Continue reading Sekuel Keenam (dan Ketujuh)
Showing posts with label Celotehan. Show all posts
Showing posts with label Celotehan. Show all posts
15 January 2016
04 January 2015
Kenalan Dulu
Ibu dua anak yang tinggal di Kota Depok sejak 2018. Selain menulis blog, saya juga aktif membuat konten di Instagram @zohrahs_, berjualan buku di @d.nurfam, dan menjadi admin Komunitas Parenting @lidzikriparents. Selamat membaca dan silakan dibagikan jika bermanfaat :).
03 January 2015
di satu persimpangan ....
Minggu, 4 Januari 2015.
Tulisan pertama di tahun 2015. Pret.
Sepertinya baru kemarin saya membuat jadwal persiapan untuk kuliah profesi Ners. Baru kemarin saya membeli buku-buku yang akan menunjang pembelajaran klinis. Dan, baru kemarin saya semangat mencari tahu kehidupan kuliah profesi. Ya, baru kemarin, rencana-rencana itu tersusun rapi.
Hari ini semuanya buyar. Ketika saya membuka web Indonesia Mengajar dan ternyata seleksi Pengajar Muda (PM) tahap pertama sudah dibuka. http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-i-pengajar-muda-a-4. Dari 10.555 pendaftar, hanya 309 orang yang lolos. Dan, saya lolos seleksi tahap pertama. Bangga, iya. Bingung, iya juga. Yang membuatnya menjadi membingungkan karena seleksi tahap kedua, Direct Assesment (DA), baru dilaksanakan tanggal 20 Januari dan hasilnya kemungkinan diumumkan di akhir Maret. Sementara saya harus membayar biaya kuliah profesi akhir Januari dan mulai kuliah bulan Februari.
Kalau daftar profesi, sudah pasti lulus, yang penting bayar. Sementara jadi PM? Yakin-yakin-enggak. Dari 309 orang yang lolos seleksi tahap pertama, kemungkinan yang lolos tahap kedua hanya 75 orang. Yang sebelumnya malah 55 orang. Pokoknya kurang dari 100 orang, deh.
Tiba-tiba hidup saya hanya menyajikan dua sisi koin. Lanjut mengikuti DA atau kuliah profesi dengan damai. Hasilnya jadi seperti berikut:
Kemungkinan Pertama:
-> Ikut DA
-> Nggak daftar profesi
-> Lolos jadi PM (Juni 2015-Juni 2016)
-> Daftar profesi Agustus 2016
-> Lulus profesi Agustus 2017
Kemungkinan Kedua:
-> Ikut DA
-> Nggak daftar profesi
-> Nggak lolos jadi PM
-> Daftar profesi Agustus 2015
-> Lulus profesi Agustus 2016
Tiba-tiba saya merasa tidak lolos jadi Pengajar Muda terlihat lebih baik. Tapi, jangan begitu lah, mengajar di pelosok adalah salah satu passion saya. Saya mengisi form pendaftaran dengan sungguh-sungguh.
Kemungkinan Ketiga:
-> Nggak ikut DA
-> Daftar profesi dengan damai
-> Daftar PM lagi tahun depan, Januari 2016
-> Lulus profesi Februari 2016
Kemungkinan Keempat
-> Ikut DA
-> Daftar profesi
-> Kalau lolos jadi PM bagaimana? Sudah daftar 4juta loh buat kuliah!
Dari semua kemungkinan itu, sepertinya kemungkinan kedua yang lebih aman. Jika akhirnya saya nggak lolos di DA, saya masih bisa daftar profesi pada bulan Agustus bareng Nabila. Tapi ... tiba-tiba saya berpikir kalau tidak lolos di tahap kedua ini dan menunda kuliah profesi, saya bisa memilih menjadi trainee di kantornya A Riki. Atau ...
Ah, apa-apaan ini. Rencana saya jadi amburadul.
Yang jelas besok saya ke kampus, isi formulir pendaftaran kuliah profesi. Tanggal 20 Januari saya ke Jakarta, ikut Direct Assessment. Dan, selanjutnya ... mari berdoa agar Allah memberikan hati yang lapang.
Tulisan pertama di tahun 2015. Pret.
Sepertinya baru kemarin saya membuat jadwal persiapan untuk kuliah profesi Ners. Baru kemarin saya membeli buku-buku yang akan menunjang pembelajaran klinis. Dan, baru kemarin saya semangat mencari tahu kehidupan kuliah profesi. Ya, baru kemarin, rencana-rencana itu tersusun rapi.
Hari ini semuanya buyar. Ketika saya membuka web Indonesia Mengajar dan ternyata seleksi Pengajar Muda (PM) tahap pertama sudah dibuka. http://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-i-pengajar-muda-a-4. Dari 10.555 pendaftar, hanya 309 orang yang lolos. Dan, saya lolos seleksi tahap pertama. Bangga, iya. Bingung, iya juga. Yang membuatnya menjadi membingungkan karena seleksi tahap kedua, Direct Assesment (DA), baru dilaksanakan tanggal 20 Januari dan hasilnya kemungkinan diumumkan di akhir Maret. Sementara saya harus membayar biaya kuliah profesi akhir Januari dan mulai kuliah bulan Februari.
Kalau daftar profesi, sudah pasti lulus, yang penting bayar. Sementara jadi PM? Yakin-yakin-enggak. Dari 309 orang yang lolos seleksi tahap pertama, kemungkinan yang lolos tahap kedua hanya 75 orang. Yang sebelumnya malah 55 orang. Pokoknya kurang dari 100 orang, deh.
Tiba-tiba hidup saya hanya menyajikan dua sisi koin. Lanjut mengikuti DA atau kuliah profesi dengan damai. Hasilnya jadi seperti berikut:
Kemungkinan Pertama:
-> Ikut DA
-> Nggak daftar profesi
-> Lolos jadi PM (Juni 2015-Juni 2016)
-> Daftar profesi Agustus 2016
-> Lulus profesi Agustus 2017
Kemungkinan Kedua:
-> Ikut DA
-> Nggak daftar profesi
-> Nggak lolos jadi PM
-> Daftar profesi Agustus 2015
-> Lulus profesi Agustus 2016
Tiba-tiba saya merasa tidak lolos jadi Pengajar Muda terlihat lebih baik. Tapi, jangan begitu lah, mengajar di pelosok adalah salah satu passion saya. Saya mengisi form pendaftaran dengan sungguh-sungguh.
Kemungkinan Ketiga:
-> Nggak ikut DA
-> Daftar profesi dengan damai
-> Daftar PM lagi tahun depan, Januari 2016
-> Lulus profesi Februari 2016
Kemungkinan Keempat
-> Ikut DA
-> Daftar profesi
-> Kalau lolos jadi PM bagaimana? Sudah daftar 4juta loh buat kuliah!
Dari semua kemungkinan itu, sepertinya kemungkinan kedua yang lebih aman. Jika akhirnya saya nggak lolos di DA, saya masih bisa daftar profesi pada bulan Agustus bareng Nabila. Tapi ... tiba-tiba saya berpikir kalau tidak lolos di tahap kedua ini dan menunda kuliah profesi, saya bisa memilih menjadi trainee di kantornya A Riki. Atau ...
Ah, apa-apaan ini. Rencana saya jadi amburadul.
Yang jelas besok saya ke kampus, isi formulir pendaftaran kuliah profesi. Tanggal 20 Januari saya ke Jakarta, ikut Direct Assessment. Dan, selanjutnya ... mari berdoa agar Allah memberikan hati yang lapang.
23 October 2014
Pengalaman dengan Mimpi
Setahun terakhir aku mengendalikan mimpi. Bukan daydream, tapi dream when we're sleeping. Mimpi secara sadar. Ini serius karena aku tidak pandai melawak. Bagi mereka yang menekuni dunia kreatif, seni, dan imajinasi, aku tidak heran jika mereka punya pengalaman dengan mimpi. Konon Stephanie Mayer membuat novel fantasinya karena sebuah alam pikirannya dalam mimpi. Jangan kaget, toh mimpi juga hasil kerja otak. Alam pikiran dihasilkan oleh gelombang otak dan gelombang otak memiliki beberapa tingkatan. Gelombang beta: waspada, konsentrasi. Gelombang alfa: kreatifitas, relaksasi, visualisasi. Gelombang tetha: relaksasi mendalam, meditasi, peningkatan memori. Gelombang delta: penyembuhan, tidur sangat nyenyak. Gelombang gamma: aktivitas mental yang sangat tinggi. Ada lagi yang lebih tinggi, hypergamma dan lambda. Menurut Dr, Jeffrey D. Thompson dari Center for Acoustic Research (di artikel lain dia dikatakan dari Neuroacoustic Research), gelombang hypergamma dan lambda berhubungan dengan kemampuan supranatural dan metafisika. Dia juga mengatakan bahwa ada frekuensi terendah di bawah delta, yaitu frekuensi epsilon yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang.
Maaf jika pembahasan di atas tidak menarik, aku memang baru
selesai membaca buku berjudul Gelombang. Dan mungkin pembahasan di bawah lebih
tidak menarik lagi untukmu. Aku sudah memberitahu.
Biarkan aku ceritakan dulu pengalaman mimpiku, yang sebagian besar
sudah kulupakan karena aku jarang menganggap mimpi-mimpi penghias tidur itu
penting. Ini pertama kalinya aku bercerita tujuh halaman A4 hanya mengenai mimpi, yeah, maksudku bunga
tidur.
Kita awali dengan ... darimana aku belajar berimajinasi.
Aku membaca buku cerita sendiri sejak umur 4 tahun. Senang
menonton teve, tentu saja. Bolak-balik ke perpustakaan yang terletak di kantor
guru. Karena bosan dengan buku cerita, umur segitu aku sudah baca novel.
