19 September 2014

Kembali Normal

Setidaknya untuk beberapa saat, segala sesuatunya terasa normal. Ibu kembali sehat meski masih sedikit lemas. Aku kembali beraktivitas dengan jadwal yang random. Beberapa hari ini tak sengaja pulang larut malam, pun malam ini, saat tadi siang harus ke kampus untuk mengambil ijazah dan transkip nilai, bertemu teman-teman kampus yang sedang menjalani profesi dan berbagi cerita ... "Kuliah keperawatan empat tahun itu nggak ada apa-apanya tanpa profesi. Nggak lengkap. Ibarat bikin makanan, kuliah profesi itu toping-nya." Ujar Ami bersemangat. Aku tentu saja terpengaruh.

Sorenya aku ke Bandung, berencana membeli buku dan mengambil foto wisuda. Namun perhitunganku salah, hari ini hari Jumat dan Bandung saat weekend seperti tertumpah mobil di jalanan. Well, aku hanya sempat membeli buku di Rumah Buku Bandung karena jalanan macet.

Rasanya semua hampir kembali normal ketika dalam perjalanan pulang kembali merenungi banyak hal. Kuliah profesi, ya. Apa ruginya kembali belajar. Bukankah belajar itu menyenangkan. Namun tetap saja pikiranku terbebani dengan pikiran mengenai 'satu tahun yang menyesakkan'. Empat tahun saja rasanya aku megap-megap. Bukan karena kehidupan di keperawatan tidak menyenangkan, tapi lebih karena aku tidak menikmatinya. Tentu saja aku sudah berusaha memberi kesempatan, sekaligus memaksakan. Selepas sarjana aku sendiri baru merutukinya, tentang betapa seharusnya aku menikmati kuliah disana dan menjalani semua dengan optimal. Melirik ijazah Sarjana Keperawatan-ku rasanya asing dan masih mengerutkan kening ... kenapa bisa aku jadi Sarjana Keperawatan.

Mimpiku sederhana ... menjadi penulis, memiliki toko buku dan perpustakaan.

Mungkin terlihat sederhana ... memiliki pondok pesantren/boarding school dimana aku menjadi Ibu Asrama.

Sangat sederhana ... memiliki banyak waktu untuk keluarga namun mampu beradaptasi dengan dunia luar.

Apa keinginan itu terlalu tinggi?

Karena ternyata ada proposal mimpi lain yang dihadapkan, menjadi praktisi kesehatan, tentu saja di bidang keperawatan. Aku sendiri linglung darimana ini semua berawal, seakan secara tiba-tiba dunia keperawatan menyusupi setiap gardu perencanaan masa depan. "Teteh mah serius mau buka Klinik Keperawatan di Cicalengka. Kamu nanti jadi Kepala Perawat-nya. Makanya harus Ners, ya."

Pada saatnya aku kembali berserah. Seperti ketika tiba-tiba aku disekolahkan di Cicalengka, padahal aku sudah masuk sekolah di Garut. Seperti ketika tiba-tiba aku dipesantrenkan tanpa mendalami mata pelajaran MIPA. Seperti ketika tiba-tiba aku keluar dari pesantren dan kembali mengejar ilmu eksak. Seperti ketika tiba-tiba aku menjadi mahasiswa Keperawatan namun menunda kuliah Profesi Ners. Allah tidak menyuruhmu khawatir, Allah menyuruhmu ikhtiar. Ikhtiar lalu tawakal, berserah. Apa yang harus dikhawatirkan ketika hidup dan matimu ada di tangan-Nya?

Lebih seringnya aku merasa dituntun, diarahkan, dan diberi arus. Meski bagiku arus ini terkadang terlalu deras hingga membuatku limbung, terlalu dangkal sehingga bergesekan dengan lumut di bawah kakiku, terlalu sempit sehingga terbentur bebatuan di kiri dan kananku. Namun aku selalu aman dan selamat. Is that you, Dad? Yang menjagaku untuk tidak muntah, tak lecet, dan tak memar karena arus ini. Or, is that You, God? Of course, that You.

Dalam situasi statis seperti ini, aku kembali berencana. Mencari pekerjaan yang akan memperkerjakanku selama tiga bulan, Oktober-Desember. Lalu bulan Januari daftar kuliah profesi. Bekerja, berkarir, menjadi buruh, salah satu hal yang aku hindari. Toh akhirnya aku harus terjun bebas, mengikuti arus. Meski, jika dipikirkan secara zuhud, aku memiliki Madrasah yang harus diurus setelah Ibu menginstruksikanku jadi 'Kepala Sekolah'. Kepala Sekolah seorang Sarjana Keperawatan bukan hal yang aneh, kan. Juga, jika dipikirkan secara ... ambisius atau keinginan pribadi, aku memiliki proyek novel yang tidak pernah selesai. Lalu kenapa aku mencari pekerjaan? Karena Ibu. Aku punya ambisi baru, menjadi pencari nafkah untuk Ibu. Minimal aku kuliah profesi tanpa biaya dari Ibu.

