11 March 2014

,

Apakah ini Menginspirasi

Saya hanya mau memposting tulisan saya yang saya kirim ke ... apa nama lombanya tadi, yang man jadda wajadda di postingan sebelumnya. Kalau lolos, otomatis saya harus menghapus postingan ini, karena tulisannya akan dimuat. Kalau tidak lolos, saya akan biarkan postingan ini disini. Ini adalah dua tulisan yang saya buat dalam waktu kurang lebih sejam. Cuma satu halaman, kalau lolos seleksi, harus dipanjangin jadi 8-12 halaman kalau nggak salah. Tulisan ini akan saya endapkan dulu. Jiga naon wae :D.

Semoga saya masih ada gairah buat membuka folder novel. Eh, bukan semoga, tapi harus. Ceritanya lagi keras sama diri sendiri. Oh ya, cerita yang kedua berjudul 'Rumah Virtual' belum selesai, karena saya tiba-tiba nangis pas lagi nulis cerita itu ehehee.

------

Tema: Kisah Para Lulusan Pesantren

Mengabaikan Hipotesa
Selalu akan ada turbulensi ketika hendak mencapai garis finish. Seperti lari maraton. Tantangan terberat ada di kilometer menjelang garis finish. Antara berteriak, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan ekspresi bergairah atau bergumam pelan, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan nada kepayahan. Ketika hendak mencapai garis finish, saya kembali membayangkan apa yang saya tekadkan pada garis start. Mengingat titik-titik kilometer pencapaian dalam perjalanan ini. Dan saya mengingat guncangan terhebat dalam hidup saya, yaitu ketika memilih keluar dari pesantren setelah lima tahun tinggal disana.
Lalu saya sampai pada pertanyaan mendasar dalam hidup. Kenapa? Seperti mencari akar permasalahan. Kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, dan terus begitu sampai pertanyaan itu menemui kebuntuan. Sehingga saya memaksakan diri untuk menemukan hipotesis awal.
Kenapa dulu saya masuk pesantren?
Karena orangtua saya baru menyadari ketika sampai masa tuanya bahwa manusia memerlukan ilmu agama untuk menjalani kehidupan.
Kenapa dulu saya keluar dari pesantren?
Karena dalam benak saya ilmu pengetahuan adalah matematika, fisika, biologi, kimia, dsb, bukan nahwu, tafsir, qira’at, ushul fiqih, dsb.
Kenapa saya masih berhubungan dengan teman-teman di pesantren setelah keluar?
Karena persahabatan yang tumbuh di asrama berkembang layaknya sebuah keluarga. Tidak ada kalimat ‘hubungan kita selesai’ dalam sebuah kekeluargaan.
Kenapa saya enggan mengakui bahwa saya pernah mesantren ketika kuliah di kampus negeri?
Karena selalu ada beban dan tanggung jawab yang terlalu berat ketika diri kita sudah dilabeli sebagai ‘lulusan pesantren’. Ahli agama, diantaranya.
Cerita ini berlatar belakang renungan saya mengenai destinasi diri yang pernah tinggal di pesantren lima tahun dari tujuh tahun yang seharusnya dijalani. Memilih untuk mempelajari ilmu-ilmu umum karena pesantren saya termasuk pesantren tradisional yang hanya mengajarkan ilmu agama. Kebingungan dengan pelajaran matematika dasar ketika menjadi murid baru di sekolah umum. Lantas mengejar ketertinggalan dengan ‘nodong’ ke rumah guru dan kakak kelas untuk minta diajarkan ilmu umum, khususnya eksak.
Enam tahun setelah peristiwa keluar dari pesantren, saya merenungi kembali pilihan itu dan menemukan banyak hikmah dan ‘tangan’ Allah yang bergerak di dalamnya. Hingga perenungan itu sampai pada kerinduan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama di pesantren dulu. Mungkin lain kali saya tidak memerlukan pertanyaan-pertanyaan masalah. Mungkin lain kali saya harus mengabaikan hipotesa-hipotesa yang berkeliaran dalam kepala saya.

Tema: Orangtuaku Pahlawanku
Rumah Virtual
            Saya perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ilmuwan di bidang teknologi. Karena mereka saya bisa terkoneksi dengan keluarga saya yang sejak dulu tidak pernah tinggal satu rumah. Dalam era percepatan komunikasi seperti sekarang, kita berkumpul dalam satu ‘rumah virtual’ pada sebuah grup aplikasi pesan. Kita tidak mengenal obrolan di meja makan, sholat bersama, berdiskusi di depan televisi, atau hal-hal yang biasa dilakukan keluarga, karena kita tidak pernah satu rumah. Namun kini kita memiliki rumah virtual yang nyaman.
Dalam obrolan di rumah virtual tersebut saya baru mengetahui bahwa almarhum ayah saya adalah penikmat musik, jago main catur, dan membuat satu ruangan khusus untuk buku-bukunya tanpa ada yang boleh diizinkan masuk. Saya tidak tahu apapun tentang ayah saya karena beliau meninggal di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya. Sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa ayah saya tidak mewariskan harta banyak tapi dia mewariskan karakternya pada saya. Kecintaannya pada musik, buku, dan sifat-sifatnya. Saya menyimaknya di rumah virtual.
Di sela-sela saya kuliah, makan siang, belajar di perpustakaan, saya selalu merasa berada di sekeliling keluarga saya dan membicarakan kehidupan bersama. Sampai pada suatu hari salah seorang kakak saya memulai diskusi. “Teteh baru tahu kalau Mamah kuliah lagi untuk syarat sertifikasi. Katanya sekarang lagi KKN. Kayaknya beberapa bulan lagi wisuda.”
Lalu anggota ‘rumah virtual’ yang berjumlah sembilan orang mulai merincikan satu-satu tentang keadaan ibu saya, ibu kita. Bagaimana dia berjuang ketika suaminya meninggal, prasangka dalam pembagian warisan, terusir dari rumah, terpaksa menitipkan anak-anaknya di tempat yang berbeda, berjuang agar anak-anaknya bisa sekolah, tinggal di rumah yang kecil sendirian, dan bagaimana dia merahasiakan kesusahannya dari anak-anaknya. Dari saya.
Ketika masih kecil, saya selalu iseng bertanya kepada ibu saya, “Mah, kenapa sih Mamah punya anak malah dititip-titipin. Jauh-jauhan lagi.” Ibu saya tidak pernah menjawab. Sekarang saya baru sadar bahwa itu adalah pertanyaan yang jahat. Seharusnya tidak memerlukan sebuah grup aplikasi pesan untuk bisa mengetahui pengorbanan seorang ibu.