Kebanyakan novel islami milik kakak dan kakak sepupu. Tapi sepertinya aku
pernah kecolongan baca novel berat, aku lupa novel apa, yang jelas isinya agak
roman. Ketika nonton film kartun pun kerjaanku memperhatikan dialog dan
menulisnya ulang. Untuk apa? Untuk aku baca ulang. Kebiasaan yang agak kurang
kerjaan memang. Lazimnya anak kecil, aku selalu main drama-dramaan dengan
kakakku. Teh Rahmi/Ami. Kadang adik bungsuku ikutan kalau sedang tak rewel.
Akhirnya jika aku dan teman-teman SD sedang bermain, aku selalu menjadi orang
yang mengatur drama-dramaan, siapa yang jadi siapa, ceritanya seperti apa.
Waktu itu aku sedang sering menonton film horor yang dibintangi Suzanna, jadi
kami pun sering bermain cerita horor. Cerita semacam sumur berdarah misalnya
karena SD kami dekat dengan sumur ...
Aku sudah menulis sejak SD. Maksudku mengarang-ngarang cerita.
Sampai habis tiga buku tulis. Semuanya bertema persahabatan karena saat itu aku
sering menonton Amigos. Karena aku dan Teh Ami pisah rumah ketika SD, aku
sering berkirim surat dan menceritakan pengalamanku. Beberapa kadang
diceritakan secara berlebihan. Selain itu, aku sering berangkat mengaji sambil
melamun. Percayalah, aku pendiam meski menurut teori aku ekstrovert. Dan pada
lamunan-lamunan itulah, mungkin lazimnya anak kecil seumuranku, aku menciptakan
teman imajiner yang aku sebut "Puteri Ahulmah". Bayangkan seorang
anak SD berangkat mengaji magrib dan pulang isya sambil ngobrol sendiri dalam
hati dengan teman imajinasinya. Makanya dari kecil aku tidak begitu takut gelap
dan terbiasa jalan sendiri. Juga ... bergumam sendiri, tentu saja. Maaf jika
ini terdengar aneh. Saat itu aku berpikir anak-anak lain juga pasti
melakukannya jika sedang sendirian.
Tentu saja jika sedang bermain aku menggunakan daya imajinasiku.
Kalian juga pasti begitu ketika kecil. Menganggap pohon adalah monster yang
menyamar. Rumah bisa bergerak dan berlayar seperti perahu. Bulan adalah
mata-mata yang menguping pembicaraanmu dengan teman imajinasimu. Lantai menjadi
sarang buaya yang tidak boleh diinjak. Hingga spiteng menjadi sudut penyelamat
ketika bermain penjahat-penjahatan di kamar mandi. Aku tidak tahu bahwa ketika
tidur dan bermimpi, otak masih bekerja seperti saat tersadar, bahkan lebih liar
karena gelombangnya melemah.
Pengalaman mimpiku yang kuingat adalah saat di Cicalengka, umuran
SD. Lupa persisnya kapan. Tapi pengalaman itu tidak akan pernah aku lupakan.
Mungkin ada pengalaman-pengalaman yang lain, tapi itu yang paling diingat. Aku
mengalami lucid dream,
mimpi sadar, sepertinya begitu. Mimpinya biasa saja, tidak seram, namun entah
kenapa aku sadar bahwa aku sedang bermimpi. Berkali-kali aku mengingatkan diri
sendiri bahwa terakhir kali yang terjadi padaku adalah aku tengah tertidur di
kursi ruang tamu dan kejadian yang sedang berlangsung ini tidak nyata. Aku
sedang bermimpi.
Saat itu aku berniat untuk bangun. Ini mimpi. Aku harus bangun.
Lalu aku merasa diriku terbangun dari tidur, bangun dari kursi, lalu menuju
pintu ruang tamu hendak keluar. Aneh, untuk apa aku ke pintu depan? Aku sedang
apa? Mau kemana? Sial. Aku masih dalam mimpi. Lalu aku menguatkan diriku
berkali-kali untuk bangun dan aku merasa diriku bangun, kembali berjalan. Kali
ini menuju jendela ruang tamu. Rasanya aneh. Payah. Aku masih bermimpi. Entah
berapa kali pola itu berulang, lima kali, mungkin enam. Sampai rasanya capek
dan kepalaku pusing. Aku tidak ingat saat itu bagaimana caranya aku terbangun.
Sepupuku pernah bercerita bahwa dia pernah merasakan, you know ... eureup-eureupan, itu semacam
ditindih bayangan hitam dalam mimpi dan membuat kita sesak dan sulit bangun.
Saat itu aku sedikit lega bahwa yang aku alami hanya 'susah bangun' ketika
sadar sedang bermimpi. Tidak ada itu si bayangan hitam.
Masih ketika umuran SD, ketika aku sedang ada di Garut, pagi-pagi
ibuku bercerita semalam aku sleep
walking. Tentu ibuku tidak pakai istilah itu, dia bilang aku 'ngalindur',
berjalan dari kamar ke ruang tamu dan memanggil-manggil sepupuku. Aku kira hal
itu wajar, ibuku juga tidak mempermasalahkannya, meski aku merasa agak ajaib
karena aku tidur sambil berjalan atau berjalan-jalan dalam tidur. Seharusnya
itu direkam. Aku ingin lihat. Karena kejadian lucid
dream dimana aku menghampiri
pintu keluar di ruang tamu dan juga sleep
walking dimana aku berjalan
ke pintu ruang tamu juga, aku punya kesimpulan asal, ternyata aku yang ada di
dalam mimpi adalah seorang anak yang menyimpan keinginan untuk keluar rumah.
Mungkin, itu hanya asumsiku.
Menjelang umur belasan, aku menghindari film horor karena hal itu
sangat mengganggu dalam mimpi. Kalian pasti sering mendengar bahwa orang yang
sudah menonton film horor selalu terbayang-bayang dalam mimpi. Atau kalian juga
sering mengalaminya? Maka bayangkanlah ketika seseorang yang suka berimajinasi
mendadak kepalanya penuh dengan hal-hal horor. Itu akan jadi teror. Ditambah
jika dalam mimpi itu tetap menjadi teror yang nyata. Aku pernah bermimpi
dikejar vampir China yang meloncat-loncat dan berlari mengelilingi rumah di
Cicalengka. Zaman saya SD film vampir China sering gentayangan di teve. Dalam
mimpiku aku ingat bahwa cara terjitu dikejar vampir adalah menahan nafas. Maka
aku menahan nafas, berlari, menahan nafas lagi, bertemu vampir, berlari lagi,
menahan nafas. Sampai akhir usahaku menahan nafas, aku ingat bahwa ini hanyalah
mimpi, seharusnya aku tidak mati dalam mimpi. Tapi aku lebih baik mati menahan
nafas dalam mimpi daripada mati digigit vampir dalam mimpi. Aku berpikir
setelah aku mati di dalam mimpi, aku pasti akan bangun karena cerita tamat.
Lantas aku terus menahan nafas sampai rasanya kepalaku pusing dan otakku
memberitahuku bahwa aku sedang benar-benar menahan nafas ... saat aku bangun
seketika aku langsung ngos-ngosan. Menyebalkan. Ngapain aku nahan nafas sebegini
lama ketika tidur.
Ternyata bukan hanya film horor yang seharusnya aku hindari, tapi
juga action. Entah sudah
berapa kali aku mimpi dikejar orang. Dari mulai dikejar penjahat sampai aku
yang menjadi penjahat. Seharusnya tidak secapek itu dikejar-kejar orang dalam
mimpi jika bukan karena semua emosi yang aku rasakan sangat jelas, bahkan semua
adegan, semua alur, semua figur mimpi. Rasa takut, cemas, marah, bingung,
sampai kehabisan nafas rasanya nyata. Sial. Bisa berimajinasi dengan detail
sangat berguna ketika menulis novel, tapi kalau sampai mimpi pun dibuat serasa
nyata itu sungguh sangat amat mengganggu. Sampai sekarang aku menonton film action hanya jika jalan ceritanya bagus, tapi
tetap saja rasanya ingin memprotes jika ada adegan kejar-kejaran. Harry Potter
dikejar pelahap maut. Katnis Everdeen dikejar pemain hunger games lainnya. Frodo dikejar anak buah
Sauron. Four dikejar mogadore. Trish dikejar anti-divergent. Jack Sparrow
dikejar Davy Jones.
Lalu siapa yang memburuku di alam mimpi? Imajinasiku sendiri. Kita
tahu bahwa mimpi adalah hasil dari gelombang otak (brainwave) dan gelombang otak itu tidak hanya menunjukan kondisi pikiran
dan tubuh seseorang, tetapi juga distimulasi oleh kondisi mental dan emosional.
Ketika tertidur dan bermimpi, yang bertanggung jawab mengatur gelombang otak
kita adalah gelombang alfa. Aku bisa mengingat mimpi-mimpiku karena kualitas
gelombang alfa yang baik. Trims, Alfa, tapi lain kali jika aku bermimpi buruk
segera buat aku lupa isi mimpi itu.
Hal paling menyebalkan ketika bermimpi adalah kamu sadar bahwa itu
mimpi tapi kamu tidak bisa bangun. Aku selalu khawatir tragedi 'susah bangun'
ketika aku SD kembali terulang. Maka aku selalu membiarkan adegan kejar-kejaran
di mimpi berlanjut daripada frustasi karena nggak bangun-bangun.
Ketika masuk pesantren aku jarang mengalami mimpi aneh. Mungkin
karena aku jarang ketiduran menjelang tidur panjang, yang mana jadi lupa berdoa
dan tak sempat wudhu. Mimpi-mimpi masih ada, tapi tak semengganggu ketika SD.
Hanya saja aku pernah mengalami kejadian aneh ketika tidur. Tepatnya ketiduran.
Saat itu Kamis malam, kami semua berkumpul di asrama bawah untuk menonton teve.
Setiap kamis sore sampai Jumat sore kami dikasih pinjam teve oleh ibu asrama.