Keinginan itu tidak ketinggian, kan?

Aku adalah kumpulan asuhan ... seorang anak yatim yang adaptif, berpindah tempat bertemu orang baru, seorang penurut dalam keluarga yang mengenal masalah sosial ketika hidup di asrama. Kumpulan didikan ... beberapa Ustad yang zuhud, wara, dan esktrimis, juga akademisi yang menggambarkan masa depan sebagai persaingan ilmu pengetahuan, teknologi, dan semua yang materialis. Kumpulan kekerabatan ... aktivis idealis, militan, dan terkadang birokratis, juga sahabat-sahabat yang sudah menjadi Ustad muda, penggiat Ormas Islam, dan sangat agamis. Kumpulan pemahaman dari buku-buku, artikel, ceramah, opini, dan semua informasi yang bebas berkeliaran. Tertangkap laksana binatang buruan.

Pertanyaan semacam, 'Mau jadi apa?' justru tidak mengusikku, karena sejauh ini aku selalu menjadi sesuatu yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Maka lebih seringnya aku bertanya kepada-Nya, 'Aku akan dijadikan apa?'

Jangan khawatir. Ikhtiar yang optimal. Ingatkan diri untuk tawakal.

Bagi beberapa orang menjadi normal cukup membosankan. Justru dunia ini tengah disetir oleh mereka yang gila dan tidak berpikir secara normal. Aku rasa aku tak akan betah menjalani hidup normal. Aku menunggu ledakan dalam diriku sendiri, untuk kemudian memecah berkeping, berserakan dalam setiap kehidupan, lalu terlahir kembali.

Apalah ini, tulisan ini, entah ...

Jumat, 19 Sept 2014
Ditulis tengah malam, di ruang tamu yang penuh makanan, dan aku yang menghabiskan sepuluh tusuk sate ayam selama menulis ini. Lapar sekali.
Continue reading Kembali Normal

18 August 2014

ini tulisan apa

Saya menulis ini dalam keadaan setengah mengantuk setengah mikir, tadinya mau upload skripsi ke student unpad tapi baru inget skripsi saya ada di flash disk, flash disk saya di adik saya, adik saya lagi diospek, laptopnya masih diservis. Akhirnya saya buka blogger.

Hai, apa kabar, semoga keseharian kita selalu diliputi keberkahan dari Allah. Tiga minggu saya tidak menulis di blog, selama itu pula energi saya tiba-tiba nge-jumping ga bisa direm. Ada 3 agenda dimana saya jadi divisi riweuh; halal bihalal keluarga, kado nikahan teh widya, dan nengok meilika. Asli, saya kayak kelebihan energi dan sedang royal bagi-bagi energi buat ngurusin hal-hal itu.

>> halal bihalal keluarga <<
Bertempat di Cikadut, rumah Wa Acep. Saya kembali didaulat untuk menjadi MC. Kali ini bersama A Erpin, mahasiswa tingkat akhir di Piksi Ganesha yang telat lulus dan rambutnya kayak Giring Nidji. Halal bihalal adalah satu waktu dimana saya rela keluar rumah saat musim mudik. Saya nggak mudik, tapi rumah saya di daerah mudik (Cicalengka-Nagreg). Mantep, mau ke pasar saja rasanya saya mau berangkat ke antah berantah saking semrawutnya jalan. Kalau nggak pakai motor, saya nggak mau pergi-pergian ketika musim mudik. Selama hampir 2-3 minggu musim mudik, rumah saya hampir nggak pernah sepi. Warung buka 24 jam. Kadang pemudik dan polisi nangkring di teras rumah. Santri Daarut Tauhid yang buka posko mudik di Jl. Cagak bantu memakmurkan masjid. Murid-murid saya bantu dagang. Seru.

Perasaan tadinya mau bahas halal bihalal. Bukan, mudik.

BPJS dan Pilpres jadi obrolan umum terhangat ketika halal bihalal. Nikah, apalagi. Jadi sepupu di atas saya ada 6 orang lagi yang belum nikah; A Yoma (29), A Andri (27 kalau ga salah), A Irpan (25), A Erpin (24), A Fajri (24), dan Teh Nisa (23). Saya? 22 ... ditanyain nikah sih iya, tapi masih selow. Rencananya tahun depan A Yoma dan A Andri akan menikah. Makanya saya pikir saya masih aman. Tuh kan, emang sesungguhnya saya belum niat.