Continue reading Apakah ini Menginspirasi

Limabelas Maret ~

Ada apa dengan tanggal 15 Maret. Yang saya tahu tanggal 17-21 Maret adalah jadwal UP. Asik, tepuk tangan.

Hanna mendapat kabar temannya nikah tanggal 15 Maret. Teman seangkatan saya sekaligus rekan di BEM, akan dikhitbah tanggal 15 Maret. Lalu ... SAHABAT SAYA, yeah lebay. Sahabat saya, teman berbagi kebusukan (haha) selama sepuluh tahun, akan dikhitbah tanggal 15 Maret.

Itu Sabtu ini, bro. Sahabat saya dikhitbah sabtu ini menjelang saya UP. Ah, simelekete.

Saya anak bungsu (dari ayah) yang punya satu adik. Bersahabat dengan dua orang akhwat (hey, girls! I call you 'akhwat' :D) yang merupakan anak pertama di keluarganya masing-masng. Wajar lah kalau saya menjadi yang terakhir nikah.

Oh, Man ... Enjoy! Let it flow ~ and the zeng and the zong. Menghibur diri ble ... ble ... ble ... I don't care ... e, e, e, e, e ... *joged 2NE1*

Untuk mendistrak kabar yang bikin saya ngakak ini, malam ini saya harus menyelesaikan proyek lomba menulis bareng A. Fuadi. This is the project:

Saya akan ambil dua tema, yaitu Kisah para Lulusan Pesantren (aih, curhat pisan) dan Orangtuaku Pahlawanku (lebih tepatnya Ibuku Pahlawanku, sih). Well, saya harus bertanggung jawab dengan mimpi saya sendiri. Nulis yang serius, jangan nge-trash di blog terus. Sekali-kali keras sama diri sendiri, minimal sebulan sekali bikin artikel berbentuk opini. Biar nggak meracau bebas dengan EYD yang berantakan.

Terakhir, dengan motivasi nikah saya yang semakin kesini semakin rendah, kayaknya saya nggak mungkin nikah tahun ini. Tahun depan juga nggak tahu. Akhir-akhir ini masalah jodoh udah serba nggak tahu dan serba diabaikan. Saya memang gampang gagal fokus. Jadi sekali mikirin skripsi, ya udah, skripsi. Tidak ada 'kamu'. Siapapun itu. Haha, geli.
Continue reading Limabelas Maret ~

Pikiran Saya tentang UP

Yeaaaah ... saya udah ngumpulin draft. Akhirnya ... oh, God ...

Sekarang saya tinggal menunggu jadwal UP dan siapa yang jadi dosen penguji saya. Semoga sesuai ekspektasi. Demi menghargai teman-teman yang belum mengumpulkan draft, saya menghindari membuat status di Medsos tentang UP. Saya tahu kok rasanya melihat yang lain sudah UP, tapi kita masih revisi-an.

Selagi menunggu jadwal UP keluar, saya masih harus mengerjakan lima tugas bahasa arab, menghapal dialog bahasa arab tentang ... entah tentang apa, membuat resuma tentang Tekanan Intra Kranial, lusanya Peer Teaching, belum kuliah Kewarganegaraan. Heaaaah ...

Tapi kalau dibayangkan memang ribet, ketika dikerjakan biasa saja. Sama seperti beberapa hari yang lalu, saya berpikir buset saya harus ngejar dosen-dosen buat acc seminar, eh pas dijalanin biasa saja. Tinggal ketemuan, tanda tangan, senyum deh.

Saya sudah mulai membuat power point, beberapa quote tentang spiritual saya masukin. Nggak apa-apa kali ya.




Saya juga memikirkan beberapa pertanyaan yang mungkin muncul ketika UP.

1. Kenapa kamu meneliti tentang Kecerdasan Spiritual?
Karena kecerdasan spiritual itu sama seperti kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, keahlian bawaan tapi bisa dikembangkan. Dan kecerdasan ini dimiliki oleh semua orang. Bahkan ada literatur yang mengatakan bahwa diantara tiga kecerdasan ini, kecerdasan spiritual yang paling penting dan mempengaruhi dua kecerdasan lainnya. Ibarat sebuah lingkaran, kecerdasan spiritual berada di lingkaran terdalam. Nah, karena ada juga literatur yang mengatakan bahwa spiritual berbeda dengan agama, namun agama menjadi kendaraan terbaik untuk spiritualitas. Maka saya meneliti tentang kecerdasan spiritual pada perawat yang memang memiliki basis agama yang baik, yaitu Rumah Sakit Al Islam, untuk mengetahui apakah mereka mempunyai  kecerdasan spiritual yang bagus atau tidak.