Aku yang nggak kebagian tempat duduk nekat naik lemari, menyimpan kerudung di
sampingku untuk persiapan ke kamar mandi sebelum tidur. Aku tidak sadar kalau
aku ketiduran sampai keesokan harinya ketika bangun aku sudah ada di asrama
atas, dengan kasur lipat yang sudah jadi alas, bantal dan selimut, tak lupa
kerudungku tersimpan rapi di pinggir bantal. Lalu aku mendapat cerita dari
temanku bahwa semalam mati lampu dan seisi asrama bubar jalan dengan memakai
senter. Bagaimana ceritanya aku bisa turun dari lemari dan berpindah dari
asrama ke bawah ke asrama atas tidak ada yang tahu. Aku juga tidak tahu. Tidak
ingat. Kemungkinan logisnya satu, aku sleep
walking lagi.
Namun aku tidak pernah mengalami lucid
dream lagi. Aku juga hampir
menganggap mimpiku biasa saja. Mimpi horor dan kejar-kejaran sudah biasa.
Lagipula aku sudah terbiasa membaca doa sebelum tidur. Bukan doa pendek bismika allahuma ahya wa amut.
Aku membaca doa panjang yang diajarkan ketika di asrama, allahuma aslamtu nafsii ilaika, wa
wajjahtu wajhi ilaika, wa fawwadtu amri ilaika, wa alja'tu zahri ilaika,
rogbatan warohbatan ilaika, laa maljaa'a, walaa manja minka ila ilaika, aamantu
bikitaabikallazi anzalta wanabiyyika llazi arsalta. Tentu saja berdoa
sebelum tidur membuat kita lebih tenang, gelombang yang terpancar ketika kita
sedang mengantuk penuh dengan doa pengharapan.
Ketika memasuki masa aliyah tidak ada gangguan mimpi yang aku ingat. Hanya saja
ada mimpi bertemakan sama yang aku benci. Aku pernah pindah-pindah sekolah
ketika tahun 2007-2008. Dari Soreang, aku ke Tarogong, balik lagi ke Soreang,
lalu pindah lagi ke aliyah di Garut. Sejak saat itu aku sering bermimpi kembali
pada adegan dimana aku pindah sekolah lagi ke Soreang, berkali-kali mimpi itu
datang sejak aliyah, bahkan sampai aku masuk kuliah. Pernah aku bermimpi dimana
aku balik lagi sekolah ke Soreang dan aku merasa heran sendiri karena aku sudah
kuliah di Unpad. Akhirnya dalam mimpi tersebut aku sekolah lagi di Soreang
sekaligus jadi mahasiswa Unpad. Rasanya jengah.
Ternyata gelombang otak tidak hanya berfungsi menjadikan daya
imajinasku menjadi baik, tapi juga membuat otakku menyimpan emosi-emosi dalam
kenangan yang tidak aku suka. Lalu kenangan itu muncul dalam mimpi. Maaf, tapi
aku harus katakan bahwa itu menyebalkan.
Lantas bagaimana ketika aku kuliah? Mimpi-mimpi berpola kembali ke
masa lalu masih ada sampai aku kuliah. Sepertinya aku dihantui oleh rasa
bersalah pada masa laluku sendiri sehingga aku kembali lagi dan lagi kesana.
Hanya saja aku mulai tidak sadar bahwa aku sedang bermimpi.
Namun ada mimpi yang lebih mengganggu lagi dari sekedar kembali ke
masa lalu. Mimpi yang berisi emosi-emosi negatif selama aku di BEM. Puncaknya
adalah ketika aku sedang di Cicalengka, aku bermimpi bersama temanku di BEM dikejar orang dengan pistol. Aku mengenal
orang tersebut. Orang yang kehadirannya saja mampu membuatku ingin tenggelam menembus
lantai Sekre. Mungkin ini terdengar konyol, seharusnya ini mimpi biasa saja
karena aku sudah biasa mimpi dikejar orang. Tapi dalam mimpi itu aku begitu
takut dan panik sampai ketika terbangun aku menangis histeris. Sejak saat itu
aku merasa BEM bisa membuatku tidak waras.
Selama itu pula aku hampir mengalami sulit tidur. Bukan insomnia.
Hanya tidur yang kurang berkualitas. Aku masih bisa tidur tapi tidak bisa cepat
jika sebelumnya otakku baru saja bekerja maksimal. Misalnya baru mengurusi
Proker, mengerjakan resume tutorial, menulis. Yang paling menguras gelombang
otak sebenarnya menulis. Maksudku berimajinasi, you know ... mengarang-ngarang. Akhirnya
aku belajar 'memaksa tidur'. Aku tidak bisa tidur dengan musik. Bunyi-bunyian
malah akan membuatku tersadar. Aku memaksa tidur dengan ... tidur. Memejamkan
mata bermenit-menit, sampai aku sering berpikir dalam tidur. Apakah aku sudah
tidur? Belum? Aku masih mengoceh dalam pikiran. Apa aku masih tersadar? Atau
sudah tidur? Suara apa itu? Ah, kenapa aku tidak tidur-tidur? Dan aku tahu jika
aku membuka mata maka aku gagal.
Menghitung domba dalam hati malah membuatku terjaga. Membaca
adalah aktivitas dengan lampu terang, aku harus tidur tanpa cahaya. Membaca
doa-doa lain membuat pikiranku sama sibuknya. Maka yang aku lakukan
ketika memejamkan mata tidak terlalu sukses membuatku tidur adalah menenangkan
pikiranku. Aku memberi sugesti kepada pikiranku sendiri untuk berhenti membuat
otakku bekerja. Awalnya aku memakai teknik melamun. Setidaknya melamun membuat otakku
lebih ringan daripada mengingat hasil rapat tadi sore atau isi resume besok
pagi. Namun lamunanku sering berlanjut dalam mimpi. Itu membuatku jadi merasa
tidak tidur sama sekali. Akhirnya aku memakai teknik lain, mengosongkan diriku
sendiri.
Kamu sering lihat di teve bagaimana roh manusia terangkat dari
jasadnya ketika bermimpi. Itu yang aku rasakan. Awalnya hanya otak/pikiran. Aku
berusaha mengosongkan pikiranku dengan cara meninggalkannya. Itu seperti ...
otakmu menggoda untuk bekerja dan kamu mengabaikannya. Kamu berfokus pada
pikiranmu tapi untuk mengusir apa yang sedang nangkring disana. Aku tidak
pernah dihipnotis jadi tidak tahu bagaimana rasanya mengosongkan pikiran. Tapi
dalam proses mengendalikan gangguan mimpi itu aku tahu rasanya seperti ...
kosong. Mesin-mesin yang memberati otak kita diangkat dan itu ditandai dengan
kepalamu yang merasa ada badai kecil di otak, lalu berdenyut pelan di kepala
bagian atas telinga, dibantu dengan bola mata yang berputar cepat ke dalam
(mungkin ini namanya Rapid Eye Movement atau REM dan aku sering merasakan REM
secara sadar). Selanjutnya aku akan merasakan tubuhku merinding, bukan
merinding kedinginan, tapi seperti ada udara halus yang terangkat dari tubuhku.
Saat itulah aku tahu bagaimana rasanya seperti roh terangkat dan melumpuhkan.
Saat proses itu terjadi, jika aku berinisiatif gerak sedikit saja maka proses
menuju tidur akan gagal. Aku akan tersadar. Tidak mudah menahan diri untuk
tidak bergerak saat proses sadar tak sadar itu berlangsung, aku merasa pegal
sekaligus tak nyaman, ingin segera tak sadar tapi masih sadar.
Begitulah yang aku alami selama kuliah. Proses tidur paksa. Maka
aku tidak heran jika beberapa orang selalu menganggap mukaku terlihat pucat.
Sampai pada suatu ketika aku mengoceh tentang mimpi di twitter,
salah satu teman aktivisku dari UPI memberitahuku mengenai film Inception yang
sepertinya bisa menjelaskanku mengenai gangguan mimpi. Saat itu aku langsung
mencari film tersebut. Aku butuh kemungkinan, meski itu tidak masuk akal. Dan
dari film itulah aku tahu mengenai lucid
dream.
Penjelasan singkatnya, lucid
dream atau mimpi sadar adalah
kondisi dimana kamu menyadari bahwa kamu sedang bermimpi. Tentu saja itu
membuatku ingat dengan pengalamanku ketika SD dan juga mimpi-mimpi yang seolah nyata
dimana ketika terbangun aku merasa baru saja dilempar dari dimensi lain dan
mengalami semua kejadian di mimpi secara nyata. Akhirnya aku mempelajari lucid dream, membaca berbagai
artikel mengenai mimpi. Tidak, aku tidak gila. Tidak mengalami gangguan tidur
berlebihan. Aku hanya terlalu antusias untuk mengetahui apa yang terjadi pada
diriku yang mungkin juga terjadi pada banyak orang.
Maka sejak saat itu aku belajar menguasai tidur dan mimpiku. Aku
juga menghindari emosi-emosi yang berlebih karena hal itu akan
mengejar-ngejarku di alam mimpi. Seperti saat aku selalu menghindari satu dosen
dan merasa apes karena beliau menyandera nilaiku di semester lima, karena
firasatku tidak enak aku selalu menghindari dosen tersebut sampai aku hampir
tidak bisa yudisium karena tidak ada nilai darinya. Aku sadar aku agak
keterlaluan, seharusnya aku menemuinya di semester lima tapi aku baru
menemuinya di semester delapan. Setahun setengah aku menghindari dosen
tersebut, selama itu pula dia menjadi mimpi burukku.
Itulah kenapa aku semakin berusaha keras menjadi anak baik, tanpa
konflik, tanpa beban pikiran berlebih, tanpa emosi berlebih. Lebih karena aku
menjaga diriku sendiri dari ... dari pikiran-pikiranku sendiri.
Maaf, tulisan ini bersambung karena aku merasa lapar. Aku bilang juga apa, menulis selalu menjadi pekerjaan yang menguras otak lebih besar. Dan selain belajar mengendalikan mimpi, aku sudah belajar mengendalikan lapar sejak SD. Jadi, jika aku merasa lapar berarti aku benar-benar sangat lapar. Tentu saja, sudah dua hari aku tidak menyentuh nasi ...
Bersambung.