Saya pernah posting hasil halal bihalal di facebook:
Kemarin keluarga besar baru saja berkumpul. Selain acara talkshow family (kabar2 keluarga), ada beberapa event yang tak kalah seru, games best couple dan aksi junior.
Best Couple:
1. A Indra dan Teh Erna (usia pernikahan 3 tahun)
2. A Esa dan Teh Teni (usia pernikahan 12 tahun)
3. A Yoga dan Teh Rosa (usia pernikahan 1 tahun)

AKSI Junior:
1. Miftah (7 thn) hafalan QS An Naba
2. Roif (10 thn) hafalan QS Nuh
3. Wafa (3 thn) hafalan QS Al Fatihah
4. Sahla (2 thn) hafalan Doa Mau Tidur dan artinya
5. Malik dan Vini (11 thn) hafalan QS Al Kautsar
6. Syahrul (11 thn) hafalan QS Ad Duha
7. Rois (10 thn) ditemani Syahrul hafalan QS Al Quraisy dan Al Bayyinah
8. Fahri (7 thn) ditemani Miftah hafalan QS Al Lahab

Alhamdulillah, silaturahmi berkah.
ttd, master of ceremony: Sarah Nurul Khotimah dan Erpin Nashruddin



>> nikahan teh widya <<
skip dulu deh, kayaknya cerita ini agak panjang

>> nengok ke memei <<
ini juga skip, deh. saya udah ngantuk berat. tadi sore saya ke madrasah dengan sisa-sisa kesadaran yang ada setelah jam 2 siang sampai ke cicalengka.

besok saya harus ke jatinangor, upload skripsi, kasih jurnal ke perpus, dan hard cover.

besok saya harus ke cileunyi, knrp jabar.

besok saya harus ke kosambi, ngambil laptop adik saya yang diservis disana.

terus ... bye.

Continue reading ini tulisan apa

22 July 2014

sedang sempat

aku sudah lama tak berceloteh disini. Sekalian saja mumpung malam ini sempat.

tadi siang aku keliling garut dengan temanku. Mengurus beberapa hal sekaligus ngabuburit. Kami membicarakan banyak hal, dari mulai sistem negara, keluarga, yahudi, sejarah nabi, ketuhanan, agama, ideologi.

kemarin selama dua hari aku disibukkan dengan agenda buka bersama protagonis dan sigap sekaligus penutupan peskil madrasah. Menyenangkan mengurusi sesuatu selain skripsi. Aku butuh kesibukan baru dan kegiatan kemarin menjadi awal yang baik.

aku dinyatakan lulus sarjana pada tanggal 17 juli 2014. Angka yang manis. Aku suka. Rasanya agak jetlag dan linglung sudah menyelesaikan kuliah, sampai aku harus meyakinkan diriku sendiri what the next? Oke, apalagi sekarang? Apakah ini saatnya untuk berhenti berputar-putar dan menjalani hidup di jalur yang sudah direncanakan?

aku tidak ikut kuliah profesi. Beberapa keluarga, teman, dan senior menyayangkan keputusanku. Hanya beberapa yang percaya aku telah mengambil keputusan yang waras. Untuk sementara aku berpikir untuk tidak ikut profesi sama sekali. Semoga aku tidak kembali berputar-putar.

secara realistis, aku butuh penghasilan. Aku mungkin akan mencari pekerjaan terdekat tanpa memberitahu ibuku. Dia agak overprotektif sekarang. Kuliah profesi jangan dulu, cari kerja tidak diizinkan. Sementara aku mulai khawatir akan jadi sarjana yang merepotkan. Daripada mengizinkan anak perempuannya bekerja, dia akan lebih mengizinkanku menikah.

sudahlah, setidaknya aku punya proyekan sampai bulan september. Sambil berjalan mungkin aku akan negosiasi masa depan dengan ibuku.

sekian dulu, saya ngantuk sekali.
Continue reading sedang sempat

08 July 2014

Melego Masa Depan

Rasanya saya seperti Tansen yang mengisi blog hanya seminggu sekali. Rasanya saya juga seperti Tansen yang hidupnya diobrak-abrik layaknya surfing dihantam ombak. Rasanya saya seperti Tansen yang siap menggimbalkan rambut ... What? Ngegimbal? Nggak, nggak. Kalau itu enggak.

Hidup itu seperti irama nada. Ada harmoninya. Dung tak tak dung tak tak dung ... Tak tak tak tak dung ... Itu ceritanya irama musik tarian di film Life of Pi. Nggak mirip, ya? Iya lah, musik dan tulisan kan nggak sama. Kalau saya pernah bilang sama, berarti saya sedang berpikir sama.

Hidup itu seperti irama nada. Kita mengharapkan harmoni yang enak didengar. Jika terdengar sumbang, mohon maaf, kamu belum belajar nada dengan benar. Tak tak tak ... musik itu terdengar indah tanpa jeda. Tahu setelah nada ini akan berlanjut kemana. Seperti ketika kita tahu hidup ini mau dibawa kemana. Uwoo, Sarah lebay, wooo.

