29 August 2013

,

Seperti Daun yang Jatuh

Saya berharap tidak menjadi daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Ketika hampir semua anggota keluarga terikat dengan balas budi (kecuali kakak pertama, mungkin). Tiba-tiba obrolan tentang balas budi menyangkut kepada masalah pernikahan. Layaknya Siti Nurbaya.

Tidak seekstrim itu. Saya sendiri yang sering mengatakan bahwa rasanya tidak ingin saya menikah dengan orang yang baru saya kenala.k.a dijodohkan. Itulah kenapa saya tidak tertarik menggunakan cara taaruf, membuat proposal, menghubungi murabi, dan sejenisnya. Saya berharap menikah dengan orang yang sudah mengenal saya. Itu karena kepribadian saya agak ... sulit. Lalu, entah darimana dan sejak kapan, pikiran tentang menikah dengan sepupu sendiri terlintas.

Waktu itu saya memastikan kepada partner di organisasi yang agak islami bahwa sepupu kita bukanlah mahrom. Dan memang bukan.

Sepupu saya baik. Saya sangat mengenal kepribadiannya karena sudah hidup bersamanya sejak saya sudah bisa mengingat. Bahkan saya sempat membuat tulisan tentang kita di http://zohrahs.blogspot.com/2011/04/ceritanya-kang-ujrot-dan-neng-bahrul.html

Saya dekat dengan sepupu saya sejak saya masih bisa mengingat momen. Umur 4 tahun. Ketika itu dia sudah berumur 6 tahun dan sudah belajar membaca. Karena saya tinggal bersama keluarganya sejak umur 4 tahun, maka teman bermain saya baru dia saja. Karena dia sudah belajar membaca, menulis, dan berhitung, maka umur 4 tahun saya melakukan hal yang sama. Jadi ketika umur 5 tahun saya sudah lancar membaca.

Saya masuk sekolah umur 5 tahun, sementara sepupu saya umur 7 tahun. Sepupu saya bungsu dan ga mau sekolah kalau tidak ada yang menunggui. Tapi ketika disekolahkan bersama saya, otomatis dia memaksakan diri untuk berani sekolah karena punya tanggung jawab. Hari pertama sekolah saya duduk sebangku dengannya. Entah sampai berapa hari saya lupa. Sampai-sampai jika ada teman yang iseng sama saya, teman yang lain suka ngeledek. "Jangan ganggu dia. Nanti dilaporin loh sama sepupunya."

Padahal dia lebih manja dari saya karena bungsu ^_^

Kita main bareng di rumah maupun keluar rumah. Kecuali di sekolah. Karena kita punya sahabat sendiri. Saya lebih seperti asistennya dia ketika main.

Sekolah bareng sampai saya umur 16, dia 18. Sampai saat itu saya masih menganggap dia teman sekolah, teman bermain, saudara seumuran. Apalagi sebelum saya paham kalau kita bukan mahram.

Suatu ketika uwa yang menjadi ibu sepupu saya itu nyeletuk ke ibu saya. "Sudah saja Nurul jangan di ke siapa-siapain."
lalu obrolan mengalir tentang kemungkinan saya dan sepupu saya menikah. Saya tahu ini dari kakak pertama saya yang ada di tempat kejadian perkara.

Ibu saya cuma menjawab, "Gimana Nurul saja itu mah."

Saya tinggal dengan uwa saya sejak umur 4 tahun. Tentu saja uwa tidak pernah meminta balas budi. Tapi jika saya menikah dengan anaknya mungkin itu akan terlihat sempurna.

Sepupu saya adalah bungsu yang sangat dimanja dan anak laki-laki satu-satunya. Dan dia satu-satunya dokter dan yang pernah nyantri diantara kita. Pengorbanan uwa untuk menyekolahkannya di asrama dan ke kedokteran lumayan berat. Terutama uang untuk sekolah ke kedokteran yang sepertinya sudah mencapai 200 juta. Kalau saya menikah dengan sepupu saya setidaknya apa yang sudah diberikan kepada anak bungsunya tidak akan mengalir kepada wanita lain yang tidak dikenal uwa saya.