16 October 2014
Hidup Begini Adanya
Catatan ini aku tulis atas permintaan kawanku yang telah bercerita panjang lebar mengenai hidupnya tapi tidak aku respon sama sekali. Akhirnya dia memintaku menulis agar dia tahu apa yang harus dia lakukan. Aku katakan bahwa kemungkinan besar tulisanku tetap tidak akan memberikan solusi apa-apa tapi katanya tidak masalah, setidaknya dia tahu apa yang aku pikirkan. Lalu karena aku sudah panjang-panjang menulis, aku rasa aku share saja disini. Siapa tahu berguna.
--------
“…
Lately I’ve been, I’ve been losing sleep
Dreaming
about the things that we could be …”
(Counting
Stars - One Republic)
Akhir-akhir ini beberapa undangan pernikahan tidak
aku datangi karena tak sempat. Undangan dari adik asuhku di SMA. Teman sekelasku
di SMP. Teman SD-ku. Seniorku di Fkep Unpad. Dalam satu bulan ada lima
undangan. Dan ada undangan yang ke-6. Adik dari kawan lamaku di Garut. Mendadak,
diundang sehari sebelumnya.
Sampai jam 12 siang aku masih berada di Bandung. Ketika
jam 2 siang aku harus berangkat ke rumah Kakak ke-1 di Garut, aku pikir
sekalian saja. Toh dari rumah kawanku itu ke rumah kakakku hanya 15 menit. Satu
pesan aku kirimkan, “Aku masih boleh datang kesana jam segini?”
Dia mengiyakan. Akhirnya aku datang sendirian. Beberapa
saat benar-benar disana sendirian karena kawanku pergi bolak-balik mengurusi
ini itu. Untungnya aku sudah mengenal keluarganya, meski sudah lama sekali. 2-3
tahun yang lalu. Sampai ibunya mengerutkan kening melihatku.
“Bentar, ini teh siapa?” Dia bertanya, melirik
suaminya. “Perasaan kenal, tapi siapa?”
Aku tertawa ramah. “Sarah, Bu.”
“Oh, astaghfirulloh! Sarah … ! Iya, ini teh Sarah.
Kenapa makin kecil?” Spontan dia memelukku erat, seperti bertemu anaknya yang
hilang bertahun-tahun.
Untungnya adiknya masih mengingatku dengan baik.
Meminta maaf karena tidak memberitahuku dan tidak memberi kabar apa-apa. Setelah
lulus SMA, dia sempat terputus kontak dengan banyak orang. Lalu aku makan dan
duduk-duduk ditemani kakak tiri kawanku.
Seperti memungut kembali kenangan yang berserakan.
Hampir sejam aku disana. Kawanku tak membuang
kesempatan kedatanganku yang bisa dikatakan langka. Menahanku sampai resepsi
selesai. Biasanya dia sampai harus niat datang ke Jatinangor hanya untuk bicara
di depanku atau hanya untuk melihat wujudku yang ada. Tumpahlah semua cerita,
keluh kesah, dan semua yang dialaminya. Hari itu aku sukses jadi pendengar yang
baik. Hanya mendengarkan.
Coba aku ingat-ingat dulu, kawan saya ini termasuk
orang yang radarnya selalu berfungsi untuk menemukanku. Ketika dia masih
tinggal di DU, pernah suatu kali aku sedang berada di DU namun ponselku mati
sehingga aku pikir tak mungkin menemuinya yang entah ada di DU bagian mana.
Sebelum pulang aku mampir ke Warnet untuk mengecek sesuatu. Karena komputernya
sulit untuk log in, aku memanggil
penjaga kasir. And tadaa … orang di
sebelahku tiba-tiba menegur, sepertinya dia mengenal suaraku. Ternyata itu kawanku.
Tepat di sebelahku. Tertawalah kita akan kebetulan yang lucu ini. Selama dia
tinggal di DU, hanya sekali itu aku bertemu dengannya disana.
Lalu dia mencari peruntungan di Garut. Aku tidak
pernah tahu di Garut sebelah mana dia tinggal. Karena sudah bertahun-tahun dia
tidak tinggal dengan keluarganya. Dia bisa ada dimana saja. Komunikasi pun
sangat jarang. Hampir tidak pernah. Suatu ketika aku tengah mengantar temanku
penelitian di Garut. Kita berangkat agak siang karena dia harus bimbingan
dengan dosen terlebih dahulu. Ketika kami sudah memasuki daerah Garut, aku
bertugas mengawasi jalanan, plang-plang, tanda-tanda, karena kami sama-sama
tidak tahu letak Panti Werdha Garut. And
tadaa … dari kejauhan aku melihat seseorang keluar dari apotek, menyalakan
motornya, semakin dekat aku semakin mengenali sosoknya. Spontan aku berteriak
memanggilnya. Gila. Kenapa bisa ketemu dia disini. Akhirnya dia mengikuti motor
kami dan menunjukan jalan ke Panti Werdha. Belakangan aku tahu bahwa pada hari
itu seharusnya dia sudah pergi ke apotek dari pagi tapi baru sempat ketika
siang hari. Tepat saat motor kami melewati apotek. Tepat saat dia baru keluar
dari apotek. Bisa gitu, ya.
Pada hari itu pun, saat aku menjadi pendengar yang
baik. Ada beberapa kebetulan lagi. Dia memang punya hobi fotografi, belakangan
dia jadi founder komunitas fotografi
di Garut. Saat itu dia menunjukan kepadaku karya-karyanya yang bertemakan shadow. Foto-foto dreamy/sureal. Aneh, karena baru beberapa hari yang lalu aku
memotret bayangan-bayanganku sendiri dan sinar matahari di tembok kamar. Sejak
beberapa bulan yang lalu pun, entah kenapa, aku suka memotret awan. Jatuh cinta
dengan awan. Lalu saat kita membahas mengenai proses kreatifku membuat tulisan,
dia berceloteh tiba-tiba. Aku tidak begitu ingat kalimat-kalimat yang dia
ucapkan, namun intinya seperti ini …
“Awan. Terletak sangat jauh. Namun sangat indah.
Kita bisa melihatnya setiap saat. Megah di atas langit. Namun sulit untuk
digapai. Seberapa tinggi bangunan yang didirikan tak akan bisa menggapai awan.
Seberapa tinggi gunung yang didaki, sama saja, awan itu tidak akan pernah bisa
kita dapatkan. Itulah kamu.”
Aku tertawa, menyamarkan rasa kagetku akan tema
‘awan’ yang dia ambil. Mungkinkah dia stalking
twitter-ku dan tahu aku sedang jatuh cinta dengan awan? Aku seakan
disudutkan dengan pesan tersirat, kamu sendiri kenapa menyukai awan? Sudah tahu
itu akan sulit digapai. Kamu mendaki gunung yang tinggi hanya untuk mencari
awan? Bodoh.
Lalu dia memperlihatkan foto terbarunya. Sebuah gang
di Kota Garut, diapit oleh dua bangunan abu-abu yang tinggi berdampingan, hanya
menyediakan ruang untuk satu motor. Di depannya sebuah bangunan berwarna putih
seolah-olah menutup jalan karena jalan tersebut berbelok di depan. Lalu sisanya
jalan setapak dan siluet langit. Aku sendiri tidak yakin warnanya, karena
fotonya sengaja bernuansa hitam putih. Pengambilan gambar itu dilakukan saat
dia berjalan kaki, menangkap pemandangan, lalu tiba-tiba berjongkok,
membidikkan kamera ponselnya. Mengingatkanku akan proyek phonetography-nya Samsung yang diikuti Dewi Lestari.
“Apa ya judulnya? Border of city? Beside of
city?” Dia meminta saran.
“Center of
Urban.” Aku memberi saran sesuai dengan saran awalnya.
“Di tengah kota? Tapi ini pinggiran kota. Keadaan di
pinggir kota yang penuh beton.” Komentarnya.
Lama kita berdebat hanya membicarakan judul, lalu
berbelok membicarakan hal lain, berputar lagi untuk kembali ke obrolan mengenai
judul foto.
“Ini dulu apa judulnya. Saya mau upload di grup komunitas fotografi. Coba
lihat lagi. Kira-kira apa judulnya?” Kali ini dia menyerahkan ponselnya.
Aku mengamatinya lebih lama. Melupakan judul-judul
awal yang disarankan. Kenapa urusan judul ini jadi begitu rumit. Come on, it’s just title.
“Sesak.” Jawabku singkat.
“Sesak? Heurin?”
“Sempit. Sesak. Kehilangan ruang. Ya, intinya hareurin.”
Dia kembali mengambil ponselnya, mengamatinya ulang.
“Bener, ya. Heurin.”
Tanpa pikir panjang dia mengirimkan fotonya, memberi
judul foto itu “Heurin.” Menuliskan
momen dimana foto itu diambil dan dengan kamera apa foto itu didapatkan. Baru beberapa
detik sudah banyak yang me-like, dan
satu komentar paling atas yang aku ingat. “Bagus. Heurin-nya dapet.”
Dia pun tertawa. “Benar apa kata kamu. Heurin.”
Judulnya sederhana tapi ngena. Sudah aku bilang hidup itu sederhana. Kamu sendiri yang
membuatnya rumit. Dan aku si sederhana yang rumit. Si rumit yang sederhana. Naon lah. Dan tebak-tebakan judul ini
mengingatkanku akan Kugy yang menebak lukisan Keenan dengan judul ‘bebas’, dan
Keenan ternyata memberikan judul lukisan itu ‘freedom’.
“Kemarin di studio temanku ada novel Partikel.”
“Aku udah baca.” Komentarku pendek.
“Katanya mau terbit lanjutannya ya? Lagi PO.”
“Iya. Tapi aku mau kesana pas launching aja. Sekalian main ke Bandung.”
“Sama siapa?”
“Sendiri. Sama siapa lagi? Biasanya juga sendiri.”
“Kasihan.” Dia tertawa dengan sungguh-sungguh.
“Biar sendiri juga tapi masih punya semangat hidup.”
“Kamu nyindir?”
“Nggak nyindir, keingetan hidup kamu aja.”
