- Hari Ini
- Diah Rodiyah Juhara
kerjasama dan mengkoordinir orang itu penting yalpj kan buat hanya tugas seorang sekre aja, kalo bendahara sama anggotanya ga ngasih data ya ga kelar kan lpjnya*bukankenapa coba laporan keuangan harus ngintil ke laporan sekretarisoh termasuk ke administrasi juga ya haha - Sarah Nurul Khotimah
bukan harus dikerjain sekertaris sih, tapi bendaharanya ngerjain (kan dia yang punya data) tapi ditemenin sekertaris kalo ditagih susah.ditungkulanya tanya kendalanya dimana? ada yang ga ngerti? ada data yang hilang? namanya juga belajar team work, bantu si bendahara buat menyelesaikan tugasnya. tapi ula diculkeun*ulahkan koordinasi - Diah Rodiyah Juhara
nah itu, dd ga ngerti dd punya wakil tapi dd ngerjain sendiriga bisa nyuruh orangkenapa coba wakilnya ga hideung sendiri nanyain --"nah kalo bantu bendahara, dd nya suka ikutan mumetsuka ngerasa egois gimana gitu, tapi kalo lagi nyalse suka dibantuin sih --"salah dd nya juga yang tidak berani berkata-kata - Sarah Nurul Khotimah
jadi dia punya barrier di dirinya, yg ga mau nanya duluan, minta kerjaan duluan. kalo barrier kan terbukanya emang harus diserang sama kitanyaatau karena makna wakil selalu diartikan kalo kerjaannya adalah mewakili jika ada yg ga bisa dikerjain ku dd. terus wakilna ngerasa dd bisa melakukannya - Diah Rodiyah Juhara
oh ga bisa nyerang, terus dd nya kaya yang ga percayaan soalnya bendahara aja suka lebih ngaret daripada dd yang sama-sama kelas 12jadi takutnya kalo dibagi-bagi malah tambah molor pekerjaannya --"alay - Sarah Nurul Khotimah
pokoknya kalo mau ngerjain kerjaan orang lain, meski emang dia yg untung kita yg cape. tetep izin aja dulu. kayak misalnya, "eh laporan harusnya masuk tanggal 25 loh, maaf ya daripada ngaret saya kerjain dulu. tapi kalo kamu mau ngerjain sekarang ga apa2."kalo teteh sih pengalaman malah punya sekertaris menteri yg sibuk banget sampe ga pernah ngirim tugasnya.teteh udah bilang deadline nya tanggal 30 tiap bulandan dia harus ngirim dulu ke teteh tanggal 28 supaya bisa dibaca dulu sama tetehkalo misal tanggal 29 dia ga ngirim2, biasanya teteh ancang2 bikin laporan sendiriterus kalo tgl 30 ga ngirim juga teteh tegurkalo lebih dari tgl 30 dia ga ngerjain, teteh bakal bilang udah ga usah dikerjain, udah beres kok. - Diah Rodiyah Juhara
dd mah te wantun negur, isin pasti bilangnya sambil sinis --"oke terimakasih telah mendengarkan kicauan sayadd kuliah kamana nya - Diah Rodiyah Juhara
ya wajar umm keduanya SITH ITB gitu?oh iya tadi kan dibagiin hasil kuisioner tentang minat pekerjaan, dd minat kerjanya lebih ke guru, dosen,psikologi yang bisa ngaruhi orang lainwkwkwkwk - Diah Rodiyah Juhara
euh, masalahnya temen sekelas yang se-sekolah rank-8 mau kesanasoalna anu lebih rendah ti FMIPA eta, SITH kan aga baru bilih unpad alim dijadikan yang kedua - Sarah Nurul Khotimah
psikologi unpad jeung fisika upi atuhari nilai dede bisa masuk psiko unpad teu? - Diah Rodiyah Juhara
ga tau, nah kalo prediksi nilai biasanya di GO suka ada, tapi kalo di lesan dd sekarang ga ada tehtapi taun kemaren pas dd di GO kalo mau masuk FMIPA itu rata-ratanya 85, berapa gitu, nahdd masuk kategori sihnah, fmipa 52,94 pend. fiisika :39,51 fisika : 43,08 psikologi : 53,28
18 October 2013
16 October 2013
[Dialog Kakak-Adik] Kuliah Jurusan Apa, Ya?