Temanku pernah berkata, ketika kita berpikir bahwa masa depan adalah kuliah, kerja, lalu nikah, itu monoton. Ah, memangnya apa yang dia mau. Menghabiskan waktu hanya bersantai, atau bermain dari satu tempat ke tempat lain, jalan-jalan dengan the real jalan kaki, atau naik gunung setiap hari, surfing di laut, main-main. Atau yang lebih heroik merantau ke perbatasan, berkeliaran di area lawan konflik untuk membantu yang terluka. Atau memulai usaha ini dan itu. Try and error an error and try and error and try again and don't know what the goals... Atau mendaftar jadi Office Boy gedung DPR, sedikit-sedikit mencuri ilmu politik, tetiba jadi Caleg. Atau tidak peduli dengan pernikahan sampai meninggal?

Jadi, apa? Justru orang yang berkeliaran dengan kebebasannya dia sama sekali tidak bebas jika masih juga diliputi pertanyaan apa yang akan saya lakukan esok hari. Guys, kamu tidak akan pernah bebas karena dunia ini penjara.

Oke, lima paragraf yang nggak jelas. Artinya pikiran saya sedang tidak jelas. Biar saya jelaskan sesuatu, saya sudah belajar untuk tidak terlalu khawatir dengan masa depan. Tapi saya masih punya seorang ibu yang memikirkan saya setiap saat. Terkadang saya memiliki pikiran liar untuk mencuci otaknya dengan suara-suara. "Tenang, Mah. Saya baik-baik saja, oke. Sekarang tidur yang nyenyak, makan yang benar, olahraga yang teratur, dan jangan terlalu sering mengerutkan kening. Apalagi menangis."

Ayah saya sudah meninggal. Jadi tugas menenangkan ibu saya dan membuatnya berpikir rasional menjadi tugas saya sendiri. Oh, ayolah, saya jadi kayak pacaran sama ibu saya sendiri. Nggak juga sih, ibu saya pacaran sama adik saya, sahabatan sama saya. Dianalogikan seperti itu karena ibu saya dan adik saya lebih romantis daripada saya yang memang lebih ketus, sementara jika dia butuh sesuatu (butuh kurir, teman dianter kesana kemari, atau bahkan orang yang bisa mengurus adik saya) maka dia langsung menghubungi saya. Alasannya simple, karena saya satu-satunya anaknya yang belum nikah dan paling mandiri. Juga keren, yeah.

Kini hal yang sedang menjadi topik populer adalah kuliah profesi saya. Setelah empat tahun saya menyerahkan jiwa dan raga untuk melalui masa-masa indah tak indah di Fkep, maka saya sudah memantapkan dan memaksakan diri untuk ikut profesi. Lalu tiba-tiba Mamah menawarkan untuk tidak ikut profesi di bulan Agustus. What? Bukan saya tidak setuju karena ingin profesi, tapi saya berpikir daripada daftar nanti Februari mending enggak sama sekali.

Saya sudah pasrah menjadi perawat dan di detik-detik saya akan mengabdikan hidup saya menjadi perawat, ibu saya memberi saya kupon berhadiah lain. Kamu bisa stay di rumah selama enam bulan dan melakukan apapun yang kamu mau. That's it. Nggak juga sih, saya di rumah harus jaga warung, ngajar di madrasah, angkat jemuran, lipetin baju, masak, ke pasar, dan semacam itu. Gila, emak-emak banget.

Akhir-akhir ini saya dan adik saya banyak nonton  film action dan komentar kami (saya doang sih, didukung adik saya) adalah kenapa pemeran antagonisnya nggak beruntung. Misalkan di detik-detik Ron dan Hermione sudah pasrah menghadapi Nagini dan Nagini siap menyerang untuk mencabik-cabik mereka, tiba Neville datang membawa pedang Gryffindor dan menebas leher Nagini. Bas! Saya langsung protes, dih Neville jangan datang cepat-cepat dong, keseleo kek, kelilipan apa gitu, jadi Nagini bisa bunuh Ron sama Hermione dulu. Gila, psikopat ternyata pikiran saya. Atau ketika Tony Stark berkelahi dengan musuhnya di ketinggian, saya bersemangat supaya Stark jatuh lalu meninggal, dan Iron Man tamat. Ah, sepertinya saya sedang terobsesi dengan kehidupan yang selalu diperlihatkan memihak protagonis.

Rowlink pernah menjelaskannya melalui Potter yang polos, bahwa semua kehebatan yang didapatkan oleh protagonis adalah kebetulan yang bertemu dengan keinginan untuk survive. Atau kita sebut kebetulan itu adalah berkah dari Tuhan (Allah).