Baru saja dia bercerita dari sejak ketika dia
memutuskan tidak tinggal lagi di rumah bersama keluarganya (awal kami berdua sama-sama
kehilangan kontak). Keluar dari pekerjaannya. Pindah ke Bandung dan mulai dari
nol lagi. Mencari pekerjaan. Jadi karyawan, dipecat karena kerjaannya hanya
tidur. Menjadi penjual gorengan, berhenti karena tidak laku. Bertemu teman baru
dan pindah ke Dipati Ukur. Mulai lagi dari nol. Pindah ke Garut. Mulai lagi
dari nol … Kemarin ayahnya sakit dan harus dioperasi. Adiknya yang kabur saat
lulus SMA dan sekarang menikah di usia muda. Dia si tulang punggung keluarga
yang merasa belum bisa diandalkan keluarganya. Baginya fotografi adalah
hidupnya, bagi kebanyakan orang fotografi harusnya hanya hobi baginya. Karena
dia harus mencari pekerjaan. Bagiku, dia … manusia super labil dan super nggak
jelas yang aku kenal.
Dia berkata, “Tujuan hidup saya sekarang mungkin …
hanya ingin membuat something untuk
Garut atau menjadi something untuk
Garut.”
Lalu kemudian, “Cita-cita saya … mau jadi bos.”
Setelah itu, “Yang saya bayangkan saya mau memiliki
kafe sekaligus kantor, kantor yang ada kafenya. Di atasnya baru rumah.
Minimalis.”
Dan tiba-tiba, “Saya sudah cape punya mimpi, punya
rencana. Setiap bangun tidur rasanya saya nggak ada harapan apa-apa. Setiap
punya rencana kayaknya ‘gagal’ udah nungguin.”
Akhirnya, “Saya lagi pengen ngerasain gagal yang
segagal-gagalnya dulu sekarang. Seperti kata kamu, saya sedang menghabiskan
jatah gagal saya dulu.”
Sebenarnya dia tidak separah itu. Kata salah seorang
partner-nya, Garut sekarang bangga
punya anak itu.
Dia pemuda yang punya semangat juang sekaligus
paling rapuh. Komunitas fotografinya menjadi komunitas nomor satu yang diminati
banyak orang. Dia bisa diandalkan untuk setiap event. Ada beberapa video hasil proyek kegiatan fotografinya di youtube, dan menurutku itu keren.
Sesuatu yang biasa aku bilang ‘full of
passion’. Tapi aku sendiri tidak tahu dimana celah yang membuat dia selalu
bergerak stagnan. Dia sendiri tidak bisa menemukannya, apalagi aku.
Saya mendengarkan ceritanya, duduk tenang,
bersandar, dan … melipat tangan. Berkomentar, bergumam, menjawab pertanyaan
yang sebenarnya tidak butuh dijawab, membantu memikirkan kemungkinan. Selamat,
saya bisa menjadi pendengar yang baik. Karena baginya aku orang yang tertutup
(padahal menurut teori aku dominan extrovert).
Tentu saja untuk orang yang baru aku temui, meski kawan lama, aku tak begitu
suka ditanya tentang diriku sendiri. -Sibuk apa sekarang?- Ya, gitu. - Gitu
gimana?- Nggak gimana-gimana, gitu aja. -Gimana nulisnya?- Gitu-gitu aja. -Udah
ngelamar kerja kemana?- Nggak kemana-mana. -Ada proyek apa lagi?- Ya, ada beberapa.
-Ada teh apa?- Ya, ada lah pokoknya. (Kayaknya dia greget pengen noyor
kepalaku).
Perlu bermenit-menit dan pertanyaan berulang-ulang
sampai akhirnya aku nyaman bercerita tentang diri sendiri. Itulah kenapa dia
lebih senang membaca tulisan-tulisanku. Katanya, dalam tulisan aku lebih jujur
dan terbuka. Dalam tulisan aku menjadi diriku sepenuhnya yang begitu
bersahabat. Aku nyata di tulisan, palsu dalam realitas. Mungkin seperti itu.
Kisahnya tiba pada masa saat seminggu yang lalu,
saat dia meneleponku tiba-tiba ketika aku baru turun dari Gunung Gede.
“Saya lagi di mobil, maaf ya, nanti telpon ulang.”
Klik. Saya tutup.
Ternyata saat itu dia tengah terperosok dalam
kesulitan yang begitu dalam. Dua minggu tanpa uang. Makan entah dapat dari
mana. Motornya kena tilang, belum bisa diambil, ga ada uang. Di kosan hampir
diusir karena nunggak, ibu kosan sempat menggulung kasurnya dan mengeluarkan
barang-barangnya. Event-nya akhir
bulan ini masih kurang peserta, yang berarti biayanya nombok sekitar 2juta.
Komputer dan kamera dia jual untuk membayar hutang.
Ini yang namanya sesak. Sempit. Heurin. Sesak sampai bernafas pun rasanya enggan, karena begitu
sakit. Hidup begini adanya, Kawan. Dia tengah berada di titik nol. Minus.
Pantas saja sepanjang minggu itu dia tidak kembali
menghubungiku sama sekali. Aku rasa saat itu dia mulai sadar betapa egoisnya
aku. Kawan sedang terpuruk, aku malah berkeliaran di gunung. Pantas saja aku
menjadi orang terakhir yang dia undang ke pernikahan adiknya. Mungkin tadinya
dia tidak berpikir sama sekali untuk mengundangku. Sayangnya aku datang
memenuhi undangan yang mendadak.
Dengan mendengar cerita itu, dan juga sebenarnya
beberapa cerita teman kampus lain yang sejenis, aku jadi merasa kondisiku yang
labil antara berkarir dan melanjutkan kuliah adalah kegelisahan yang tidak ada
apa-apanya. Belakangan ini aku pusing karena ibu berat mengizinkanku bekerja,
apalagi di luar Bandung/Garut. Di tambah keadaannya yang lemah dan rawan sakit.
Setiap mencuci baju, pasti ada noda darah di kerudung atau bajunya. Nikah, nikah, nikah, aku sampai sakit kepala karena
ibu terlalu sering menyinggungnya. Sampai kadang aku menutup pembicaraan dengan
kalimat, ‘Ya sudah, Mamah saja yang nikah.’
Sementara kawanku ini, menikah adalah pembicaraan ke sekian puluh sekian.
Karena bahkan baginya, jatuh cinta saja merupakan birokrasi yang menyusahkan.
Pamungkas, mungkin dia akan memikirkannya tiga atau empat tahun lagi. Well, kenapa aku menyinggungnya juga?
“Saya nggak mau kamu ikut kepikiran, tapi saya butuh
teman cerita.” Sambungnya. “Saya nggak bisa cerita sejujur ini ke orang lain.”
“Kepikiran pun saya nggak tahu solusinya. Karena
untuk diriku saja, solusi selalu hadir sama misteriusnya dengan masalah yang
datang.” Saya mengatakannya sambil mengingat masalah terakhir yang saya hadapi,
saya sampai konsultasi dengan dua teman saya di Unpad. Fauzan dan Jhovy. Tapi
solusi tidak hadir melalui orang yang saya kira. Tidak juga dalam bentuk yang
saya harapkan. Solusi itu hadir tiba-tiba, bahkan aku hampir tak mengenalinya
(apa ini si solusi yang saya cari?) seperti masalah yang saya pikirkan secara
tiba-tiba pula. Maaf, Kawan, hidupku memang terlalu penuh dengan spontanitas.
“Kamu kenapa, sih, kalau aku lagi cerita responnya cuma
diem? Suka tiba-tiba hening.”
“Aku emang pendiam.”
“Nggak. Kamu bukan pendiam. Judes.”
“Aku nggak judes. Aku baik.” Aku mencoba membela
diri seperti biasa meski entah berapa orang yang sudah berkomentar aku judes,
jutek, ketus.
“Kalau menurut kamu saya orangnya pede (percaya
diri)?” Tiba-tiba dia meminta pendapat.
“Ya, pertama kenal begitu. Lebih kayak belagu, sih.”
“Terus menurut kamu saya orangnya minder?” Dia
bertanya lagi.
“Iya.” Jawab saya yakin.
“Kok bisa saya pede sekaligus minder?”
“Ya … ada masa dimana orang memiliki perasaan
ekstrim yang sama. Seperti bipolar. Seperti saya. Saya bisa cuek dengan
perasaan secuek-ceuknya. Tapi saya bisa sensitif sesensi-sensinya.”
Tentu saja dia begitu, bagaimana bisa dia bercerita
ingin jadi bos, berguna buat Garut, memiliki kafe-kantor, sekaligus bercerita
sudah tidak berani bermimpi lagi.
“Saya lagi minder-mindernya sekarang. Cuma ke kamu
saya nggak minder buat cerita semua ini. Karena kamu teman saya yang sudah tahu
gimana saya sampai ke buruk-buruknya.”
“Dan kamu nggak pernah berubah. Bertahun-tahun loh
kita temenan. Kalau dibilang capek ngeliat kamu kayak gini, ya capek.” Kataku,
bukan protes, lebih seperti menyindir. Menusuk. Ketika di DU aku bertemu dia
dengan kondisi yang sama parahnya. Bahkan lebih parah karena saat itu dia masih
tinggal menumpang di kosan orang lain. Tanpa proyek yang jelas.
“Orang-orang juga berkomentar seperti itu. Aku
kenapa gini-gini aja, nggak ada perubahan.”
Aku menerawang, mengingat-ingat seperti apa dia
dulu. “Kamu yang pertama saya kenal lebih ‘hidup’, meski kadang belagu dan sok,
tapi punya kepercayaan diri. Tidak heran karena pekerjaanmu termasuk kategori public figure. Pekerja kreatif. Pegiat
seni. Itu kan yang membuat kita dekat dan berteman. Kalau kita baru kenal sekarang
kayaknya kamu akan sama mindernya seperti mendekati Sarah-Sarah yang lain.
Ditambah waktu itu mungkin aku sedang bosan dengan rutinitas di Unpad. Dan …
waktu itu aku lagi sial saja bisa temenan sama kamu.”