Ehfan’s (S?). Sejak Balita kita dibesarkan
dengan bahasa kerinduan. Selalu merindu satu waktu dimana tanggal merah
menandakan kita rehat sejenak dari dunia yang sudah kita bangun di kota yang
berbeda; Garut, Cimahi, Bogor, Sukabumi, Bandung, lalu kembali ke sebuah tempat
yang kita sebut rumah.
Tidak pernah terbayang saya dan adik saya
yang dulu kerjaannya ketawa lari-larian di rumah atau cekikikan bersembunyi di balik
selimut, sekarang menikmati liburan dengan duduk berhadapan untuk membicarakan
suatu hal yang lebih serius. Kita bukan lagi dua bocah yang joged-joged di
depan tivi ketika acara musik anak-anak, mengganggu kakak-kakak kita yang
sedang belajar, atau sekedar mengacak-acak kamar yang baru saja dirapikan.
Adik saya sudah berhenti merengek minta
diceritakan dongeng tiga saudara yang diberi keajaiban oleh malaikat, dongeng
yang sudah puluhan kali saya ceritakan dengan nyanyi-nyanyian yang sebenarnya
nggak nyambung. Adik saya sudah berhenti meminta digendong, yang bahkan dulu
kakinya yang mungil masih bisa bertengger di kedua bahu saya. Sekarang kami sudah sama-sama besar, dia
berumur 17, saya 21.
Minggu (13/10), ketika kita sama-sama
kembali ke ‘rumah’ dan berbagi kegelisahan dari dunia masing-masing, sama-sama
terjebak macet dan kesulitan mendapatkan kendaraan di Limbangan di waktu yang
berbeda, sama-sama resah dengan Tugas Akhir, dan … entah dimulai dengan apa,
saya sendiri tidak ingat, obrolan semakin serius.
“Jadi di sekolah Dede itusudah ada kuota yang
lulus SNMPTN Undangan 70 orang.Terus kata guru Dede, kita itu harusnya bisa
memprediksi dengan nilai yang kita dapat kita pantasnya masuk kemana.
Kebanyakan kan siswa itu ekspektasinya pada tinggi-tinggi, pengen ke
Kedokteran, pengen ke UI, pengen ke ITB, tapi kita nggak sadar kalau ada yang
nilainya lebih tinggi dari kita.”
“Orang punya cita-cita kan nggak punya
batas kali.”
“Yaa, kalau nilainya kurang terus mau masuk
ke level yang tinggi, kuncinya ya … do’a.”
Sama seperti Fajri, sepupu saya, yang
akhirnya bisa lulus Pendidikan Dokter karena keajaiban doa ibunya. Bayangkan
saja, beberapa bulan sebelum dia diterima disana dia harus konsultasi
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dulu sama saya. Pelajaran SD.
“Tapi emang iya sih.Teteh pernah baca
artikel dari Unpad, katanya kemarin kuota SNMPTN Undangan di Unpad nggak
terpenuhi gara-gara pendaftarnya nggak cerdas dalam milih jurusan.”
“Iyaaa …” Adik saya berseru dengan penuh
semangat.“Makanya sekarang di sekolah Dede diatur kuotanya. Nah, yang bisa masuk
Kedokteran itu cuma satu orang, yang jadi juara umum. Itu juga kalau dia mau
ngambil jurusan itu.”
Nah loh, apalagi ini? Pengebirian
cita-cita. Secara otomatis siswa di SMAN 1 Garut nggak bisa lulus Kedokteran
kalau si juara umum daftar ke Kedokteran juga. Dan si juara umum pasti galau mau
milih ke Kedokteran atau tidak. Kalau misalnya passion dia bukan disana, dia
atau gurunya atau orangtuanya pasti menyayangkan kalau kesempatan ke Kedokteran
nggak diambil sementara teman-temannya ingin kesana. Terus dia sudah divonis
harus masuk ke Kedokteran karena sistem ini gitu? Oh, world.
“Terus Dede mau daftar kemana?”Akhirnya
saya melontarkan pertanyaan wajib keluarga di masa kini, selain pertanyaan
tentang mana calon suami saya.
“Nggak tahu. Kata senior Dede yang di FMIPA
ITB, kan di ITB mah mulai penjurusannya di tingkat dua. Terus katanya kuliah di
FMIPA ITB tuh susah-susah, sampai pusing.”
“Ya iya lah, A Heri saja muntah. Nggak
sanggup.”Saya menyebutkan kakak kedua saya yang pernah kuliah di jurusan Fisika
FMIPA ITB tapi mengundurkan diri.