2. Rumah Sakit Al Islam kan berbasis agama islam, kenapa teori yang kamu gunakan adalah teori dari Canada, bukan teori berdasarkan agama islam?
Yang pertama karena teori itu tadi, spiritual berbeda dengan agama. Spiritual lebih kepada "makna", sementara agama lebih kepada "nilai" dan "aturan". Orang yang tidak beragama bisa saja memiliki kecerdasan spiritual yang bagus, sementara orang yang agamanya bagus malah memiliki kecerdasan spiritual yang rendah. Dari awal penelitian saya sudah mengetahui bahwa kecerdasan spiritual tidak seperti kecerdasan intelektual yang memiliki alat ukur yang pasti, maka saya mencari instrumen baku untuk kecerdasan spiritual ini. Ada ilmuwan islam yang meneliti tentang ini, diantaranya Dadang Hawari dan M. Utsman Najati, tapi instrumen yang mereka buat berdasarkan nilai-nilai keislaman, sementara ilmu pengetahuan bersifat universal. Maka saya pakai instrumen yang bisa dipakai oleh orang dengan agama apapun. Entah itu muslim atau nasrani.

3. Seberapa valid instrumen ini?
Instrumen kecerdasan spiritual dibuat oleh David Brian King dalam tesisnya, sudah diuji dengan hasil ....  ng .... kayaknya untuk menjelaskan ini saya harus belajar lagi :D

4. Kenapa Anda hubungkan dengan Perilaku Sosial?
Kecerdasan spiritual dan perilaku sosial sama-sama keadaan mental seseorang dan merupakan keahlian bawaan yang bisa dikembangkan/berkembang dengan sendirinya. Pada awalnya saya ingin meneliti mengenai gambaran kecerdasan spiritual perawat yang mengikuti mentoring keagamaan. Namun kemudian muncul pertanyaan, kenapa kecerdasan spiritual perawat harus diteliti? Lalu saya menemukan literatur mengenai perilaku sosial yang dipengaruhi, diantaranya oleh budaya, agama, pendidikan, dan sebagainya. Tujuan dari mentoring keagamaan di Rumah Sakit Al Islam pun untuk membentuk karakter perawat. Nah, akhirnya saya tertarik untuk meneliti karakter perawat yang diwujudkan dengan perilaku sosial di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Lalu akhirnya muncul pertanyaan apakah ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku sosial perawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung.

5. Dalam populasi Anda menuliskan seluruh perawat di ruang rawat inap, kenapa hanya di ruang rawat inap saja yang Anda teliti?
Karena pasien dan perawat melakukan hubungan sosial selama 24 jam karena pasien menginap disana. Maka perilaku sosial perawat akan lebih terasa oleh pasien di ruang rawat inap. (pendek amat ya jawabannya -_-)

6. Mengenai perilaku sosial, kenapa hasil ukurnya bisa empat komponen ini?
Itu merujuk pada teori Moskowitz tahun 1994 yang kemudian divalidasi ulang oleh Hoessler pada tahun 2008. Jadi perilaku sosial yang saya telitimerujuk kepada sifat seseorang. Sebenarnya ada dua bagian dalam perilaku itu (teori siapa ini saya lupa di buku Psikologi Sosial Untuk Perawat), yaitu sikap dan sifat. Sikap lebih ke prinsip dalam diri, sifat lebih ke cara kita berhubungan degan orang lain (dih, saya nggak yakin dengan definisi ini. Harus baca ulang :D). Kalau dalam teori Catell, ada banyak sekali komponen sifat (harus dilihat lagi ada berapa bro), termasuk didalamnya ramah, dominan, keras kepala, dan sebagainya. Namun dalam penelitian Moskowitz ini disimpulkan empat sifat besar yaitu ramah, dominan, penurut, dan suka bertengar.

7. Lalu hasil ukurnya bagaimana?
Nah, kalau kecerdasan spiritual saya mengukur dengan scoring, sesuai dengan penelitian David King. Pada perilaku sosial hasil ukurnya adalah empat komponen tadi, ramah, dominan, penurut, dan suka bertengkar. Maka nanti pada analisa data dikelompokan jawaban dari item empat komponen ini. lalu dirata-ratakan. Komponen yang memiliki rata-rata paling tinggi akan menjawab apakah perawat ini ramah, dominan, penurut, atau suka bertengkar. Pada akhirnya akan terlihat perilaku sosial perawat di Rumah Sakit Al Islam itu apa. Lalu dikorelasikan dengan skor kecerdasan spiritual dengan memakai analisis one-way varians (Anova). Duh ... sebenarnya masih nggak ngerti dengan analisa data -_-"

8. Itu tadi perilaku sosial, ya. Coba sekarang Anda jelaskan masing-masing komponen dalam kecerdasan spiritual?
Di kecerdasasn spiritual menurut David King ini, ada empat komponen. Singkatnya adalah tentang eksistensial, transendental, makna pribadi, dan kesadaran. Yang pertama berpikir kritis mengenai keberadaan kita di dunia, jika ada yang berpikir bahwa saya di dunia hanya makan, minum, buang kotoran, tidur, lalu meninggal, maka dicurigai bahwa kecerdasan spirtualnya rendah. Bahkan jika ada perawat yang dia berprofesi menjadi perawat bukan karena keinginannya sendiri, maka bisa dicurigai bahwa kecerdasan spiritualnya rendah.
Yang kedua adalah kesadaran transendental, gampangnya adalah mengenai makna 'kebetulan'. Ketika seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi dengan sendirinya, maka dicurigai kecerdasan spiritualnya rendah. Atau dalam agama islam ada yang dinamakan ihsan, artinya adalah kita merasa bahwa kita bisa melihat Allah, jika kita tidak bisa merasa bahwa kita bisa melihat Allah, maka kita harus merasa bahwa Allah melihat kita. Nah, dalam teori ini hal tersebut dinamakan kesadaran transendental.
Yang ketiga adalah persepsi makna pribadi. Hal ini lebih merujuk kepada hubungan kita dengan manusia lain, alam, dan lingkungan. Jika eksistensial lebih ke pikiran kita terhadap diri kita sendiri. Maka makna pribadi lebih mengarah kepada kebermanfaatan kita untuk orang lain.
Yang terakhir adalah pengembangan area kesadaran ... (belum begitu paham yang ini. haha)

9. Coba jelaskan tentang alat ukur yang kamu pakai dan bagaimana kamu menggunakannya?
Alat ukur yang pertama adalah Spiritual Intelligence self-Report Inventory dengan 24 item dan memakai skala Likert. Ini merupakan tesis dari David Brian King dari trent University. Yang kedua adalah Social Behavior Inventory dengan 46 item, juga memakai skala Likert. Inventroy ini dari Moskowitz (1994), cuma saya pakai yang sudah divalidasi oleh Hoessler pada tahun 2008.