Dia tergelak, menyetujuinya. “Iya, kamu waktu itu memang
lagi sial.”
Akhirnya aku memberikannya sebuah kesimpulan: Aku adalah manis, sekaligus pahitmu. Mimpi,
sekaligus realitasmu. Bayangan, sekaligus mataharimu. Aku menuliskannya di
buku catatan miliknya. Anggap saja cindera mata.
“Mungkin kamu mencari saya karena saya bisa
membuatmu tenang. Bukan sekedar karena wajah saya yang manis, tapi karena saya
sudah jadi bagian dari hidup kamu. Tapi bertemu dengan saya pun, akan membuatmu
pahit, kan? Karena katamu saya tak tergapai. Kamu bebas menceritakan
mimpi-mimpimu tanpa khawatir dianggap tak waras. Tapi bercerita denganku
berarti dituntun untuk berpikir realistis. Aku juga menjadi bayangan dalam
pertemanan ini, entah apa dan entah siapa. Katamu saya menghantui padahal saya
belum mati, jadi bagaimana bisa gentayangan. Tapi bagaimana bisa juga ternyata
saya jadi mataharimu, yang menaungimu, mengayomi, dan memberimu sinar. Terdengar
gagah dan maskulin, ya. Padahal saya perempuan.”
Dia terdiam mendengar penjelasan dari tulisan
pendekku. Tidak mengiyakan, ataupun menyangkal. Hanya tersenyum pahit. Tanda
ingin mengiyakan sekaligus ingin menyangkal.
Kenapa pula aku harus bertemu dengan manusia satu
ini, saat event akhir tahun 2010 dulu,
di warnet DU, papasan di Garut. Kenapa pula aku harus sempat menghadiri
undangan ini. Pernah kawanku ini mengajak pergi kepantai, naik gunung, tidak
ada yang aku penuhi. Tidak sempat. Kenapa pula dengan keadaan dia yang semi
artis lokal, kenal banyak orang, hanya aku yang bisa dia jadikan ‘tempat
sampah’ yang mengeluarkan sisa-sisa terburuk dari kehidupan. Kenapa pula dari
banyaknya temannya yang bernama Sarah, harus Sarah yang ini yang mengenalnya
dengan baik. Everything happen for the
reason, kan? So, for what? What the reason?
Saya membuka-buka buku catatannya hanya karena
iseng. Kebanyakan catatan mengenai event-event
yang dia organisir atau konsep project
mengenai fotografi atau sebuah video. Tiba-tiba di coretan belakangan aku
menemukan namaku berderet dengan coretan nama yang tadinya dia akan buat untuk
manajamen fotografinya. Hanya ada dua kata. Sarah. Zohrahs. Itu jelas-jelas
aku.
“Kok ada nama saya disini?”
“Iya gitu?”
Aku menutup buku itu dan menyerahkannya. “Jelas-jelas
itu tulisan kamu. Di halaman belakang.”
Dia sibuk membuka-buka bukunya, menemukan namaku
disana, lalu nyengir. “Orang password
ponsel lamaku yang rusak saja masih nama kamu.”
Konyol. Aku hanya diam tak merespon. Tak memberikan
ekspresi apa-apa.
“Saya kan sudah bilang, kamu itu menghantui saya
terus. Kayak bayangan.”
“Jadi saya harus bagaimana? Saya juga sudah susah
payah kabur dari kamu. Biasanya kalau ke yang lain efektif, disinisin sekali
juga langsung mundur, diabaikan berkali-kali juga nyerah, didiamkan langsung
menghilang.”
“Saya juga nggak tahu. Memangnya saya ngejar kamu?
Kan nggak.” Tambahnya setengah bergurau. Obrolan yang sama-sama membuat kita
jengah. Dia akhirnya membicarakan topic lain.“Kayaknya sosial saya juga
sekarang nggak begitu baik. Ada yang bilang saya orang yang paling bisa
diandalkan buat ngumpulin orang, tapi sekarang ketika mereka saya undang buat
ke nikahan adik saya saja nggak ada yang datang satupun.”
“Saya datang.”
“Yaa maksudnya teman-teman saya.”
“Kan saya juga teman kamu.”
“Yaa, maksudnya tadi. Kan kamu datangnya telat.”
“Oke.” Perdebatan
nggak penting, pikirku. “Aku juga mengalaminya, kok. Aku yang biasanya
paling semangat buat ngumpulin orang. Mau itu bikin agenda sendiri, agenda
resmi, nengok yang sakit, ke nikahan. Tapi ketika aku berharap mereka datang ke
acaraku tanpa aku koordinir, aku sadar … nggak akan ada yang datang. Aku saja
kaget saat akhirnya ada temanku yang mau nengok ibu. Kamu tahu kenapa? Karena
dari kecil manusia sudah belajar berhitung, segala sesuatu yang terjadi di
depannya akan jadi objek hitung-hitungan. Ketika aku mengumpulkan orang pun,
aku berhitung, sepenting apa ini bagi mereka, semenarik apa, berapa kemungkinan
agenda prioritas lain yang mereka miliki. Dan mereka pun akan berhitung, kalau
datang apa untungnya, kalau nggak datang apa ruginya, akan ketinggalan apa,
akan kehilangan apa. Seberapa berharganya kehadirannya. Di pikiran manusia masa
kini, dunia berjalan secara matematis.”
“Jadi, menurutmu mereka tidak datang karena merasa
tidak ada untungnya untuk datang?”
“Dan tidak ada ruginya jika tak hadir. Untung rugi
disini bukan hanya materi. Sesuatu yang ‘berharga’ tapi tak berwujud. Diantaranya
… datang karena merasa beruntung ingin bertemu orang yang disuka, kangen, atau
segan kalau menolak hadir. Mungkin kamu belum sampai di tahap itu, jadi orang
yang disukai, ngangenin, ataupun disegani.”
“Ya, ya, saya ngerti. Kalau begitu kamu kenapa
datang?”
“Karena aku orang baik.” Jawabku spontan, mengangkat
alis meyakinkan. “Dan aku sedang menabung kebaikan. Melihat kamu senang karena
aku datang buatku jadi tabungan kebaikan. Seperti saat musim mudik kemarin, aku
sangat butuh bantuan kamu, aku jadi enak buat minta tolong karena aku sudah
menabung kebaikan di kamu. Agak jahat sih, kebaikan juga menjadi sesuatu yang
matematis. Tapi … memangnya diantara saya dan kamu, siapa yang paling jahat.”
“Saya, sih.” Jawabnya yakin. “Tapi saya juga ingin
jadi orang baik, kemarin temanku menggadaikan kameranya. Kalau besok tidak
ditebus bakalan hangus. Tapi aku nggak punya uang. Akhirnya aku pinjam uang
untuk dia pakai dulu, atas namaku karena dia malu kalau orang lain tahu.”
Aku tersenyum, cerita yang paling baik yang kudengar
sepanjang ceritanya. “Kamu beruntung. Setidaknya kamu nggak miskin nurani.
Berusaha menjadi orang baik kadang sama sulitnya dengan berusaha menjadi orang
hebat.”
Hening yang cukup untuk menciptakan ruang pikir
sendiri. Karena hidup ini kadang disamakan dengan ilmu pasti. Jika kamu pemeran
utama, kalau bukan protagonis, berarti antagonis. Kalau bukan superhero,
berarti penjahat. Kalau bukan orang hebat, berarti pecundang. Siapa yang ingin
menjadi pecundang dalam sebuah kehidupan dimana dia menjadi pemeran utamanya?
Tapi jika tidak bisa menjadi orang hebat, jangan tersinggung jika berstatus
pecundang. Angin berhembus terlalu kencang seakan ingin menyibak tenda resepsi yang
sudah ditata rapi. Bulan purnama ditambah gerhana selalu menghadirkan angin
kencang yang cukup untuk mematahkan sebuah pohon. Namun, seharusnya tidak bisa
mematahkan sebuah harapan.
“Sar.”
“Hm ...” Aku merespon dengan bergumam, nada suaranya
melembut.
“Saya minta maaf. Saya belum bisa menjadi hebat.”
Permintaan maaf itu berarti banyak bagi dua orang
yang sudah dewasa.
Aku menghela nafas sebelum menjawab tegas. “Tidak
masalah. Itu urusan kamu. Saya sudah cukup dengan pertemanan kita yang
sekarang. Tidak akan berharap apa-apa.”
Apa lagi yang bisa menjadi jawabanku untuknya. Dia
paham betul kondisi masing-masing dari kami. Dia tahu betul mengenai ‘jaring
laba-laba kehidupan’ di sekelilingku. Karena di dunia yang lain, mungkin kita
saudara kembar.
“Apa aku harus mengajakmu menghitung bintang saja
daripada menghitung uang?” Aku mencairkan suasana. Mengenalkannya dengan lagu Counting Stars milik One Republic (Said no more counting dollars. We’ll be
counting stars. Yeah, we’ll be counting stars).
Kita tertawa. Menertawakan hidup. Hidup begini
adanya, Kawan. Benar kata Dee, tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung
sakitmu. Tidak juga aku.
“
… Sing in the river
The
lesson I learned …”
(Counting
Starts – One Republic)
19 September 2014
Kembali Normal
Setidaknya untuk beberapa saat, segala sesuatunya terasa normal. Ibu kembali sehat meski masih sedikit lemas. Aku kembali beraktivitas dengan jadwal yang random. Beberapa hari ini tak sengaja pulang larut malam, pun malam ini, saat tadi siang harus ke kampus untuk mengambil ijazah dan transkip nilai, bertemu teman-teman kampus yang sedang menjalani profesi dan berbagi cerita ... "Kuliah keperawatan empat tahun itu nggak ada apa-apanya tanpa profesi. Nggak lengkap. Ibarat bikin makanan, kuliah profesi itu toping-nya." Ujar Ami bersemangat. Aku tentu saja terpengaruh.
Sorenya aku ke Bandung, berencana membeli buku dan mengambil foto wisuda. Namun perhitunganku salah, hari ini hari Jumat dan Bandung saat weekend seperti tertumpah mobil di jalanan. Well, aku hanya sempat membeli buku di Rumah Buku Bandung karena jalanan macet.