“Tapi katanya kalau mau daftar ke
Astronomi, harus dari awal pas mau daftar ke FMIPA bikin surat pernyataan kalau
kita mau daftar ke Astronomi.”
“Yakin mau daftar ke Astronomi?” Saya masih
bertanya heran. Sejak saya bikin proyek novel yang tokohnya freak dengan
habitable zone di eksoplanet dan makhluk ekstraterestial, adik saya jadi ikut
membicarakan Astronomi. Saya sendiri suka Astronomi karena ketika di pesantren
saya menyukai ilmu falaq, semacam ilmu perbintangan. Dan yang terbayang oleh saya
jika adik saya kuliah di Astronomi adalah dia akan jadi ilmuwan. Membantu saya
membuat novel fiksi ilmiah tentang Venusian.Yeah, proyek apalagi ini Miss
Deadline?
“Nggak tahu.”Jawaban khasnya sambil
merengek.“Kalau kata Mamah sih terserah Dede maunya dimana. Bebas saja. Teh Ami
juga kan kuliahnya di Fikom, tapi sekarang kerjaannya dagang.”
“Siapapun kan bisa dagang. Tapi kalau
memang sudah tahu mau atau sukanya jadi apa, ya mending dijalani yang itu.
Empat tahun loh kita berkutat dengan ilmu yang itu-itu saja.”
Ini salah satu dialog proyek novel saya
perasaan. Proyek novel sepanjang masa.
“Kan Dede belum tahu mau jadi apa. Lagian
Mamah mah kalau masalah kuliah pasti ngelihatnya ke Teh Ami yang nggak perlu
kerja sesuai dengan gelar sarjananya. Kok ke Teteh nggak ya?”
Saya cuma manyun. Mamah memang dulu nggak
pernah memaksakan saya mau kuliah kemana atau mau jadi apa, selulusnya saja.
Tapi sejak saya kuliah di keperawatan, dia sering protes kalau saya sudah mulai
sibuk di depan laptop membuat cerpen atau novel. Dia lebih suka saya melakukan
sesuatu yang berhubungan dengan keperawatan. Mungkin dia takut saya kebablasan,
hanya melakukan apa yang saya sukai dan lupa kalau saya ini mahasiswa
keperawatan. Dia selalu lupa, atau pura-pura lupa sampai saya bisa lulus
sarjana, kalau cita-cita saya adalah jadi penulis.
Akhirnya saya berinisiatif untuk mengabsen
fakultas-fakultas yang ada di Unpad untuk menggali minat adik saya dimana, dua
fakultas yang ada di DU, Hukum dan Ekonomi sudah pasti tidak masuk daftar.Kedokteran
dan Kedokteran Gigi juga sudah dia blacklist. Maka saya mulai dari
FISIP.
“Suka diskusi masalah sosial sama politik nggak? Mau masuk FISIP?” Hanya
itu clue yang terpikirkan ketika menyebut FISIP.
Adik saya menggeleng. Dia mengaku lebih suka
diam mendengarkan jika ada orang lain sedang berdiskusi karena lebih seringnya
jika dia bicara, orang-orang nggak paham dengan maksud yang dia bicarakan. Wajar.
Karena saya sendiri kadang nggak ngerti dia ngomong apa.
Ketika menyebutkan FIB, adik saya tertarik
di sastra, terutama Sastra Jepang. Tapi rasanya adik saya terlalu ‘otak mesin’
untuk kuliah di jurusan sastra.Lalu saya beranjak ke Keperawatan, fakultas saya
sendiri. Sebelum dia bicara panjang lebar tentang ketertarikannya saya sudah
mencegah, “Jangan, deh, jangan.”
“Kalau Perikanan dan Ilmu Kelautan?”
Adik saya menggeleng sambil mengerutkan
kening.
“Pertanian?Peternakan?”
Adik saya kembali menggeleng dengan
ekspresi yang sama.
“Teknik Industri Pertanian?”
“Bedanya sama yang tadi apa?”
“Kalau pertanian bahan mentah. Kalau teknik
industri pertanian bahan baku. Lagian anak SMA kenapa sih kalau bahas fakultas
pasti fakultas kesehatan sama ilmu-ilmu yang pernah dipelajari di sekolah;
MIPA, ekonomi, sastra.”
“Ya, kan nggak ngerti nanti mau ngapain.