Uwa saya pernah bercerai. Dia juga memiliki beberapa sifat yang keras. Saya sudah sangat kenal itu, bahkan saya mengenalnya melebihi saya mengenal ibu saya sendiri. Dan istri sepupu saya akan menjadi menantu perempuan satu-satunya dan mungkin dia berharap menantu perempuan satu-satunya itu akan memahami dia.

Dan terlebih alasan lain adalah karena mungkin uwa sudah mengenal saya dengan baik. Dan lebih dari apapun uwa tahu kalau saya dan sepupu saya itu sudah jadi soulmate.

Semoga sepupu saya menemukan soulmate lain dalam hidupnya ^_^
Continue reading Seperti Daun yang Jatuh

27 August 2013

Si Nyonya Besar Jadi Tuan Puteri

"Hanafi, ada yang nyari tuh."
"Siapa?"
"Nyonya besar."

Saya yang saat itu tengah menungg di depan kelas A, kelasnya Hanafi, langsung mengerutkan kening. Sejak kapan saya disebut Nyonya Besar? Tapi Hanafi tidak bertanya siapa itu Nyonya Besar, RG yang lain juga tidak heran ketika menyebut Nyonya Besar lalu ketika dilirik keluar ternyata saya tengah berdiri sambil melipat tangan.

Resmilah mulai saat itu saya dipanggil Nyonya Besar.

Tentu saja saya dipanggil Nyonya Besar bukan karena tubuh saya yang besar. Sejak kecil saya sudah diledeki 'rorongkong hirup' oleh Ardi, teman di SD, teman ngaji, dan teman di pesantren. Jadi, satu-satunya alasan saya dipanggil Nyinya Besar adalah karena saya otoriter, selalu menginstruksi, galak, ketus, dan sepertinya menyebalkan. Persis Nyonya Besar yang dengan menyebut namanya saja orang-orang sudah mengkeret, melihat saya lewat langsung menunduk. Saya tidak pernah, sangat tidak pernah, memikirkan ingin dihormati, disegani, ditakuti, bahkan dimusuhi. Mana saya tahu kalau sikap saya ternyata terlalu galak sama mereka.

Masuk kampus, saya kembali menjadi orang baru. Pendiam, tentu saja. Ayah saya sangat pendiam, jadi kalau saya pendiam itu berarti saya sedang memerankan gen ayah saya. Memasuki organisasi di tahun ketiga yang bagi saya lebih seperti terapi sosial buat saya. Hah.

Kemarin saya minta tolong, minta tolong loh ya, bukan menginstruksikan atau memerintahkan, atasan saya untuk menyampaikan pesan. Lalu dibalas dengan 'oke, tuan puteri'. Tersanjung? Enggak. Saya lebih merasa tersindir. Waktu kecil saya diledekin tuan puteri oleh ibu asuh saya kalau saya mengeluh ketika diminta cuci piring, ngepel, nanak nasi, dll. Jadi entah kenapa sebutan tuan puteri ini saya anggap bahasa halus dari teman-teman asrama saya yang memanggil saya nyonya besar.

Ada pula salah satu staff saya yang menyebutkan kalau saya otoriter.
Apa iya saya masih otoriter? -_-
Continue reading Si Nyonya Besar Jadi Tuan Puteri

26 August 2013

Selalu Tentang Kalian dan Selalu Tentang 'Itu'

Dua hari kemarin adalah dua hari yang istimewa, menakjubkan, spesial ... makanya saya publish :)

Hari minggu pagi saya datang ke FIB untuk menonton Opera Budaya. Saya bertemu dengan Utsman, teman sekelas di pesantren yang bawel dan bigos-nya nauzubillah. Buktinya, baru saja bertemu setelah beberapa bulan bukannya taqabalallahu mina wa minkum, dia malah komentar. "Ngapain disini? Mau nengokin adik?"