Mungkin sebagian orang percaya idiom 'rajin pangkal pandai', jika kamu rajin maka kamu akan pandai. Saya nggak gitu, terlihat pandai karena survive. Saya nggak rajin-rajin amat. Sering tidur di pojok sambil sembunyi di bawah meja selama pelajaran (masalahnya, kamu tahu lah, guru saya itu ustad dan ustad itu kadang terlalu banyak cerita ngaler ngidul). Saya rajin hanya ketika ada tes. Tapi setidaknya saya survive. Apa yang guru saya komandokan, maka saya laksanakan. Saya lebih suka memahami, daripada sekedar mendengarkan. Maka jika cerita guruku sudah nggak tentu arah, saya tidur. It's my survive.

Umur 16 menemukan survive baru, stripping belajar IPA. Sama seperti berperang, kadang ketakutan kamu akan menghadapi kematian lebih menguatkanmu daripada ambisi membunuh lawanmu. Saya belajar hanya karena khawatir diri saya nggak bisa apa-apa, menjadi pecundang di tengah murid-murid lama, lulus dengan nggak ngerti apa-apa, sekolah hanya untuk lulus. Pikiran itu lebih menguatkan daripada ambisi mengalahkan murid lain atau menaklukan guru. Lalu ketika umur 18 saya menemukan survive yang baru, kuliah. Saya mengikuti enam seleksi untuk kuliah. Yang lulus hanya dua: Akper Pemda Garut dan Fkep Unpad. Saya niat banget jadi perawat? Nggak. Mungkin itulah awal dari kegagalan pertama saya untuk survive. Ibarat kamu berperang di medan yang tidak kamu inginkan. Seperti Potter, si ahli sihir, dimasukan ke dunianya Percy Jackson. Itu nyasar abis tapi masih bisa dipaksakan.

Sekarang umur saya 22. Menarik. Ibaratnya saya Ksatria Penulis yang melawan Ratu Perawat (dua-duanya sama, jadi perang melawan diri sendiri gitu). Saya sudah terjebak dan pasrah untuk dimusnahkan jiwanya seperti Dementor. Lalu tiba-tiba Patronus berbentuk Richard Parker datang dan menyelamatkanku untuk sementara. Apakah saya selamat? Tidak. Saya masih berperang dan saya berada dalam kondisi super posisi antara melanjutkan hidup sebagai Ksatria Penulis atau bergabung menjadi pasukan Ratu Perawat.

Nggak ngerti, ya. Imajinasi saya terlalu kemana-mana. Maaf, saya pembaca cerita fantasi.

Jadi begini, ketika ibu saya mengatakan bahwa saya tidak perlu mengikuti profesi bulan Agustus, artinya saya memiliki waktu enam bulan tanpa ada ikatan dan kewajiban yang menuntut diri saya untuk stay and focus. Artinya apa? Artinya saya memiliki cukup waktu untuk menulis novel. Saya punya proyek novel empat tahun lalu dan karena alasan organisasi dan kuliah, saya tidak menyelesaikannya. Lalu sekarang kesempatan itu hadir dan saya harus membuktikan diri saya dalam enam bulan, mau dibawa kemana super posisi saya? Saya jadi tegang menghadapinya :)


Continue reading Melego Masa Depan

25 June 2014

banci atensi

banci atensi. saya dapat istilah ini dari sebuah artikel tentang orang yang sering menceritakan dirinya di blog/media sosial untuk dapat perhatian dari orang lain. agak sarkas bahasanya, tapi ngena. saya sendiri menulis di blog karena ingin menulis, tidak peduli ada yang baca atau tidak. terkecuali di tumblr, memang jadi sarana berbagi. kalau di blogspot, sarana curhat just to my self ...

malam ini akan jadi malam yang panjang bagi si 'skripsi abal-abal'. besok saya harus mengumpulkan draft untuk diuji pada hari jumat. ah, daftar sidang kemarin adalah hal terbodoh kedua di tahun ini yang saya lakukan karena saya daftar padahal belum siap. dan hal terbodoh pertama di tahun ini adalah daftar seminar proposal tapi belum siap. untungnya saya dapat dosen pembimbing yang nggak menyusahkan. rasanya saya sudah ingin langsung skip dan wisuda. tapi sidang ini harus terlewati.

lalu profesi.

jadi beberapa hari yang lalu ibu saya mengajak ngobrol serius (dan seseriusnya kami pasti kelihatan nggak serius). bertanya tentang kenapa saya belum bawa calon suami (yang saya respon dengan joged-joged sambil tertawa), bertanya tentang profesi ("ga wajib profesi mah. yang wajib mah sholat."), bertanya tentang keseriusanku membuat novel (tumben :p). ditambah kemarin kakak pertamaku bersama ketiga anak dan suaminya mampir ke rumah Nagreg. disela-sela pertanyaan sidang skripsi, dia berceloteh, "Siapkeun engke wisudana jang PW. Teu aya mah ngarental we."