----------

Baru nulis segini saya langsung pusing. Tapi sebenarnya sebelum tanya jawab pun saya sudah akan menerangkan tentang apa yang saya tulis di atas. Saya belum pernah nonton UP, jadi saya nggak kebayang mau ditanya apa aja. Katanya sih seputar yang di atas itu. Tapi nggak tahu lah ya. Fyuuh .... saya berharap ini akan berakhir. Tapi meski saya kelelahan sampai pengen muntah setiap saat, saya bahagia karena saya belajar tentang teori spiritual dan perilaku sosial. Kan mau lanjut S2 ke Psikologi Sains, kan :p. Dan ... ceritanya malam ini saya akan buka folder novel lagi. Yeay! Setelah enam bulan nggak disentuh :D. Ada draft novel yang harus dikirim ke sebuah perlombaan bulan Maret ini. Saya nggak yakin bisa beres sebenarnya. Tapi siapa tahu ya ... yeah, siapa yang tahu. Allah lah ...
Continue reading Pikiran Saya tentang UP

10 March 2014

Berbahagialah ^_^

Alhamdulillah, setelah hari Jumat dapat acc seminar dari Pak Iyus, hari ini saya dapat acc seminar dari Pak Irman. Meski dengan melongo dulu di depan Pak Irman karena disuruh memberi contoh analisa data dari instrumen Social Behavior.

"Nih, saya isi kuesioner kamu ya." Pak Irman melingkari 46 item dalam instrumen saya. "Sekarang kamu analisa hasilnya. Saya tunggu."

Horor. Padahal saya nggak ngerti itu cara menganalisa instrumen. Akhirnya cuma saya jumlahin dan ... ternyata memang begitu caranya. Mengelompokkan data, lalu mencari rata-rata, dilihat indikator apa yang terbesar. Simpel tapi ribet. Sorenya saya langsung janjian sama Teh Mutya, senior saya di Statistik 2009. Kursus kilat mengenai metode penelitian.

Dari awal saya sudah membayangkan, sama Pak Iyus saya akan banyak berdiskusi masalah spiritual. Justifikasi saya mengambil masalah penelitian itu. Sama Pak Irman bakal ngubek metode penelitian. Salahnya adalah saya terlalu asik sama Pak Iyus, sampai saya bimbingan ke Pak Irman mepet-mepet deadline pengumpulan draft.

"Saya sudah boleh seminar, Pak?" Tanya saya ragu-ragu sama Pak Irman.

"Boleh. Asal kamu sudah bisa menjelaskan tentang hasil ukur." Jawab Pak Irman sambil menulis kata acc di Kartu Bimbingan.

Yippi. Akhirnya ... meski besok saya harus berjuang sekuat tenaga untuk meminta tanda tangan pengesahan dari Pak Iyus, Pak Irman, dan Bu dewi, kuliah dua mata kuliah lalu bolak-balik Jatiannagor-Eyckman tapi yeaaaaah ... akhirnya saya UP. UP bro ...! Semoga besok lancar >.<

Tadi pagi kata Mamah, "Bari digawean, ulah cicing."

Alhamdulillah ... banyak gerak, akhirnya acc. Kekekekeee ...

Oh ya, bicara tentang bahagia, saya sekarang sedang sangat banget (naon ieu bahasa) mencintai musik. Saya sudah jatuh cinta sama musik. Sekarang memainkan harmonika lebih mengasikan daripada naik gunung. Tapi saya tetap tertarik untuk travelling. Bukan suka naik gunungnya, saya suka jalan-jalannya.

Dalam teknik meditasi kan kita belajar mengatur pernafasan ya. Begitu juga dengan main harmonika. Itu kayak kamu nafas aja. Cuma nafas kamu berirama gitu. Asik kan.

Dan ... kemarin ketika saya pulang ke Cicalengka, saya, A Indra, dan Teh Erna belajar Cup Song seharian, dan yeeeaaaay ... saya yang paling pertama menguasai Cup Song dengan nada dan ketuka yang pas.

this is my favourite cup song ^_^

Saya sampai ketawa-tawa mainin Cup Song. Kayak kalau kita main Ampar-Ampar Pisang tahu nggak. Main musik tapi dengan konsentrasi permainan yang asik. Bikin bahagia. Yeah, saya sudah jatuh cinta pada musik seperti ayah saya yang menyukai gitar dan harmonika :)
Continue reading Berbahagialah ^_^

07 March 2014

Antara Spiritual dan Canada

Nanti pas seminar proposal, dosen bakal nanya nggak ya kenapa saya pakai teori ilmuwan dari Canada? Karena jawaban yang saya punya adalah ya nemunya itu. Teori orang indonesia nggak ada instrumen bakunya. Termasuk Instrumennya Dadang Hawari, itu mah lebih kayak instrumen buat kepatuhan muslim dalam beragama daripada tentang spiritual.

Dari kemarin saya ngelirik youtube-nya Sacha Stevenson, tapi nggak saya klik. Takut garing. Eh, akhirnya saya klik karena ada tulisan di-Insya Allah-in. Apaan tuh ada bule bawa-bawa Allah? Oh, ternyata dia orang Indonesia yang berasal dari Canada. Di akhir video itu Sacha bilang bahwa orang Indonesia itu selalu mengatakan kepada wanita, "kamu cantik deh kalau pakai jilbab." Lalu Sacha bilang, jangan-jangan kalau babi pakai jilbab jug dibilang cantik. Dan ternyata babi pakai jilbab memang cantik.