Emang sih kalaupun masuk pertanian bukan berarti bakalan jadi petani tapi kan
pasti ada hubungannya dengan tanam menanam. Kan nggak ngerti.” Adik saya juga mengutip
dialog proyek novel saya, ketika tokohnya mengatakan ‘masuk pertanian bukan
berarti bakalan jadi petani’. Proyek novel yang nggak kelar-kelar, by the way.
“Kalau farmasi?”Saya kembali mengabsen.
“Jangan.Teman Dede ada yang mau daftar ke
Farmasi terus nilanya lebih kecil dari Dede. Jadi dia bilang Dede jangan daftar
SNMPTN Undangan ke Farmasi, nanti dia yang nggak lulus.”
“Ya biarin sih.” Saya protes. “Kalau gitu
daftar Farmasi di ITB saja.”
“Ah, jangan juga. Soalnya teman Dede ada
yang mau daftar kesana terus nilainya lebih besar dari Dede. Nanti Dede yang
nggak lulus.”
Sistem-yang-aneh.
Adik saya juga bercerita kalau temannya ada
yang tertarik di jurusan Fisika. Temannya ini sangat jago di fisika sampai
sering mengikuti olimpiade fisika.Tapi nilai keseluruhannya kecil. Jadi dia hanya
harus berharap teman-temannya tidak ada yang daftar di jurusan fisika juga. Ini jadi
lebih seperti persaingan diantara teman satu sekolah. Bukan seleksi
nasional. Malah lebih seperti seleksi terencana satu sekolah.
Akhirnya saya menawarkan MIPA dengan
jurusan-jurusannya. Adik saya ternyata berminat di Statistika, Fisika, dan
Matematika. Tapi ketika saya mengatakan bahwa kalau mau masuk FMIPA mending di
ITB saja, adik saya kembali tidak pede dengan pressure di ITB.
“Lagian Dede nggak mau cuma fokus di ITB
atau Unpad saja. Peminatnya pasti banyak.”
“Terus dimana lagi? UPI? UIN?” Saya
menyebutkan dua kampus negeri lain di Bandung karena memang perjanjiannya adik
saya tidak akan kuliah di luar Bandung. Alasannya simpel, Ibu.
“Emang kampus negeri di Bandung cuma empat
itu aja?” Adik saya melongo.
“Iya lah. Tapi jangan UPI deh, udah lah ITB
atau Unpad aja. UPI itu jauh tahu.” Entah karena pengaruh teman-teman UPI di BEM
SI atau pengaruh teman-teman saya di Sastra UPI, saya lebih suka adik saya jadi
mahasiswa ITB atau Unpad saja.
Dan ketika saya menyebutkan FTG Unpad, adik
saya tertarik hanya karena jaket himpunan mereka berwarna oranye. Tapi saya
tidak menyarankan dia masuk FTG, selain karena memang kehidupan FTG agak keras,
sementara adik saya manja tingkat dewa, saya juga tidak pernah paham
bersosialisasi dengan anak FTG yang saya kenal di kampus.
Yang terakhir adalah psikologi. Sebenarnya
ini adalah fakultas yang sangat saya sarankan. Hanya saja adik saya, seperti
juga saya, sangat lemah di hafalan dan lebih tertarik dengan eksakta. Tapi saya
lebih kuat baca, baca buku jenis apapun, daripada adik saya. Jadi kalau adik saya
kuliah di psikologi saya bisa membaca buku-buku psikologi tanpa harus menghafalnya.
Sama seperti saya baca buku-buku ilmu komunikasi milik Teh Ami karena saya
‘ingin’ membacanya, bukan karena saya ‘harus’ membacanya.
Adik saya juga bercerita kalau dia pernah
mengisi semacam kuisioner dari guru BK-nya tentang peminatan tapi belum ada
hasilnya. Dia juga bercerita tentang nilainya di semester ini yang akan
menentukan dia bisa mengambil jurusan apa saja di SNMPT Undangan nanti.
“Tahu nggak kenapa SNMPTN Undangan sekarang
pakai nilai rapot?”
“Kenapa emang?”
“Di Undang-Undang Perguruan Tinggi itu ada
pasal yang menyebutkan bahwa Negara tidak boleh memungut biaya untuk seleksi
nasional ke PTN. Kan dulu waktu Teteh daftar SNMPTN yang IPC, Teteh bayar
150.000. Friska sama Veni ikut IPA, bayar 100.000. Itu bayar buat apa coba?”
“Nggak tahu.”