Rasanya semua hampir kembali normal ketika dalam perjalanan pulang kembali merenungi banyak hal. Kuliah profesi, ya. Apa ruginya kembali belajar. Bukankah belajar itu menyenangkan. Namun tetap saja pikiranku terbebani dengan pikiran mengenai 'satu tahun yang menyesakkan'. Empat tahun saja rasanya aku megap-megap. Bukan karena kehidupan di keperawatan tidak menyenangkan, tapi lebih karena aku tidak menikmatinya. Tentu saja aku sudah berusaha memberi kesempatan, sekaligus memaksakan. Selepas sarjana aku sendiri baru merutukinya, tentang betapa seharusnya aku menikmati kuliah disana dan menjalani semua dengan optimal. Melirik ijazah Sarjana Keperawatan-ku rasanya asing dan masih mengerutkan kening ... kenapa bisa aku jadi Sarjana Keperawatan.
Mimpiku sederhana ... menjadi penulis, memiliki toko buku dan perpustakaan.
Mungkin terlihat sederhana ... memiliki pondok pesantren/boarding school dimana aku menjadi Ibu Asrama.
Sangat sederhana ... memiliki banyak waktu untuk keluarga namun mampu beradaptasi dengan dunia luar.
Apa keinginan itu terlalu tinggi?
Karena ternyata ada proposal mimpi lain yang dihadapkan, menjadi praktisi kesehatan, tentu saja di bidang keperawatan. Aku sendiri linglung darimana ini semua berawal, seakan secara tiba-tiba dunia keperawatan menyusupi setiap gardu perencanaan masa depan. "Teteh mah serius mau buka Klinik Keperawatan di Cicalengka. Kamu nanti jadi Kepala Perawat-nya. Makanya harus Ners, ya."
Pada saatnya aku kembali berserah. Seperti ketika tiba-tiba aku disekolahkan di Cicalengka, padahal aku sudah masuk sekolah di Garut. Seperti ketika tiba-tiba aku dipesantrenkan tanpa mendalami mata pelajaran MIPA. Seperti ketika tiba-tiba aku keluar dari pesantren dan kembali mengejar ilmu eksak. Seperti ketika tiba-tiba aku menjadi mahasiswa Keperawatan namun menunda kuliah Profesi Ners. Allah tidak menyuruhmu khawatir, Allah menyuruhmu ikhtiar. Ikhtiar lalu tawakal, berserah. Apa yang harus dikhawatirkan ketika hidup dan matimu ada di tangan-Nya?
Lebih seringnya aku merasa dituntun, diarahkan, dan diberi arus. Meski bagiku arus ini terkadang terlalu deras hingga membuatku limbung, terlalu dangkal sehingga bergesekan dengan lumut di bawah kakiku, terlalu sempit sehingga terbentur bebatuan di kiri dan kananku. Namun aku selalu aman dan selamat. Is that you, Dad? Yang menjagaku untuk tidak muntah, tak lecet, dan tak memar karena arus ini. Or, is that You, God? Of course, that You.
Dalam situasi statis seperti ini, aku kembali berencana. Mencari pekerjaan yang akan memperkerjakanku selama tiga bulan, Oktober-Desember. Lalu bulan Januari daftar kuliah profesi. Bekerja, berkarir, menjadi buruh, salah satu hal yang aku hindari. Toh akhirnya aku harus terjun bebas, mengikuti arus. Meski, jika dipikirkan secara zuhud, aku memiliki Madrasah yang harus diurus setelah Ibu menginstruksikanku jadi 'Kepala Sekolah'. Kepala Sekolah seorang Sarjana Keperawatan bukan hal yang aneh, kan. Juga, jika dipikirkan secara ... ambisius atau keinginan pribadi, aku memiliki proyek novel yang tidak pernah selesai. Lalu kenapa aku mencari pekerjaan? Karena Ibu. Aku punya ambisi baru, menjadi pencari nafkah untuk Ibu. Minimal aku kuliah profesi tanpa biaya dari Ibu.
Keinginan itu tidak ketinggian, kan?
Aku adalah kumpulan asuhan ... seorang anak yatim yang adaptif, berpindah tempat bertemu orang baru, seorang penurut dalam keluarga yang mengenal masalah sosial ketika hidup di asrama. Kumpulan didikan ... beberapa Ustad yang zuhud, wara, dan esktrimis, juga akademisi yang menggambarkan masa depan sebagai persaingan ilmu pengetahuan, teknologi, dan semua yang materialis. Kumpulan kekerabatan ... aktivis idealis, militan, dan terkadang birokratis, juga sahabat-sahabat yang sudah menjadi Ustad muda, penggiat Ormas Islam, dan sangat agamis. Kumpulan pemahaman dari buku-buku, artikel, ceramah, opini, dan semua informasi yang bebas berkeliaran. Tertangkap laksana binatang buruan.
Pertanyaan semacam, 'Mau jadi apa?' justru tidak mengusikku, karena sejauh ini aku selalu menjadi sesuatu yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Maka lebih seringnya aku bertanya kepada-Nya, 'Aku akan dijadikan apa?'
Jangan khawatir. Ikhtiar yang optimal. Ingatkan diri untuk tawakal.
Bagi beberapa orang menjadi normal cukup membosankan. Justru dunia ini tengah disetir oleh mereka yang gila dan tidak berpikir secara normal. Aku rasa aku tak akan betah menjalani hidup normal. Aku menunggu ledakan dalam diriku sendiri, untuk kemudian memecah berkeping, berserakan dalam setiap kehidupan, lalu terlahir kembali.
Apalah ini, tulisan ini, entah ...
Jumat, 19 Sept 2014
Ditulis tengah malam, di ruang tamu yang penuh makanan, dan aku yang menghabiskan sepuluh tusuk sate ayam selama menulis ini. Lapar sekali.
Sorenya aku ke Bandung, berencana membeli buku dan mengambil foto wisuda. Namun perhitunganku salah, hari ini hari Jumat dan Bandung saat weekend seperti tertumpah mobil di jalanan. Well, aku hanya sempat membeli buku di Rumah Buku Bandung karena jalanan macet.
Rasanya semua hampir kembali normal ketika dalam perjalanan pulang kembali merenungi banyak hal. Kuliah profesi, ya. Apa ruginya kembali belajar. Bukankah belajar itu menyenangkan. Namun tetap saja pikiranku terbebani dengan pikiran mengenai 'satu tahun yang menyesakkan'. Empat tahun saja rasanya aku megap-megap. Bukan karena kehidupan di keperawatan tidak menyenangkan, tapi lebih karena aku tidak menikmatinya. Tentu saja aku sudah berusaha memberi kesempatan, sekaligus memaksakan. Selepas sarjana aku sendiri baru merutukinya, tentang betapa seharusnya aku menikmati kuliah disana dan menjalani semua dengan optimal. Melirik ijazah Sarjana Keperawatan-ku rasanya asing dan masih mengerutkan kening ... kenapa bisa aku jadi Sarjana Keperawatan.
Mimpiku sederhana ... menjadi penulis, memiliki toko buku dan perpustakaan.
Mungkin terlihat sederhana ... memiliki pondok pesantren/boarding school dimana aku menjadi Ibu Asrama.
Sangat sederhana ... memiliki banyak waktu untuk keluarga namun mampu beradaptasi dengan dunia luar.
Apa keinginan itu terlalu tinggi?
Karena ternyata ada proposal mimpi lain yang dihadapkan, menjadi praktisi kesehatan, tentu saja di bidang keperawatan. Aku sendiri linglung darimana ini semua berawal, seakan secara tiba-tiba dunia keperawatan menyusupi setiap gardu perencanaan masa depan. "Teteh mah serius mau buka Klinik Keperawatan di Cicalengka. Kamu nanti jadi Kepala Perawat-nya. Makanya harus Ners, ya."
Pada saatnya aku kembali berserah. Seperti ketika tiba-tiba aku disekolahkan di Cicalengka, padahal aku sudah masuk sekolah di Garut. Seperti ketika tiba-tiba aku dipesantrenkan tanpa mendalami mata pelajaran MIPA. Seperti ketika tiba-tiba aku keluar dari pesantren dan kembali mengejar ilmu eksak. Seperti ketika tiba-tiba aku menjadi mahasiswa Keperawatan namun menunda kuliah Profesi Ners. Allah tidak menyuruhmu khawatir, Allah menyuruhmu ikhtiar. Ikhtiar lalu tawakal, berserah. Apa yang harus dikhawatirkan ketika hidup dan matimu ada di tangan-Nya?
Lebih seringnya aku merasa dituntun, diarahkan, dan diberi arus. Meski bagiku arus ini terkadang terlalu deras hingga membuatku limbung, terlalu dangkal sehingga bergesekan dengan lumut di bawah kakiku, terlalu sempit sehingga terbentur bebatuan di kiri dan kananku. Namun aku selalu aman dan selamat. Is that you, Dad? Yang menjagaku untuk tidak muntah, tak lecet, dan tak memar karena arus ini. Or, is that You, God? Of course, that You.
Dalam situasi statis seperti ini, aku kembali berencana. Mencari pekerjaan yang akan memperkerjakanku selama tiga bulan, Oktober-Desember. Lalu bulan Januari daftar kuliah profesi. Bekerja, berkarir, menjadi buruh, salah satu hal yang aku hindari. Toh akhirnya aku harus terjun bebas, mengikuti arus. Meski, jika dipikirkan secara zuhud, aku memiliki Madrasah yang harus diurus setelah Ibu menginstruksikanku jadi 'Kepala Sekolah'. Kepala Sekolah seorang Sarjana Keperawatan bukan hal yang aneh, kan. Juga, jika dipikirkan secara ... ambisius atau keinginan pribadi, aku memiliki proyek novel yang tidak pernah selesai. Lalu kenapa aku mencari pekerjaan? Karena Ibu. Aku punya ambisi baru, menjadi pencari nafkah untuk Ibu. Minimal aku kuliah profesi tanpa biaya dari Ibu.