Saya sendiri nggak suka dengan omongan Sacha. Kayaknya banyak yang nyerang Sacha gitu gara-gara video itu. Tapi akhirnya Sacha bikin video permintaan maaf lewat Sacha on "JILBAB". Kaget sih mendengar ceritanya, saya jadi berpikir macam-maca. Semoga saya punya kesempatan bertemu dengan Sacha suatu saat nanti.
Sacha on "JILBAB"


Continue reading Antara Spiritual dan Canada

06 March 2014

,

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual


Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.

Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.

Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual yang pernah dia alami, dewi membuat novel berjudul Supernova. Bercerita tentang Diva, si Supernova, Bodhi - Akar - yang beragama Buddha, Elektra - Petir - yang beragama kristen, Zarah - Partikel - yang beragama islam, dan Alfa - Gelombang - yang beragama Hindu.

Dalam perjalanan menceritakan Supernova, Dewi pindah agama menjadi Buddha. Lalu setelah bercerai dari Marchell, dia menikah Reza Gunawan yang beragama islam. Dewi seorang yang cerdas, apa yang ditulisnya tentang spiritualitas yang dialami oleh tokoh-tokohnya juga gampang dicerna akal. Belakangan ini saya baru tahu bahwa pemahaman yang Dewi bawa di Supernova adalah New Age Movement. Satu Tuhan. Satu agama.

Saya bukan pengikut Dewi Lestari. Saya pembaca novel-novelnya. Dan karena tulisan-tulisannya, saya tertarik untuk mempelajari tentang spiritualitas. Prinsipnya tetap I trust my religion, Islam.

Sementara ketertarikan saya dengan Reza Gunawan memiliki cerita lain, yaitu karena Reza adalah seorang 'penyembuh' holistik. Reza adalah alumni FE UI yang mempelajari tentang pengobatan alami di luar negeri, Amerika, Tibet, India, dll. Seperti juga Dewi yang tidak berkarir sesuai dengan gelar sarjana Hubungan Internasional-nya, Reza juga melepas karirnya sebagai seorang ekonom. Dia memilih menjadi seorang penyembuh, terapis, semacam itu. Semua teori Reza tentang kesehatan selalu menjadi bahan diskusi saya dan Teh Erna, kakak saya yang bekerja sebagai bidan, sampai akhirnya saya berniat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang Reza pelajari. Saya ingin menjadi perawat holistik, seorang penyembuh yang menggunakan bahan-bahan langsung dari alam dan memanfaatkan body, main, dan spirit pasien dalam penyembuhan. Alur yang saya pikirkan tetap saya harus mendapatkan uang dari menerbitkan novel dan uangnya saya pakai untuk mempelajari penyembuhan holistik.

Kembali lagi ke skripsi. Variabel yang saya pakai ada dua, kecerdasan spiritual dan perilaku sosial. Saya semangat mempelajari kecerdasan spiritual karena novel-novel Dewi, bahkan saya berniat untuk melanjutkan S2 ke psikologi dan membuat tesis tentang spiritual. Yeah, mimpi banyak nggak apa-apa kan :D. Alurnya tetap pakai uang dari novel untuk kuliah lagi. Haha. Yang kedua adalah perilaku sosial, seru mempelajari ini karena saya jadi belajar tentang karakter orang. Lumayan buat referensi novel. Soalnya saya mau bikin novel tentang remaja yang dulu pas kecilnya didiagnosa sakit jiwa :D.

Ini adalah pikiran saya selama perjalanan dari Fkep sampai FISIP. Di depan Gedung FISIP saya lihat pohon-pohon hijau di dekat tribun stadion Gor Jati. Tiba-tiba iseng berpikir, pasti ada alasan kenapa bentuk daunnya seperti itu, pasti juga ada alasan kenapa warnanya hijau, dan ada juga yang hijau muda. Pasti ada alasan kenapa pepohonan itu warna hijau, menyejukkan mata. Atau kita katakan sejuk karena kita sudah terbiasa melihat pepohonan hijau. Kenapa dedaunan nggak warna merah saja? Kayak sajadah di mesjid illuminati :D

Agak ribet ya saya. Kalau sama mudir am (kepala sekolah) saya di pesantren, pasti saya sudah dimarahi. Apalagi kalau ketahuan saya mempelajari tentang ketuhanan. Pasti saya dianggap keblinger. Dulu juga begitu. Katanya kamu akan gila jika terus memikirkan konsep Tuhan. 

Saya membayangkan bagaimana Dewi Lestari mencapai titik spiritual center-nya. Saya belajar dari Dewi tentang perbedaan agama dan spiritual. Orang yang agamis belum tentu memiliki kualitas spiritual yang baik karena spiritual adalah urusan manusia dengan Tuhan-nya, bukan tentang nilai, doktrin, dan dogma dalam sebuah agama. Orang yang atheis bukanlah orang yang tidak bertuhan, tapi tidak menemukan Tuhan-nya dalam agama yang ditawarkan. (maaf ya Allah, kalau bahasa saya salah)

Akhirnya saya memikirkan bahwa ahli spiritual beda dengan ahli agama. Saya memikirkan ini karena mudir am pernah berkata bahwa kalian dipesantrenkan disini bukan agar kalian mengerti agama, tapi agar kalian menjadi ahli agama. Ya, ahli agama, bukan ahli spiritual. Itulah kenapa orang yang dipesantrenkan ketika keluar dari sana, bisa saja dia masih mempertanyakan Tuhan.