Bete tapi ngakak juga dengernya. Adik kelas kami memang ada yang masuk FIB tahun ini, kakaknya pernah hampir jadi 'calon' saya tapi nggak jadi. Dia nikah duluan sementara saya kuliah. Saya sudah kenal sama orang tuanya, sudah dekat sama adiknya, makanya kedatangan saya ke FIB langsung dianggap mau nengokin 'adik'. Weh weh.

Ketika masih nonton Opera Budaya, tiba-tiba sahabat saya, Dhya, kirim SMS dan ngajak ke Ciwidey. Entah kesambet apa sampai dia memaksa saya untuk datang. Sampai-sampai dia bilang akan mejemput saya ke Jatinangor kalau saya mau ikut. Akhirnya, karena saya baik hati dan kangen juga dengan kekonyolan kita, saya bilang saya akan ikut dan kita akan ketemuan di Leuwi Panjang. Meninggalkan semua urusan-urusan saya di Sekre.

Saya nggak pernah sadar kalau saya butuh liburan sampai dhya ngajak saya ke Ciwidey. Meski kalimat pertama yang keluar ketika bertemu dengan sahabat saya, pastilah selalu ..."Anti, kamana wae??!"

Saya memang termasuk orang yang paling nggak pernah kumpul angkatan. Biasanya saya selalu datang demi bertemu Dhya dan sahabat saya yang lain, Salma, tapi sekarang Salma sudah menikah dan juga jarang datang. Dhya kerja di Subang. Jadi saya juga males buat datang. Biasanya juga, saya datang bersama sepupu saya, Fajri, tapi dia kuliah di jakarta dan hampir tidak pernah pulang. Itulah kenapa saya, dan juga Fajri, dikenal sebagai si 'rendah motivasi dalam bersosialisasi'.

"Kapan terakhir ke Soreang?" Tanya Dhya ketika kita melewati Soreang.
"Tahun kemarin ketika haflah imtihan."
"Terakhir kali kumpul angkatan?"
"Pas buka bersama tahun 2011."

Karena memang kita jarang bertemu, maka hari itu kita memanen semua obrolan-obrolan tentang kehidupan kami masing-masing. Dhya sibuk sebagai wanita karir di Subang dan saya sibuk menjadi aktivis mahasiswa yang aneh baginya karena saya jadi tukang demo. Padahal 'calon'nya seorang aktivis seperti saya, eks-Presma di sebuah kampus di Bandung dan sekarang aktivis di organ ekstra juga di sebuah lembaga motivator.

"Saya sudah nggak ngerti lagi sama si Aa. Sibuknya minta ampun. Hari ini saja ada empat agenda. Kamu tahu apa cita-citanya?"
"Apa?" Tanyaku saat kita makan jagung bakar di seberang tugu Wisata Kawah Putih.
"Jadi Presiden. Dia selalu bilang, bagaimana kalau tiba-tiba Aa ada di baligo itu. Saya bilang nggak mau. Tapi sekarang saja dia sudah aktif di partai. Punya banyak agenda besar di organ esktra yang dia ikuti."
"Saya juga nggak mau punya suami yang terjun ke politik." Komentar saya sambil menerawang. Entah karena saya sedang muak dengan politik atau saya memang tidak mau memiliki suami seorang politikus.

Hari itu juga Dhya bercerita mengenai progress-nya untuk menikah. Paling cepat tahun depan, nunggu calonnya menyelesaikan skripsi, meski saya sudah bilang biasanya aktivis sesibuk dia sudah tidak memiliki porsi untuk menyelesaikan skripsi jadi lebih baik nikah saja tanpa harus menunggu lulus. Tapi Dhya nggak mau, sayang katanya.