saran macam apa itu -_-

banci atensi. kayaknya saya sudah kadaluwarsa untuk hal tersebut. dulu sih iya, sekarang rasanya nggak ada yang memperhatikan juga nggak masalah. nggak ada yang peduli kehidupan saya juga nggak apa-apa. bahkan untuk urusan menikah saya sudah lepas selepas-lepasnya. rasa-rasanya bukannya membuka kesempatan, saya malah membangun benteng setinggi-tingginya. nggak juga deng, itu terlalu lebay.

dan perjalanan skripsi ini tidak akan berakhir minggu ini. setelah sidang nanti saya harus merevisi, bimbingan perbaikan, ngurus ini dan itu, yudisium, wisuda, lalu saya baru bisa membakar sampah-sampah skripsi yang berserakan di meja belajar. saya ganti dengan proyek novel. haha.

ada beberapa hal yang saya sadari akhir-akhir ini. saya tidak terlalu ambisius lagi untuk apapun. kayak ada saklar yang nggak sengaja kepencet mati terus saya kebingungan meraba-raba dimana saklarnya di dalam kegelapan. terus nggak ketemu juga dan akhirnya menyerah, lalu tidur mendengkur.

semuanya bermuara kepada masalah profesi. sebenarnya saya sudah bertekad jadi perawat sejati #asikgitu. andai perang akhir zaman terjadi, dan mereka harus memilih membiarkan hidup si perawat atau si novelis, maka si perawat akan terasa lebih bermanfaat. oh, ayolah ... merawat orang lain itu menyenangkan. bagaimana kalau kita kembalikan ajaran nabi isa. non-materialis. jadi, kita merawat tanpa bayaran. tapi saya nggak sekaya itu untuk hidup tanpa perputaran materi. akhirnya kembali ke rencana awal, kan ... menulis karena hobi. menulis dapat royalti. merawat karena profesi. merawat tanpa bayaran.

merawat tanpa bayaran itu sangat cocok dilakukan di perbatasan wilayah. di wilayah peperangan. di area bencana. keren, ya.

banci atensi. gimana lagi, orang hidup akan merasa hidup kalau ada yang tahu keberadaan dia. apalagi kalau diperhatikan. sejak kepikiran untuk memelosokkan diri, maka terpikir juga untuk melepaskan atribut kebutuhan materi yang diracuni oleh manusia modern (ari saya bukan manusia modern kitu -_-). orang baduy saja bisa hidup tanpa uang. tapi itu memang bertentangan dengan mimpiku jadi novelis, yang tulisannya dibaca orang, yang namanya diketahui para pecinta novel, dan seminarnya ditunggu-tunggu. sebenarnya bukan itu juga sih yang dulu dibayangkan. motivasi saya menulis cuma karena saya berpikir, ah gini doang mah saya juga bisa bikin. eh, ternyata gede di omongan doang ... :p

oh ya, coba kamu pikirkan. kenapa kalau udah sidang skripsi kamu meng-upload fotomu yang sudah sidang. nanti pas udah yudisium juga. apalagi pas udah wisuda. apalagi wisuda profesi. apalagi nikah. terus ini. terus itu. butuh perhatian? banci atensi? haha. saya kira sih itu simbol. manusia itu punya label dan melalui media sosial saya memberi tahu orang label apa yang bisa kalian lihat dalam bandrol saya (bandrol?).

sarah, temennya si ini ... (ada soalnya foto mereka di fb). sarah, adiknya yang itu ... (mereka suka mention2an sih). sarah, yang suka ngomongin keponakannya (sorri, it's just ... because I love them). sarah, udah mau sidang dia mah. kayaknya agustus wisuda ... (tuh di statusnya ada). sarah, kayaknya dia belum punya calon ... (da galau wae di twitter -_-). sarah, orang bandung dia mah bukan orang garut ... (pernah baca di blognya). sarah, yang pernah nge-bem ... yang alumni persis ... yang suka nulis cerpen ... yang pilihan politiknya ga jelas ... yang ini ... yang itu ...

yeah, setidaknya saya bisa menggiring opini orang-orang untuk memberikan label saya seperti apa.

karena pernah ada juga isu yang beredar bahwa saya pernah dikhitbah ... saya dijodohkan ... saya ditungguin si anu ... atau saya nungguin siapaaa ... siapa? sampai salah seorang teman ada yang nanya dalam suasana semi-serius, 'sarah udah nolak proposal berapa kali?' lalu saya melongo, tertawa, dan menjawab. 'saya nggak pernah nerima proposal.'