Ketika seseorang sudah menemukan spiritual center-nya, itulah makna dari mendekatkan diri pada Allah. Atau makna dari Allah lebih dekat daripada urat nadimu. Teman saya yang kuliah di Psikologi UPI, pernah mengajak berdiskusi mengenai Tuhan. Bahwa menurutnya Tuhan hanya ada dalam pikiran manusia. Ya, mau dimana lagi? Islam mengajarkan bahwa Allah bersemayan di atas arsy. Ada yang memperdebatkan hal tersebut, tapi saya lebih tertarik dengan Allah lebih dekat dari urat nadimu. Entah itu ada dalam pikiran kita, jiwa kita, spiritual center kita, saya percaya Allah ada.

Ketika saya sudah sampai pada perjalanan melewati Gerbang Lama (ini masih renungan perjalanan), saya duduk sambil membeli Mocacino. Akhirnya saya memikirkan tentang agama. Allah memberikan sesuatu panduan hidup, yang kita sebut agama, untuk kita agar tidak bingung hidup di dunia. Menjalankan atau mengikuti apa yang diajarkan oleh agama bukanlah sebuah keharusan, tapi kebutuhan. Kita harusnya bisa sampai pada suatu pemahaman bahwa kita butuh agama. Bukan sekedar hal yang kita anggap sebuah doktrin dan dogma dengan ritual-ritualnya.

Lalu saya jewantahkan hal itu dengan Rukun Islam. Yaitu sholat. Kemarin sore, saya berdiskusi dengan Sarita mengenai masalah spiritual karena dia mengambil skripsi tentang meditasi. Saya bilang kenapa ada orang Islam yang melarang meditasi. Bukannya yang Nabi Muhammad lakukan ketika mendapatkan kenabian di Gua Hira itu seperti meditasi? Sama seperti ... apa ya, saya lupa ... ada sebuah ritual ibadah di agama Buddha dengan membasuh bagian-bagian badan tertentu dengan air. Mirip seperti berwudhu. Tapi saya tetap memegang larangan tidak mencampuradukan hal yang batil dengan yang benar. Tidak tasyabuh juga. Eh, nggak tasyabuh sih ini mah.

Lalu sarita mengatakan bahwa ada pendapat yang mengatakan bahwa sholat juga meditasi dalam bentuk lain. Setelah mengingat diskusi dengan Sarita hari itu, saya memikirkan bahwa Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan kita untuk sholat adalah agar kita bisa menyisihkan waktu untuk menenangkan jiwa dan pikiran sehingga menemukan spiritual center kita. Bukan gurunggusuh sekedar melakukan gerakan sholat. Itu yang disebut khusyu. Meditasi juga tidak akan berhasil jika kita tidak khusyu toh. Sama seperti tujuan utama meditasi adalah menenangkan jiwa atau bagian dari penyembuhan juga. Sholat pun begitu, kalau kita khusyu. Jadi bukan sekedar Allah ingin disembah sehari lima kali, tapi itu juga cara kita untuk menjalani kehidupan yang bising ini agar tetap waras. Ada kan ayat yang mengatakan bahwa sholat mencegahmu dari berbuat kerusakan dan kemunkaran. Itu maknanya dalam banget. Orang yang sholatnya khusyu, menjadikan jiwanya sehat karena hubungannya dengan Allah (spiritual center), akan memiliki perilaku sosial yang baik.

Ada ya teman saya, no name, pesantren 6 tahun, anak Ustad yang khutbah dimana-mana, lalu dia tiba-tiba 'menikah karena kecelakaan'. Sahabat saya tiba-tiba nyeletuk, "Heran deh. Tuh anak suka sholat nggak sih. Kok kelakuannya gitu." Ketika itu saya tidak menemukan korelasinya, antara rajin sholat apa enggak dengan 'menikah karena kecalakaan'. Sekarang saya baru menemukan hubungan antara sholat dengan terhindar dari kerusakan dan kemunkaran.

Oh ya, saya jadi benar-benar tertarik dengan meditasi, yoga, dan hipnosis sekarang. Seperti layaknya Reza Gunawan yang memiliki 'Rabu Hening' dengan menjadikan kehidupannya benar-benar hening dan juga Nabi Muhammad yang bertahannus di Gua Hira. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa bertahannus itu juga kebiasaan dari Nabi Ibrahim.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Nabi. Kalau saya UP bulan ini, saya mau nonton film Noah. Cerita epik, mungkin israiliyat, tentang Nabi Nuh. Eh sebenernya nggak UP bulan ini juga saya tetep pengen nonton sih :D.

Kembali ke rukun islam, yaitu shaum. Aturan ini simpel, Allah tahu banget detail anatomi tubuh kita. Dan yang saya pelajari adalah tubuh kita akan rusak, selain karena ada kelainan dari sananya, misalkan cacat lahir, penyakit kongenital, atau organ yang memang ada kelainan, tubuh kita bisa rusak atau sakit karena pengaruh luar. Bisa bakteri, virus, jamur, apapun. Dan yang paling banyak memasuki tubuh kita adalah makanan dan minuman. Banyak makan bisa obesitas, pembuluh darah tersumbat, penyakitan. Kurang makan bisa hipoglikemi, kurang glukosa ke otak, nggak ada protein di tubuh, penyakitan. Banyak makan garam, bisa hipertensi. Banyak makan gula, bisa diabetes. Banyak makan pedas, kasihan lambung, bisa gastritis. Belum kalau merokok, alkohol, junk food, keracunan.

Dari tujuh hari dalam seminggu, Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan untuk shaum selama dua hari saja. Satu hari shaum, lalu dua hari enggak, satu hari shaum, lalu, lalu tiga hari enggak. Namanya shaum Senin-Kamis. Lalu shaum 30 hari dari 367 hari dalam setahun. Tentu itu bukan aturan iseng. Oh ya, ngomong-ngomong tentang shaum, saya diajarkan oleh Ustad saya untuk menyebutnya shaum, bukan puasa. Karena puasa itu dari bahasa sansekerta yang maksudnya hanya menahan lapar dan haus saja. Sementara shaum maknanya lebih dalam dari itu. Sensitif banget kan Ustad-Ustad di pesantren saya dalam masalah ibadah.