"Terus renacana kehidupan kamu gimana?" Dhya menanyakan ini ketika kami sedang menikmati pemandangan Situ Patenggang.
"Banyak sih. Tapi belum begitu jelas selama saya nggak tahu partner hidup saya siapa. Kemungkinan besar rencana hidup saya berubah kalau saya sudah punya suami. Nanti mau tinggal dimana, boleh kerja atau nggak, ada yang harus diprioritasin apa enggak."
Dhya mengangguk paham, tapi tak urung bertanya. "Anti tuh kenapa sih sebenarnya? Nggak ada cowok yang ngedeketin apa gimana?"
"Ada sih ..." Saya langsung membayangkan orang-orang di sekeliling saya akhir-akhir ini. Orang yang dicengin sama saya gara-gara saya kejedot tembok pas buka bareng, yang gara-gara partner di organisasi, yang gara-gara saya bilang mau jadi pendamping wisudanya, yang gara-gara diskusi UKT, yang gara-gara ketemu di KKN, dan gara-gara yang lainnya yang saya sendiri nggak ingat.
"Terus kenapa? Nggak ada yang cocok? Anti terlalu pilih-pilih deh kayaknya."
"Nggak juga. Rata-rata memang nggak ada yang serius, Dhy. Cuma jadi dagelan doang. Yaa, santai saja lah, ada calon juga pasti saya harus lulus dulu. Jadi mending entar aja sekalian."

Obrolan beralih ke bahasan yang lain tentang kuliah, kesibukan, kegiatan angkatan. Karena saya termasuk sangat jarang kumpul, saya jadi telat mendapatkan info tentang Hanafi, rival saya di pesantren, sudah punya anak. Abdul Qodir, rival juga karena kita pernah punya masalah, juga sudah menikah. A Fahmi, juga adiknya Fatimah, yang keduanya saudara jauh, dua-duanya sudah menikah. Si ini dekat dengan si itu. Si ini sebentar lagi menikah. Hampir setengahnya angkatan kami sudah menikah. Yeah, mungkin karena kita anak gadis berumur 21 tahun. Pembahasan tentang menikah, dakwah di jalan nikah (halah), jadi lumayan menarik.

"Pokoknya saya lebih setuju kalau kamu menikah dengan yang seikhwah." Kata Dhya tiba-tiba. Maksudnya adalah menikah dengan orang Persis. Atau simpatisan Persis. Sebenarnya saya lebih suka menyebutnya yang sesuai dengan ajaran quran hadis.
"Ya, saya juga maunya gitu. Kebayang kan kalau kita mau sholat aja beda. Yang satu harus pakai niat, saya enggak. Doa buka shaum pake allahuma laka sumtu, saya dahaba doma'u. Anak saya nanti bingung. Tapi siapa Dhy? Saya kayaknya udah dianggap murtad dari aktivis Persis sih."
"Anti juga sih, menarik diri dari Persis. Kalau saya nggak kerja saya pasti aktif di persis."

Berjam-jam kami mengobrol, dari sejak bertemu di Kopo, di motor, di Situ Patenggang, di seberang tugu Kawah Putih, di rumah, kami nggak pernah kehabisan bahan untuk ngobrol. Saya sampai lupa apa saja yang kami obrolkan.

Malamnya saya tiba-tiba dapat wall facebook dari Salma, dia bilang pengen ketemu. Mungkin dia dapet firasat atau bisikan jin persahabatan kalau saya dan Dhya lagi barengan tanpa dia, jadi waktunya tepat banget dia minta ketemuan karena saya sedang di Bandung.

Keesokan harinya Dhya berangkat lagi ke Subang, sementara saya pergi ke rumah Salma. Dia sedang menidurkan anaknya ketika saya datang, berbeda dengan Dhya yang saya juluki wanita karir, Salma itu sudah jadi ummahat. Kita berdua masih Ummahatul Ghad :D. Jadi sekarang bukan lagi persahabatan Bandung-Garut-Tasik, tapi persahabatan wanita karir - istri sholehah - aktivis mahasiswa.