percayalah, kalau saya sudah dikhitbah pasti kelihatan, kok. sadar nggak sadar saya pasti kelihatan norak karena lagi kasmaran (itu yang saya lihat pada teman2 saya yang sudah menemukan pasangannya :p). saya sendiri nggak pandai berpura-pura. saya nggak pintar menyembunyikan sesuatu. emmmh, nggak juga sih. gini-gini juga saya punya rahasia :D.

banci atensi. kadang kalau saya nge-medsos, saya ngeledek diri sendiri dulu. emang orang peduli kamu lagi ngapain, habis ngapain, mau ngapain. atau ... memangnya kamu harus membagi apa yang kamu pikirkan? tapi karena saya juga selalu iseng membaca status orang dan beberapa ada yang menginspirasi saya, maka itu jadi kuncinya, kamu harus nulis sesuatu yang bisa menyentuh hati orang, menginspirasi, dan memberikan pengaruh. bukan sekedar status sampah seperti 'duh ... ngantuk nih. dosennya kayak nyanyi opera gitu di depan.' dih, kan nggak menimbulkan manfaat untuk orang banyak. gila, sarah udah dewasa gitu sekarang :D.

tapi kadang saya masih geli buat bikin status nggak penting. jadi biasanya nyampah di twitter. kenapa coba? karena kalau mereka tidak suka dengan apa yang saya tulis, mereka bisa unfollow. yeey, siapa suruh follow saya. saya nggak di-follow juga nggak rugi-rugi amat. dan blogspot ... seperti sekarang. saya nggak tahu ya, tulisan ini penting atau nggak, tapi saya lagi pengen nulis. kalau tulisan saya sudah terlalu banyak celotehan di dalam kurung dan tulisan 'haha' berarti tulisan ini semi-gaje.

sebenarnya dari kemarin ada beberapa tulisan serius yang ingin dibuat, tentang opposite attrack, tentang gua plato, tentang menjelang ramadhan, tentang madrasah. sayangnya otakku lagi nggak bisa diajak serius karena lagi bersenang-senang dengan skripsi. ah iya, ini juga harusnya lagi ngerevisi bab empat. hehe. tapi nge-blog dulu buat refreshing.

menurutku menulis disini adalah salah satu cara membuatku tetap waras, selain haha hihi dengan si bungsu. jik ada tulisan yang tidak layak (benar-benar tidak layak, memangnya tulisanku yang mana yang layak -_-), biasanya saya simpan di draft tanpa di-publish ... seperti kemarin saya menulis sesuatu tentang feminisme, tentang gender, si estrogen dan si testosteron, si feminim dan si maskulin. karena isinya terlalu sarkas, saya simpan saja di draft bersama tulisan-tulisan hidden lainnya.

dan sesungguhnya saya heran melihat pengunjung blog ini terus bertambah. sekarang saja sudah 59.226 pengunjung. apanya yang asik dengan tulisan saya, saya jadi merasa bersalah.
Continue reading banci atensi

20 June 2014

boring ~

"Have you feel bored in your life?"

Pada tahun 2009 saya diberikan pertanyaan itu oleh seorang kawan. Malam ini mendadak saya teringat kembali dengan pertanyaan tersebut. Dulu sepertinya situasi kami tengah bosan dengan rutinitas sekolah. Kewajiban-kewajiban murid kelas 3 SMA mengenai persiapan menuju masa depan. Kuliah. Sepertinya saat itu kami begitu muak dengan tuntutan dan ketakutan mengenai pendidikan, hingga rasanya kami kuliah hanya agar mereka diam atas tuntutan-tuntutan tersebut.

Begitu naif jika kami memang kuliah hanya untuk itu.

"Have you feel bored in your life?"

Mungkin saat itu kami bosan karena rutinitas-rutinitas itu sangat tidak menyenangkan. Sangat dipaksakan. Sementara kami sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kami lakukan. Segala yang ada di dalam tubuh kami berkecamuk. Antara bosan, gelisah, dan kebingungan. Apakah Allah memerintahkan kami untuk kuliah? Ya, melalui kewajiban menuntut ilmu. Melalui kewajiban menjadi makhluk yang berpikir. Melalui kewajiban memenuhi ridho orang tua. Melalui kewajiban berperang di jalan Allah.

Bagaimana bisa kami berperang jika kami tidak mengikuti perkembangan peperangan zaman ini. Ghozwul fikri.

"Have you feel bored in your life?"

Saya tidak begitu ingat, apa yang saat itu kami bicarakan. Masa depan. Rutinitas. Tuntutan. Kehidupan. Dan apa sesungguhnya yang saat itu kami rasakan. Bosan? Jenuh? Cape? Jadi, bagaimana kami mampu mendefinisikannya jika ternyata kami sendiri tidak memahami perasaan kami. Bahkan meskipun bosan, kami tetap menjalaninya. Berharap ada titik balik melalui takdir yang muncul secara tiba-tiba tanpa kami berani menjemputnya.