“Buat nge-print soal, fotokopi soal, beli
tinta, beli kertas, bayar pengawas. Kan butuh uang. Nah, kalau misalkan Negara
nggak boleh mungut biaya dari peserta SNMPTN, dari mana mereka dapat uang buat
bayar ini itu. Nggak ada. Ya jadilah mereka ubah sistemnya jadi daftar online
pakai nilai rapot. Yang repot siapa? Sekolah. Yang ngeluarin biaya untuk online,
untuk fotokopi berkas siapa? Peserta. Dan SBM kenapa masih mungut biaya dari
peserta? Karena penyelenggaranya bukan Negara, tapi MRPTN, Majelis Rektor PTN.”
And … you know what? Setelah menjelaskan
tentang SNMPTN, saya otomatis menjelaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang
diterapkan tahun ini di PTN. Obrolan yang tadinya santai semi serius jadi agak
mirip kajian sosial politik karena yang dibahas adalah sistem. Sistem yang
katanya pakai sistem satu birokrasi pemerintahan, sistem yang katanya menganut
asas berkeadilan. Kalau dulu dikenal dengan Bidik Misi bayarnya gratis, SNMPTN
bayarnya murah, SMUP bayarnya mahal. Sekarang, lulus melalui seleksi mana pun,
siapa pun bisa daftar Bidik Misi, siapa pun bisa bayar murah, dan siapa pun
bisa bayar mahal. Sesuai dengan gaji orang tua dan tanggungan. Siapa yang dapat
menjamin data yang benar? Siapa yang dapat menjamin sistem yang
berkeadilan? Allahu a’lam.
Selasa (15/10). Banyak sistem
berubah. Banyak kehidupan yang berubah. Sama seperti dua bocah yang kini
memikirkan kehidupan dengan masalah lain. Bukan lagi tentang kenapa Usagi, yang
berubah menjadi Sailor Moon, memiliki rambut yang panjang sampai
lutut. Sementara Shinchan yang sudah TK tingginya pun hanya selutut orang dewasa. Kenapa
Anna di film Amigos keningnya nong-nong. Kenapa pemeran Mariana dan Silvana
diganti. Dan … bahkan dua bocah yang dulu selepas sholat idul adha berlari-lari
ke Madrasah untuk melihat pemotongan binatang kurban, kini memilih tidur
sepanjang hari menghabiskan waktu liburan sebelum kembali ke tempat
masing-masing dan mengerjakan semua tugas sambil begadang tanpa ada waktu untuk
tidur siang.
Everything is change.
11 October 2013
JKN dan Tatanan Dunia Baru
Suatu sore di teras Sekre …
“Kalau dari SJSN ini grand issue yang bisa diangkat
apa sih, Teh? Yang jadi permasalahan besar dari kemunculan sistem ini.
Kira-kira apa, Teh?” Tanya Jaya Sukmana, mahasiswa Farmasi 2011 yang juga rekan
saya di organisasi.
Saya mengerutkan kening, memikirkan jawaban yang pas. Dalam
BPJS Kesehatan dan JKN yang dari tadi kita diskusikan saja permasalahan besar
yang muncul hanya dua. Iuran dari peserta ke BPJS, yang akhirnya menimbulkan
protes dari buruh, dan pembayaran BPJS ke Rumah Sakit, yang juga menimbulkan
penolakan dari beberapa Rumah Sakit yang jadi tempat uji materi JKN.
Kembali ke sistem, akhirnya saya berkicau tentang ‘tatanan
dunia baru’ yang dianggap sebagai solusi permasalah dunia sejak PD 1 berakhir.
“JKN kan memang mengikuti sistem kapitalis Amerika. Bener kata Menkes yang dulu, JKN ini neoliberal. Satu tatanan pemerintahan memang tujuannya membuat
ketergantungan rakyat sama Negara. Kalo kamu mau hidup sejahtera di Negara ini,
maka ikutilah aturan yang ada. Yaitu iuran. Iya kan? Oke lah kita nggak bahas
masalah laba dan alokasi dana dulu. Tapi apa dampak dari sistem ini? Negara
memberi kesejahteraan untuk orang yang sakit? Ya. Siapapun yang ingin sakit,
sakitlah. Silahkan, kalian bisa sakit dengan bebas. Jangan takut sakit karena
biaya berobat sudah ditabung, kan. Pertanyaannya adalah, kenapa Negara menjamin
orang sakit akan sehat, meski tidak 100%. Bukan orang sehat tidak akan sakit?”