Nah, jadi seharusnya memang kita sampai pada kesadaran bahwa shaum itu untuk kesehatan kita. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk tubuh kita. Karena selain kebutuhan tidur, kebutuhan makan adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Oh iya, bicara tentang kebutuhan tidur, saya juga pernah berpikir tentang waktu-waktu sholat yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan waktu metabolisme tubuh kita, juga waktu gerakan matahari. Kan matahari juga mempengaruhi keadaan tubuh manusia. Karena dalam hadis juga kan waktu sholat ditandai dengan pergerakan matahari. Ih, keren ya. Saya harus banyak-banyak baca buku tentang beginian kayaknya. 

Oke, rukun iman yang selanjutnya tentang keuangan, zakat. Sejak dulu harta benda dan kepemilikan menjadi salah satu masalah duniawi yang seolah-olah menjadi kebutuhan utama. No money no live. Serem. Maka Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan tentang zakat adalah untuk menyadari bahwa ada keterkaitan kepemilikan kita dengan milik orang lain. Atau bahwa kita sebenarnya nggak memiliki apa-apa karena uang yang kita dapat dari hasil usaha sendiri sebenarnya ada rezeki orang lain. Kalau Butterfly Effect-nya Lorentz berbunyi kepakan kupu-kupu di Hongkong bisa menyebabkan badai di London, saya analogikan dengan bisa jadi bahwa keuntungan 1000 rupiah yang kita zakatkan bisa menyebabkan seorang miskin tidak jadi meninggal karena kelaparan. Keren, kan.

Masalah keterikatan dan keterhubungan, saya pernah berpikir tentang kenapa Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan dan akhirnya menghasilkan keluarga. Karena ketika kita berambisi terhadap hal-hal duniawi begitu tinggi, yang membuat kita down to earth atau menikmati kesederhanaan adalah keluarga. Saya sering menemukan, terutama wanita, yang ketika lajang dia punya ambisi untuk jadi wanita karir tapi ketika menikah dia menikmati kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga dengan malaikat kecil di dalam gendongannya. Salah satu wanita yang seperti itu adalah Dian Sastrowardoyo. Bayangkan jika kita diciptakan dari ketiadaan tanpa keterikatan dengan siapapun. Kemungkinan untuk menjadi seorang yang individualis dan egosentris akan terbuka lebih besar. Tapi dengan keterikatan erat sebagai keluarga, kita jadi belajar makna sosial hubungan antara kita dengan manusia lainnya. By the way, itu salah satu item dari sub variabel kecerdasan spiritual yang ada dalam skripsi saya -> menyadari keterkaitan antara kita dengan manusia lain.

Rukun Islam yang selanjutnya adalah ibadah haji. Karena saya belum pernah ibadah haji dan saya tahu poin-poin dalam ibadah haji itu sangat banyak, Sa'i, Thawaf, Wukuf, Tahalul, dan lain sebagainya. Saya hanya menyimpulkan bahwa Allah memberikan satu perayaan, selain idain, untuk manusia yaitu musim haji tersebut. Dan ramai kan informasi mengenai lokasi ka'bah yang menjadi titik pusat antara planet Bumi dengan langit. Atau hajar aswad yang katanya batu istimewa yang satu-satunya di Bumi. Seru ih, seru tahu :D.

Oh ya, saya melewatkan rukun islam yang pertama, yaitu syahadat, karena fokus saya sudah pada ritual keagamaan. Inti dari syahadat adalah kesaksian tentang Allah dan Nabi Muhammad. Beruntunglah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Nabi Muhammad. Dewi pernah mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencemburu, karena dia tidak mau diduakan. Untuk hal ini saya tidak terbawa teori Dewi. Ngeri Bro, dosa terbesar kan musyrik. Waktu diniyyah saya berpikir bahwa saya nggak mungkin musyrik, memangnya saya mau menyembah siapa lagi selain Allah. Tapi melihat fenomena berpikir kritis masa kini, ternyata kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bukan tentang menyembah saja, tapi juga mempercayai adanya kekuatan dan kekuasaan lain juga musyrik kan. Atau malah menuhankan diri sendiri. Dalam teori Dewi, dan juga teori Dan Brown, bahkan di teori kecerdasan spiritual yang saya pelajari, God Spot atau kesadaran Unitive adalah bahasa keren dari menuhankan apa yang ada di dalam diri (atau mungkin) pikiran kita. Ya, gitu lah. Saya nggak akan menjelaskan secara sistematis karena ini bukan skripsi.

Ternyata tulisan saya sepanjang ini. Padahal saya memikirkan tentang rukun islam selama saya menunggu ketika membeli mocaccino. Dalam perjalanan menuju kosan, saya masih berpikir tentang spiritual. Kadang saya takut apa yang dikhawatirkan teman-teman saya benar. Bahwa saya terlalu terbawa teori spiritual dari orang-orang New Age. Saya mohon ampun kalau pikiran saya salah. Dan kita memang tidak boleh menafsirkan ajaran Allah (quran maupun hadis) dengan pikiran kita saja. Nggak boleh. Makanya kita harus jadi ahli agama juga, supaya kita nggak mengawang-awang ketika ingin memahami al-quran maupun hadis. Ah, jadi pengen mesantren lagi.