Apakah ada pilihan lain?

"Have you feel bored in your life?"

Sangat bosan. Sampai rasanya ingin menangis dan marah. Kini, berada di tingkat akhir yang berkutat dengan skripsi berbulan-bulan. Saya lebih sering merasa mual dari sebelumnya. Beberapa saat saya sering merasa semangat dan excited, tapi semakin sering berhadapan dengannya, saya menjadi sangat bosan. Sangat ...

Selalu ada masa dimana rasanya saya siap balik badan. Tapi tidak berani.

Saya tidak pernah berhasil menyelesaikan apapun. Tersesat dalam rasa bosan dan menyelesaikan sesuatu dengan terpaksa. Bagaimana bisa kawanku bertanya, "Have you feel bored in your life?" kepada seorang yang mudah merasa bosan seperti saya.

Rasa bosan itu muncul saat apa yang ada dirimu merasa terasingkan dengan situasi ini. Saat apa yang ada dalam dirimu memberontak meminta kabur. Saat apa yang ada dirimu memunculkan perasaan yang tidak bisa kamu atasi. Saat apa yang ada dalam dirimu menginginkan banyak hal tapi kamu sedang bergerak konstan. Itu ... membosankan ... sungguh.
“Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?” —Firasat
Continue reading boring ~

Juni ...

Siang ini aku sampai di kampus dengan terlebih dulu sholat zuhur di mesjid. Orang-orang menamainya Mesjid Raya Unpad, secara intuitif aku tidak menyukai nama itu juga bangunannya. Tidak apa-apa, yang penting aku masih bisa sholat.

Sepanjang perjalanan dari Nagreg aku memikirkan plot cerita "Langit Baduy". Menyenangkan. Aku menyukai perjalanan, apalagi sendirian, dimana kita bisa menghidupkan imajinasi kita layaknya sebuah dunia yang perlu diperankan dan kitalah sang kreator.

Aku kira aku akan melaksanakan sidang skripsi minggu ini, maka aku membebaskan diri dari semua agenda. Ternyata aku baru bisa memulai sidang skripsi bulan Juli. Betapa aku sudah bosan dengan semua ini dan skripsi ini tidak selesai-selesai.

Kemarin selama dua hari aku membantu temanku penelitian di Panti Werdha Garut, nanti aku ceritakan apa yang aku dapat disana, termasuk ketika aku sedang berada di atas motor aku melihat teman lamaku keluar dari sebuah apotek di Garut dan aku berteriak di jalan memanggil namanya. Dipikir-pikir aku konyol sekali.

Beberapa hari yang lalu aku juga mengantar adikku registrasi ke Unpad. Dia resmi menjadi mahasiswa Unpad. Rasanya aku sangat bersyukur sudah melewati masa mahasiswa. Di-ospek, tugas-tugas, deg-degan karena telat kuliah, ujian praktek, ujian lisan, perwalian, dipanggil dosen. Ah, itu semua akan berakhir. Terkecuali ... profesi.

Ya, sepertinya aku akan profesi. Fiks. Hanya untuk menyibukan diri agar aku tidak terlihat terlalu pengangguran.

Sepi sekali hari ini di kampus. Aku baru saja menerima sumbangan majalah dari PPSDMS dan tadi aku bertemu Ale untuk mengambil majalah tersebut. By the way, buku-buku dari rumah baca asmanadia belum ada kabar. Meski begitu, kemarin aku bersemangat merombak rumah. TV yang tadinya berada di ruang atas aku pindahkan ke bawah. Digotong, berdua dengan adikku menggotong teve 21 inchi melewati tangga. Kami berhasil melakukannya sambil tertawa terbahak-bahak sepanjang tangga.

Saya sudah merombak ruang tengah, yang tadinya dipakai sebagai ruang tamu, jadi kamar saya sendiri. Alasannya satu, saya nggak mau dapet kamar di atas, itu sangat pengap. Saya biarkan kamar atas jadi kamar tamu saja. Atau kamar siapapun.

Hari ini saya juga baru menyelesaikan proposal ifthal ke Qatar Charity, lanjut membuat proposal persediaan kurma ke Darunnajah. Keduanya untuk Madrasah. Saya juga mau coba daftar beasiswa S2 ke Baznas. Siapa tahu ... Oh ya, saya ngantuk sekali sekarang. Saya akan pulang ke kosan. Besok mungkin saya ke syukuran Kang Dini di Ciparay. Malam ini mungkin saya menulis novel. Mungkin ... siapa tahu agendanya berubah. saya kan sangat mudah teralihkan.


Continue reading Juni ...