasakan semua
sebelum kau kulepas selamanya

tak juga kupaksakan
setitik pengertian
bahwa ini adanya
cinta yang tak lagi sama

lepaskanku segenap jiwamu
tanpa harus ku berdusta
karena kaulah satu yang kusayang
dan tak layak kau didera

dan kini ku berharap ku dimengerti
walau sekali saja pelukku



Cerpen Peluk - Dee

Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini? Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.

Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah katapun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita berdua.

Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? Saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasehat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? Kemampuan kita berkata-kata menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. Aku ingin bilang, berbarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.

Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin kulupa caramu memandangku, dan tak mungkin kau lupa bagaimana semua ini bermula. Aneh. Pada saat kita hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.

Tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. Dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.

‘Habis ini, lalu apa? Kamu sendirian. Aku sendirian. Buat apa? Kenapa kita tidak berdua lagi saja?’

Suaramu pertama dalam setengah jam terakhir.

Mulutku refleks membuka, ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabannya. Aku tidak tahu sesudah ini lantas terjadi apa. Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.

Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukannya ketakutan akan sepi.

‘Apa artinya ‘cinta yang tidak lagi sama’ yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? Memang cinta itu ada berapa macam?’ tanyamu dengan nada meninggi. Air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. Entah berapa gelontor lagi yang bakal tiba. Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan katalog produk.

Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan berkata: ‘cukup.’ Dia yang berkata: ‘aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki.’

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.

Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.

Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apapun.

‘Kamu akan menyesal…’ gumammu lagi.

Mungkin. Kini kita tak mungkin tahu.

‘Enam tahun. Kita akan buang enam tahun itu begitu saja?’ Retoris dan getir, kamu bertanya.

Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.

‘Ngomong, dong!’ Tiba-tiba suaramu meledak murka.

Bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. Refleks yang tak kusangka akan muncul.

Tubuhmu berontak. Kurasakan amarahmu, sakitmu. Kupererat rengkuhanku. Tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. Wajahmu kau tarik menjauh. Segala macam cara kau kerahkan untuk bebas dari pelukanku. Namun aku bertahan.

Rasakan, bisikku dalam hati. Panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. Rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam. Begitu terbiasa kita memandangi taring-taring es itu hingga menjadi layaknya aksesoris ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan, kekeringan. Kamu tak layak didera. Kita tak layak disiksa.

Berangsur, tubuhmu tenang. Otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan lunglai pasrah dalam pelukanku. Kau mulai menangis. Aku mulai menangis. Lenganmu perlahan mendaki dan balik mendekapku. Kita resmi berpelukan.

Cukup lama tubuh kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir ke dalam darah kita masing-masing. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.

Hati-hati, lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tahu aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.

Aliran ini memecah. Indah. Meski aku berbalik pergi dan tak kembali.

Continue reading Berbicara Tentang Cerpen "Peluk"

17 June 2012

27 December 2011

, , ,

Review Film Hafalan Shalat Delisa



Bertemu lagi disekilas film, kali ini saya akan mencoba mereview atau menceritakan tentang film Hafalan Shalat Delisa yang tidak lain tidak bukan adalah cerita dari buku terlaris karya Tere Liye yang juga berjudul Hafalan Shalat Delisa. langsung saja ini dia ceritanya, lets cekedaut!

Film Hafalan Shalat Delisa merupakan film yang mengisahkan tentang tragedi tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Delisa yang terus berjuang untuk menghapalkan bacaan shalatnya walau bencana tsunami telah membuat delisa banyak merasakan kehilangan.
Continue reading Review Film Hafalan Shalat Delisa