Keinginan itu tidak ketinggian, kan?
Aku adalah kumpulan asuhan ... seorang anak yatim yang adaptif, berpindah tempat bertemu orang baru, seorang penurut dalam keluarga yang mengenal masalah sosial ketika hidup di asrama. Kumpulan didikan ... beberapa Ustad yang zuhud, wara, dan esktrimis, juga akademisi yang menggambarkan masa depan sebagai persaingan ilmu pengetahuan, teknologi, dan semua yang materialis. Kumpulan kekerabatan ... aktivis idealis, militan, dan terkadang birokratis, juga sahabat-sahabat yang sudah menjadi Ustad muda, penggiat Ormas Islam, dan sangat agamis. Kumpulan pemahaman dari buku-buku, artikel, ceramah, opini, dan semua informasi yang bebas berkeliaran. Tertangkap laksana binatang buruan.
Pertanyaan semacam, 'Mau jadi apa?' justru tidak mengusikku, karena sejauh ini aku selalu menjadi sesuatu yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Maka lebih seringnya aku bertanya kepada-Nya, 'Aku akan dijadikan apa?'
Jangan khawatir. Ikhtiar yang optimal. Ingatkan diri untuk tawakal.
Bagi beberapa orang menjadi normal cukup membosankan. Justru dunia ini tengah disetir oleh mereka yang gila dan tidak berpikir secara normal. Aku rasa aku tak akan betah menjalani hidup normal. Aku menunggu ledakan dalam diriku sendiri, untuk kemudian memecah berkeping, berserakan dalam setiap kehidupan, lalu terlahir kembali.
Apalah ini, tulisan ini, entah ...
Jumat, 19 Sept 2014
Ditulis tengah malam, di ruang tamu yang penuh makanan, dan aku yang menghabiskan sepuluh tusuk sate ayam selama menulis ini. Lapar sekali.
18 August 2014
ini tulisan apa
Saya menulis ini dalam keadaan setengah mengantuk setengah mikir, tadinya mau upload skripsi ke student unpad tapi baru inget skripsi saya ada di flash disk, flash disk saya di adik saya, adik saya lagi diospek, laptopnya masih diservis. Akhirnya saya buka blogger.
Hai, apa kabar, semoga keseharian kita selalu diliputi keberkahan dari Allah. Tiga minggu saya tidak menulis di blog, selama itu pula energi saya tiba-tiba nge-jumping ga bisa direm. Ada 3 agenda dimana saya jadi divisi riweuh; halal bihalal keluarga, kado nikahan teh widya, dan nengok meilika. Asli, saya kayak kelebihan energi dan sedang royal bagi-bagi energi buat ngurusin hal-hal itu.
>> halal bihalal keluarga <<
Bertempat di Cikadut, rumah Wa Acep. Saya kembali didaulat untuk menjadi MC. Kali ini bersama A Erpin, mahasiswa tingkat akhir di Piksi Ganesha yang telat lulus dan rambutnya kayak Giring Nidji. Halal bihalal adalah satu waktu dimana saya rela keluar rumah saat musim mudik. Saya nggak mudik, tapi rumah saya di daerah mudik (Cicalengka-Nagreg). Mantep, mau ke pasar saja rasanya saya mau berangkat ke antah berantah saking semrawutnya jalan. Kalau nggak pakai motor, saya nggak mau pergi-pergian ketika musim mudik. Selama hampir 2-3 minggu musim mudik, rumah saya hampir nggak pernah sepi. Warung buka 24 jam. Kadang pemudik dan polisi nangkring di teras rumah. Santri Daarut Tauhid yang buka posko mudik di Jl. Cagak bantu memakmurkan masjid. Murid-murid saya bantu dagang. Seru.
Perasaan tadinya mau bahas halal bihalal. Bukan, mudik.
BPJS dan Pilpres jadi obrolan umum terhangat ketika halal bihalal. Nikah, apalagi. Jadi sepupu di atas saya ada 6 orang lagi yang belum nikah; A Yoma (29), A Andri (27 kalau ga salah), A Irpan (25), A Erpin (24), A Fajri (24), dan Teh Nisa (23). Saya? 22 ... ditanyain nikah sih iya, tapi masih selow. Rencananya tahun depan A Yoma dan A Andri akan menikah. Makanya saya pikir saya masih aman. Tuh kan, emang sesungguhnya saya belum niat.
Saya pernah posting hasil halal bihalal di facebook:
Kemarin keluarga besar baru saja berkumpul. Selain acara talkshow family (kabar2 keluarga), ada beberapa event yang tak kalah seru, games best couple dan aksi junior.
Best Couple:
1. A Indra dan Teh Erna (usia pernikahan 3 tahun)
2. A Esa dan Teh Teni (usia pernikahan 12 tahun)
3. A Yoga dan Teh Rosa (usia pernikahan 1 tahun)
AKSI Junior:
1. Miftah (7 thn) hafalan QS An Naba
2. Roif (10 thn) hafalan QS Nuh
3. Wafa (3 thn) hafalan QS Al Fatihah
4. Sahla (2 thn) hafalan Doa Mau Tidur dan artinya
5. Malik dan Vini (11 thn) hafalan QS Al Kautsar
6. Syahrul (11 thn) hafalan QS Ad Duha
7. Rois (10 thn) ditemani Syahrul hafalan QS Al Quraisy dan Al Bayyinah
8. Fahri (7 thn) ditemani Miftah hafalan QS Al Lahab
Alhamdulillah, silaturahmi berkah.
ttd, master of ceremony: Sarah Nurul Khotimah dan Erpin Nashruddin
>> nikahan teh widya <<
skip dulu deh, kayaknya cerita ini agak panjang
>> nengok ke memei <<
ini juga skip, deh. saya udah ngantuk berat. tadi sore saya ke madrasah dengan sisa-sisa kesadaran yang ada setelah jam 2 siang sampai ke cicalengka.
besok saya harus ke jatinangor, upload skripsi, kasih jurnal ke perpus, dan hard cover.
besok saya harus ke cileunyi, knrp jabar.
besok saya harus ke kosambi, ngambil laptop adik saya yang diservis disana.
terus ... bye.
Hai, apa kabar, semoga keseharian kita selalu diliputi keberkahan dari Allah. Tiga minggu saya tidak menulis di blog, selama itu pula energi saya tiba-tiba nge-jumping ga bisa direm. Ada 3 agenda dimana saya jadi divisi riweuh; halal bihalal keluarga, kado nikahan teh widya, dan nengok meilika. Asli, saya kayak kelebihan energi dan sedang royal bagi-bagi energi buat ngurusin hal-hal itu.
>> halal bihalal keluarga <<
Bertempat di Cikadut, rumah Wa Acep. Saya kembali didaulat untuk menjadi MC. Kali ini bersama A Erpin, mahasiswa tingkat akhir di Piksi Ganesha yang telat lulus dan rambutnya kayak Giring Nidji. Halal bihalal adalah satu waktu dimana saya rela keluar rumah saat musim mudik. Saya nggak mudik, tapi rumah saya di daerah mudik (Cicalengka-Nagreg). Mantep, mau ke pasar saja rasanya saya mau berangkat ke antah berantah saking semrawutnya jalan. Kalau nggak pakai motor, saya nggak mau pergi-pergian ketika musim mudik. Selama hampir 2-3 minggu musim mudik, rumah saya hampir nggak pernah sepi. Warung buka 24 jam. Kadang pemudik dan polisi nangkring di teras rumah. Santri Daarut Tauhid yang buka posko mudik di Jl. Cagak bantu memakmurkan masjid. Murid-murid saya bantu dagang. Seru.
Perasaan tadinya mau bahas halal bihalal. Bukan, mudik.
BPJS dan Pilpres jadi obrolan umum terhangat ketika halal bihalal. Nikah, apalagi. Jadi sepupu di atas saya ada 6 orang lagi yang belum nikah; A Yoma (29), A Andri (27 kalau ga salah), A Irpan (25), A Erpin (24), A Fajri (24), dan Teh Nisa (23). Saya? 22 ... ditanyain nikah sih iya, tapi masih selow. Rencananya tahun depan A Yoma dan A Andri akan menikah. Makanya saya pikir saya masih aman. Tuh kan, emang sesungguhnya saya belum niat.
Saya pernah posting hasil halal bihalal di facebook:
Kemarin keluarga besar baru saja berkumpul. Selain acara talkshow family (kabar2 keluarga), ada beberapa event yang tak kalah seru, games best couple dan aksi junior.
Best Couple:
1. A Indra dan Teh Erna (usia pernikahan 3 tahun)
2. A Esa dan Teh Teni (usia pernikahan 12 tahun)
3. A Yoga dan Teh Rosa (usia pernikahan 1 tahun)
AKSI Junior:
1. Miftah (7 thn) hafalan QS An Naba
2. Roif (10 thn) hafalan QS Nuh
3. Wafa (3 thn) hafalan QS Al Fatihah
4. Sahla (2 thn) hafalan Doa Mau Tidur dan artinya
5. Malik dan Vini (11 thn) hafalan QS Al Kautsar
6. Syahrul (11 thn) hafalan QS Ad Duha
7. Rois (10 thn) ditemani Syahrul hafalan QS Al Quraisy dan Al Bayyinah
8. Fahri (7 thn) ditemani Miftah hafalan QS Al Lahab
Alhamdulillah, silaturahmi berkah.
ttd, master of ceremony: Sarah Nurul Khotimah dan Erpin Nashruddin
>> nikahan teh widya <<
skip dulu deh, kayaknya cerita ini agak panjang
>> nengok ke memei <<
ini juga skip, deh. saya udah ngantuk berat. tadi sore saya ke madrasah dengan sisa-sisa kesadaran yang ada setelah jam 2 siang sampai ke cicalengka.
besok saya harus ke jatinangor, upload skripsi, kasih jurnal ke perpus, dan hard cover.
besok saya harus ke cileunyi, knrp jabar.
besok saya harus ke kosambi, ngambil laptop adik saya yang diservis disana.
terus ... bye.