“Lebih ke kuratif ya, Teh. Nggak ada usaha preventif-nya.”
Komentar Jaya.
Saya mengangguk bersemangat. “Salah satu agenda ‘tatanan
dunia baru’ adalah mengurangi populasi manusia di Bumi. Planet ini sudah
terlalu penuh sementara alam sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia.
Mereka merencanakan untuk mengurangi 93% dari populasi manusia yang sudah ada.
Caranya? Program Keluarga Berencana, memelihara peperangan, menciptakan
virus-virus. Dan … membiarkan penyakit menjadi sesuatu yang wajar.”
Jaya mulai tertawa mendegar ocehan saya. “Konspirasi ya,
Teh. Pentagon.”
“Yaa, iyaa.” Saya ikut tertawa mengkhawatirkan ocehanku yang
mulai terdengar konyol. “Tapi masyarakat kan nggak aware dengan isu itu.
Yang mereka sadari hanya perubahan sistem dari yang asalnya bernama Askes,
Taspen, Jamkesmas, Asabri, dll, menjadi JKN dengan pembayaran yang berbeda.”
Seperti UKT. Pikiran yang selalu terlintas ketika saya
mempelajari JKN.
“Ada hal lain yang lebih masuk akal untuk memlihara
kesehatan di Indonesia.” Saya melanjutkan ocehan saya. “diantaranya adalah
menjaga harga makanan tetap terjangkau. Buah-buahan, sayur-sayuran, susu,
daging, dan semua makanan sehat seharusnya bisa dijangkau oleh siapapun.
Mengingat Negara kita adalah Negara agraris, seharusnya mendapatkan pangan
sehat tidak terlalu bermasalah. Program preventif itu hanya masalah habitual
kok.”
Setelah menyadari diksusi ini sudah melenceng dari yang
seharusnya, kita menyelesaikan pertemuan dan menulis terlebih dahulu beberapa
kesimpulan yang tadi sudah dibuat. Ya, sebelum saya kembali mengoceh mengenai
Yahudi, konspirasi, tatanan dunia baru, dan sebangsanya.
Sebelum saya membahas novel Dan Brown yang penuh konspirasi. Apalagi di novelnya yang terakhir, Inferno, dimana organisasi tersembunyi memang sedang mencoba untuk melenyapkan beberapa populasi manusia. Tuh kan, jadi pengen beli novel Inferno -_-
Sebelum saya membahas novel Dan Brown yang penuh konspirasi. Apalagi di novelnya yang terakhir, Inferno, dimana organisasi tersembunyi memang sedang mencoba untuk melenyapkan beberapa populasi manusia. Tuh kan, jadi pengen beli novel Inferno -_-
05 October 2013
Cancel Meng-cancel itu Membuat Saya Pusing
Mungkin saya dikenal sebagai orang yang sering membatalkan janji. Entah berapa kali saya diprotes kedua sahabat saya, Dhya dan Salma, karena sering nggak bisa mengikuti pertemuan. Tapi kegiatan cancel meng-cancel itu selalu saja terjadi. Bukan hanya dari sayanya, tapi dari orang di sekitar.
Seperti kemarin saat saya sudah janjian dengan teman di BEM KM IPB untuk menghadiri Jurnalistic Fair pada hari Sabtu (5/10), sudah memesan tiket, sudah bilang sama kakak perempuan saya kalau saya akan menginap di rumahnya, lalu tiba-tiba dengan mudahnya datang Jarkom dari atasan kalau hari Sabtu ada rapat Kabinet Inti. Karena saya bermoral, maka saya mendahulukan tanggung jawab daripada berkunjung ke Jurnalistic Fair. Oke, dengan berat hati saya cancel kepergian saya ke Bogor.
Dan ... you know what, tepat hari jumat jam 8 malam, sehari sebelum rapat digelar, dengan seenak pikirnya rapat Kabinet Inti itu di-cancel. Ya, itu membuat saya pusing karena saya sudah tanggung meng-cancel tiket Jurnalistic Fair dan kalaupun mau berangkat besok pagi, saya harus berangkat subuh sekali. Hhhzzzz ....