Sama seperti kalau bertemu Dhya, kami tidak pernah kehabisan obrolan. Dan obrolan yang paling menarik adalah mendengar aktivitasnya di Persis. Dia jadi Ketua PJ Pemudi Persis Sekebolek. Aah, seneng dengernya. Saya tahu kalau dia tidak menikah muda dia juga akan jadi aktivis di BEM-nya. Saya ingat dia pernah cerita hampir jadi calon Ketua BEM di kampusnya. Salma juga bercerita tentang orang-orang yang saya kenal, yang mereka terpilih menjadi ketua tapi langsung mundur dengan dramatis, nangis berjam-jam. Dulu juga begitu, Musda PJM Himi Persis yang saya hadiri dengan Salma muncul air mata dari sang Ketua Terpilih, malah sambil marah-marah. Selalu begitu.

"Sebenarnya saya juga pengennya nolak jadi Ketua Jamaah. Saya disini orang baru. Tapi Ummi kan Ketua PC Pemudi. Mana dia juga pernah bilang, pokoknya ada hadis yang mengatakan bahwa kita akan kena azab Allah kalau diberi amanah tapi kabur bahkan sebelum amanah itu dijalani. Dia bilang begitu ke orang, masa anaknya sendiri kabur dari amanah."

Saya cuma tersenyum. Salma masih seperti dulu. Dewasa tapi polos. Apa adanya tapi punya prinsip. Kami lebih banyak mengobrolkan perkembangan Fathna, anaknya, tentang bagaimana ketika dia melahirkan, bagaimana ketika Fathna sakit, dan pengalaman-pengalaman menakjubkan memiliki anak pertama. Saya hanya ikut menceritakan bagaimana saya melihat perkembangan Sahla, anak sepupu yang tinggal serumah dengan saya di Cicalengka.

"Kok Sarah kalem ya. Nggak kayak Dhya yang menunjukan ekspresi pengen nyusul punya anak." Tanya A Uus, suaminya Salma.
Kita berdua tertawa.
"Bentar lagi lah Dhya mah." Komentar saya. "Nunggu apa lagi coba."
Tiba-tiba saya merasa diingatkan kenapa saya harus sibuk di organisasi, kenapa saya harus sibuk mengejar passion saya, kenapa saya dititipi ibu dan adik bungsu saya. Karena Dia tahu jodoh saya masih jauh. Entah dimana. Mungkin saya belum kenal.
"Anti tuh kenapa sih? Emang sekarang susah deket sama laki-laki apa gimana?" Pertanyaan yang sama dengan Dhya. Tentu saja mereka berdua heran, saya bukan tipe orang yang susah didekati meski agak galak, zaman di pesantren juga meski saya banyak dimusuhi, terutama oleh ikhwaners, tapi yang suka juga ya ada lah. Anehnya, mungkin, kenapa ketika masuk kuliah tidak ada kabar kalau saya akan menikah cepat, sudah punya calon, atau apapun.
Sekali lagi saya cuma bisa senyum sambil bilang, "Nggak tahu. Belum dateng aja kali."

Sebelum pulang saya sempat melihat-lihat rumah Salma yang sedang dibangun. Baru selesai sekitar 90%. Rumahnya lucu, belum jadi saja saya suka. Ke depannya, entah sendiri atau mengajak seseorang, saya pasti sering mampir kesini.

to be continued ...
Continue reading Selalu Tentang Kalian dan Selalu Tentang 'Itu'

10 August 2013

Mari Nyampah~

Setelah gamang antara ingin mengisi tumblr atau blogspot, dan juga gamang menulis di blogspot lalu dihapus lagi setelah selesai menulis, akhirnysa saya sadar bahwa hal itu membuat saya berhenti menulis.