Di tengah perjalanan pandangan saya berhenti mendadak pada sebuah tulisan di sebuah kafe baru. Tulisan itu besar sekali sampai orang yang cuma lewat di seberang bisa membacanya. "Kehidupan itu sederhana. Yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya." Saya berhenti beberapa detik sambil memandangi tulisan itu. Seperti tersihir. Seolah-olah tulisan itu sedang melambai-lambai ke arah saya. Lalu saya menengadah melihat langit (asli ini bukan puitisme) karena ketika berbicara mengenai Tuhan biasanya mereka akan menunjuk langit, mengisyaratkan sesuatu yang ada Di Atas. Berharap, sangat berharap, Allah menyayangi saya. Selalu. Bahwa apa yang saya pikirkan tentang spiritual, agama, dan ketuhanan, adalah cara Allah untuk mengenalkan dirinya kepada saya.

Sarita bilang, "Udah, Sar, yang penting kan kamu seneng ngerjain skripsi tentang spiritual."
Ya, entah kenapa saya selalu bahagia ketika sedang membaca atau mempelajari hal-hal tentang spiritual.

Maka sesampainya di kosan saya tidak sabar untuk menulis ini :)

>> tambahan setelah tulisan ini di-post: saya tiba-tiba ngeliat facebook sepupu saya, Dewi Noor Ainy, nge-link sebuah artikel dan saya baca. isinya agak-agak nyambung dengan renungan spiritual saya. http://m.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/lakum-dinukum-nya-quraish-shihab.htm terima kasih ya Allah, lain kali saya akan lebih bijak lagi dalam berpikir. tegur saya di dunia saja.
Continue reading Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

04 March 2014

Adik-Adikan yang Solehah Beneran

Sorry to trash ... :D

Instropeksi diri. Masa kadaluarsa saya selalu cepat banget datangnya. Di awal-awal semangat pisan skripsi sampai teman-teman banyak konsul. Eh, pada kaget karena nggak ikut UP gelombang pertama. Di awal-awal aktif nge-BEM, eh pada aneh kenapa di tahun terakhir nggak nge-BEM lagi. Di awal-awal ... kesini-kesini. Terlalu banyak sampai males nulisnya. Karena bukan ini yang mau saya tulis.

Jadi saya punya adik-adikan yang sholehah banget. Lucunya inspirasi dia adalah saya yang sholehah-nya biasa-biasa aja. Saya kenal dia tahun 2008-an. Waktu itu saya kelas 1 aliyah, dia kelas 2 tsanawiyyah. Suatu sore Ketua OSIS saya waktu itu minta tolong saya buat cari tahu sebuah pemilik nomor hape. Karena saya baik hati saya miscall nomor tersebut dan akhirnya saya malah di-SMS. Biasalah, ini siapa, tahu nomor ini darimana, lah jadi saya yang repot. Akhirnya saya bilang saya Sarah anak aliyah YTI. Diminta senior buat nge-miscall kamu. Lalu akhirnya dia bilang kalau dia juga anak YTI tapi tsanawiyyah dan yang menghubungi Ketua OSIS saya adalah temannya dia. Gitu lah pokoknya.

Namanya Dina. Kenal secara kebetulan karena insiden permintaan tolong Ketua OSIS tersebut. Suatu sore Dina nge-SMS saya dan dia bilang dia mau latihan Pramuka bareng anak aliyah. Dia penasaran ingin tahu saya yang mana. Akhirnya ketemuan lah kita di kegiatan Pramuka. Romantis ya :D.

Saya jadi senang karena punya adik-adikan di tsanawiyyah. Ketika di asrama, saya juga punya adik-adikan, namanya Rimeilda. Sama juga, dia sholehah akut. Kenapa dia mau nganggep saya kakaknya, saya juga nggak tahu. Balik lagi ke Dina, lama kelamaan saya tahu bahwa keluarganya ternyata Persis dan pada tahun 2009 akhirnya saya ikut Pemudi Persis bareng ibunya Dina.

Agustus 2009, saya ketemu kakaknya Dina yang ternyata seumuran dan seangkatan sama saya. Akhirnya kita jadi bro-broan gitu. Setelah Dina lulus tsanawiyaah dia mesantren di tempat dulu saya pesantren (3 minggu :D). Keponakan dan sepupu saya juga mesantren disana jadi saya sering main kesana. Setiap kesana saya pasti disambut sama Dina seakan-akan saya ini kakaknya yang sedang nengok. Untung dia nggak minta jajan :D.

Setelah saya lulus aliyah dan kuliah, kadang dia sering ngomentarin pakaian saya yang nggak nyantri :D. Biasanya dia nyeletuk, "Teteh kok bajunya gini sih. teteh kerudungnya kurang panjang. teteh meuni beda." Blak-blakan banget ya, mirip kayak adik kandung saya yang sering ngoceh. "Masa santri kok gini, santri kok gitu." Heuh.
KBR 2009 di Panamur

Saya udah lama nggak ketemu Dina. Terakhir kayaknya pas dia lulus muallimin tahun 2012. Kalau nggak salah dia kuliah di Al Imarat sekarang. Status-statusnya akhwat akut semua. Mujahidah dakwah banget. Ah, saya sebagai kakak boongannya merasa bukan apa-apa.

Oh ya, saya menulis ini karena barusan Dina nge-chat saya di facebook:
Hari kemarin pun saya bertemu -lagi- dengan orang yang pada akhirnya bilang ''ikh, naha mirip teh Sarah Nurul?'' Janten sok sono ka teh sarah ai tos kieu teh
Bingung mirip apanya. Mungkin karena dia salah satu fans saya, kelakuan dia jadi agak-agak saya banget. Tapi yang jelas saya bangga jadi salah satu orang terdekatnya Dina. Seenggaknya saya yang labil jadi sering disentil ini-itu sama adik sendiri.

Oh iya, ada chat terakhir dari Dina yang lucu. Buat saya sih lucu ya :p
teteh tos gaduh calon teu acan? Abi hoyong pisan ninggal teteh d pelaminan
Continue reading Adik-Adikan yang Solehah Beneran