Akhirnya saya tidak pergi ke Bogor dan seharian belajar tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Agenda besoknya hari Minggu (6/10) kedua sahabat saya itu sudah minta saya datang ke Soreang, sementara itu Kabinet Inti membuat acara jam 10.00-14.00 hari Minggu di Dago. Jauh, kan. Well, karena Kabinet Inti sudah membuat saya meng-cancel acara ke IPB dengan sia-sia maka saya putuskan untuk ke Soreang terlebih dahulu.
Dhya minta hari Minggu janjian di Leuwipanjang jam 10.00, maka saya sudah bersiap akan berangkat jam 09.00 dari Jatinangor. Dan ... tada! Tiba-tiba ada informasi talkshow "Habitable Zone di Eksoplanet" jam 10.00-13.00 di ITB. Pusing, aku benar-benar pusing. Talkshow mengenai astronomi adalah talkshow yang benar-benar langka, apalagi di Unpad. Dan saya excited! Kenapa? Karena saya sedang merampungkan sebuah novel yang mana tokohnya memikirkan kehidupan lain di luar planet Bumi. Saya harus datang, tentu saja saya harus datang. Tapi bagaimana dengan janji saya menghadiri pernikahan teman saya di Soreang?
Ini benar-benar membuat perut saya mual.
Akhirnya saya berteriak dalam hati sambil melihat poster Astra Ganesha "I am not going. Oke?!!" dan ... apa yang terjadi saudara-saudara? Jam 08.11 pagi hari di hari Minggu sejam sebelum saya berangkat ke Leuwipanjang, Dhya bilang bahwa dia akan pergi dulu ke kampusnya di Cimahi jadi kita akan berangkat lebih siang. You! What the ... eugh.
Jam 09.00 saya sudah rapi, sudah mandi, siap berangkat. Berangkat kemana? Soreang? Dago? ITB? Oke, saya sudah izin akan sampai lebih siang di Dago. Lalu bagaimana? Kalau saya berangkat ke ITB, saya hanya bisa disana sebentar karena saya harus berangkat ke Soreang. Sempat terfikir untuk ikut saja talkhsow di ITB sampai selesai dan setelahnya langsung ke Dago. Jadi saya akan meng-cancel untuk pergi ke Soreang. Tapi itu memang gagasan yang buruk. Pasalnya adalah jika saya membatalkan pergi ke Soreang kedua sahabat saya akan kecewa, jika saya membatalkan pergi ke Dago maka Kabinet Inti yang kecewa (like I care), jika saya membatalkan ke ITB, saya sendiri yang sangat amat merasa dirugikan, dikecewakan, dan yeah ... it's my passion. atulah ...
Saya semakin mual saja memikirkannya.
Mungkin pilihan saya salah, mungkin saya terlalu mulia, dan ... entah apalah artinya keputusan saya yang sekarang, jam 10.00, memilih masih di Jatinangor menunggu Dhya memberikan pesan untuk bersiap berangkat ke Soreang.
Perutku mual diantara isak rengekan ingin pergi ke ITB. Mungkin bodoh saya nggak memilih pergi ke ITB disaat saya sedang mengalami block writer's dengan novel bertema astronomi ini. Yeah, saya tahu saya memang selalu tidak cerdas dalam urusan memilih. Ini menyesakkan ~
Seperti kemarin saat saya sudah janjian dengan teman di BEM KM IPB untuk menghadiri Jurnalistic Fair pada hari Sabtu (5/10), sudah memesan tiket, sudah bilang sama kakak perempuan saya kalau saya akan menginap di rumahnya, lalu tiba-tiba dengan mudahnya datang Jarkom dari atasan kalau hari Sabtu ada rapat Kabinet Inti. Karena saya bermoral, maka saya mendahulukan tanggung jawab daripada berkunjung ke Jurnalistic Fair. Oke, dengan berat hati saya cancel kepergian saya ke Bogor.
Dan ... you know what, tepat hari jumat jam 8 malam, sehari sebelum rapat digelar, dengan seenak pikirnya rapat Kabinet Inti itu di-cancel. Ya, itu membuat saya pusing karena saya sudah tanggung meng-cancel tiket Jurnalistic Fair dan kalaupun mau berangkat besok pagi, saya harus berangkat subuh sekali. Hhhzzzz ....
Akhirnya saya tidak pergi ke Bogor dan seharian belajar tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Agenda besoknya hari Minggu (6/10) kedua sahabat saya itu sudah minta saya datang ke Soreang, sementara itu Kabinet Inti membuat acara jam 10.00-14.00 hari Minggu di Dago. Jauh, kan. Well, karena Kabinet Inti sudah membuat saya meng-cancel acara ke IPB dengan sia-sia maka saya putuskan untuk ke Soreang terlebih dahulu.
Dhya minta hari Minggu janjian di Leuwipanjang jam 10.00, maka saya sudah bersiap akan berangkat jam 09.00 dari Jatinangor. Dan ... tada! Tiba-tiba ada informasi talkshow "Habitable Zone di Eksoplanet" jam 10.00-13.00 di ITB. Pusing, aku benar-benar pusing. Talkshow mengenai astronomi adalah talkshow yang benar-benar langka, apalagi di Unpad. Dan saya excited! Kenapa? Karena saya sedang merampungkan sebuah novel yang mana tokohnya memikirkan kehidupan lain di luar planet Bumi. Saya harus datang, tentu saja saya harus datang. Tapi bagaimana dengan janji saya menghadiri pernikahan teman saya di Soreang?
Ini benar-benar membuat perut saya mual.
Akhirnya saya berteriak dalam hati sambil melihat poster Astra Ganesha "I am not going. Oke?!!" dan ... apa yang terjadi saudara-saudara? Jam 08.11 pagi hari di hari Minggu sejam sebelum saya berangkat ke Leuwipanjang, Dhya bilang bahwa dia akan pergi dulu ke kampusnya di Cimahi jadi kita akan berangkat lebih siang. You! What the ... eugh.
Jam 09.00 saya sudah rapi, sudah mandi, siap berangkat. Berangkat kemana? Soreang? Dago? ITB? Oke, saya sudah izin akan sampai lebih siang di Dago. Lalu bagaimana? Kalau saya berangkat ke ITB, saya hanya bisa disana sebentar karena saya harus berangkat ke Soreang. Sempat terfikir untuk ikut saja talkhsow di ITB sampai selesai dan setelahnya langsung ke Dago. Jadi saya akan meng-cancel untuk pergi ke Soreang. Tapi itu memang gagasan yang buruk. Pasalnya adalah jika saya membatalkan pergi ke Soreang kedua sahabat saya akan kecewa, jika saya membatalkan pergi ke Dago maka Kabinet Inti yang kecewa (like I care), jika saya membatalkan ke ITB, saya sendiri yang sangat amat merasa dirugikan, dikecewakan, dan yeah ... it's my passion. atulah ...
Saya semakin mual saja memikirkannya.
Mungkin pilihan saya salah, mungkin saya terlalu mulia, dan ... entah apalah artinya keputusan saya yang sekarang, jam 10.00, memilih masih di Jatinangor menunggu Dhya memberikan pesan untuk bersiap berangkat ke Soreang.
Perutku mual diantara isak rengekan ingin pergi ke ITB. Mungkin bodoh saya nggak memilih pergi ke ITB disaat saya sedang mengalami block writer's dengan novel bertema astronomi ini. Yeah, saya tahu saya memang selalu tidak cerdas dalam urusan memilih. Ini menyesakkan ~
All Video About BPJS Kesehatan (Mendadak KTI)
Executive Forum BPJS
http://www.youtube.com/watch?v=SZYbqak-L9U
Resume Seminar Jaminan Sosial di Sumbawa
http://www.youtube.com/watch?v=mY9HKcWJyMk
Jamkesmas 2012 dan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan
http://www.youtube.com/watch?v=S1tH4fIivpM
Dialektika Demokrasi "Tolak KJS dan Nasib BPJS"
http://www.youtube.com/watch?v=KQv2EwSaV-M
dan lain-lain. kalo udah buka satu video kayaknya video yang lain bermunculan. saya udah ngantuk, waktu sudah menunjukan pukul 03.09 WIB. let's sleep, my dear.
http://www.youtube.com/watch?v=SZYbqak-L9U
Resume Seminar Jaminan Sosial di Sumbawa
http://www.youtube.com/watch?v=mY9HKcWJyMk
Jamkesmas 2012 dan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan
http://www.youtube.com/watch?v=S1tH4fIivpM
Dialektika Demokrasi "Tolak KJS dan Nasib BPJS"
http://www.youtube.com/watch?v=KQv2EwSaV-M
dan lain-lain. kalo udah buka satu video kayaknya video yang lain bermunculan. saya udah ngantuk, waktu sudah menunjukan pukul 03.09 WIB. let's sleep, my dear.