Sekarang ketika saya masih sebagai bagian dari BEM, rasanya saya harus hati-hati setiap saya menulis sesuatu di media sosial. Bukan hanya karena tulisan saya sampah, tapi karena terkadang tulisan saya di blogspot ini dikomentari orang. Dikira saya peduli.

Tiga postingan yang saya tulis baru-baru ini lalu langsung saya hapus. Saya akui bahwa saya masih tidak bisa menguasai diri ketiks menulis. Semua yang saya fikirkan saya tulis tanpa difilter. Kadang difilter sih kalau lagi baik.

Dan ... rasanya rugi tidak pernah menulis lagi. Karena otak saya jadi karatan ketika menulis. Karatan banget.

Jadi, oke, saya akan menulis dengan menulikan diri. Atau menulis tapi disimpan di draft. Toh kebiasaan menulis dan disimpan di draft sudah saya lakukan dari dulu. Ayo mulai menyampah, membuang semua sisa-sisa cerita kehidupan yang sudah tidak bisa ditampung tubuh. Menyimpannya dan mengambil ampas kebermanfaatan dan ... saya sudah harus berangkat ke cicalengka bareng a riki sekarang. see ya :p.
Continue reading Mari Nyampah~

24 June 2013

,

Sore yang Menyebalkan

Beberapa jam lalu rasanya semua terasa normal. Saya berada di rumah, bercanda dengan adik saya, mem-bully keponakan saya yang enggan ikut Pesantren Kilat karena dia kira akan ada ‘kilat’ disana. Bersama kakak ke-1 dan kakak ke-4 yang sedang hamil, kakak ke-2 yang istrinya juga sedang hamil, lalu telfon-telfonan dengan kakak ke-3 yang tidak bias ikut acara kemarin.

Yeah, ini suatu momen yang mahal bagi saya, bagi kami, bagi ibu saya. Sejak umur 4 tahun saya, kakak ke-3 dan kakak ke-4 sudah pisah dengan ibu, kakak ke-2 saya pisah sejak SMP. Kenapa? Ibu saya sedang tertekan, frustasi, ditinggal mati suami. Terlalu kasar jika dikatakan gangguan psikologi, ditambah gangguan finansial. Masa suram. Hal itu berpengaruh kepada saya, saya tidak pernah sanggup berada pada situasi yang tertekan. Saya terlahir di tahun berkabung bagi ibu saya.

Kami akan berkumpul utuh hanya satu tahun sekali ketika idul fitri. Itu pun hanya 1 atau 2 hari. Setelah keempat kakak saya menikah lalu saya dan adik saya tinggal di kosan dan menjadi aktivis, momen kumpul ini semakin mahal saja. Mahal sekali. Padahal saya tahu, ibu saya membutuhkan kami lebih dari apapun. Tahun 2013 ini tahun berkabung itu terulang kembali dan rasanya dejavu, ibu saya berkabung tanpa anak-anak. Tuhan menjauhkan kami, entah kenapa.

Lalu terjadilah … celotehan ibu saya, meski tidak dikatakan secara serius, malahan sambil bercanda, bahwa dia selalu sedih ketika makan sendiri di rumah. Hal itu malah bisa membuat dia ingin menangis. Saya melirik adik saya, adik saya nyengir, kita sama-sama nyengir padahal dalam hati rasa bersalah kita meunumpuk tinggi. Di kampus, saya pernah belajar mengenai ibu yang sedang dalam masa menopause akan lebih sensitif dan mudah sekali tersinggung. Malahan dalam kasus yang diberikan oleh dosen dikatakan bahwa sang ibu merasa anak-anaknya sudah tidak peduli lagi pada sang ibu karena sudah pisah rumah. Well …?

Saya tidak tahu, benar-benar tidak tahu apa maksud Tuhan, menjadikan saya aktivis di Jatinangor, adik saya di Tarogong, lalu ibu saya tinggal sendiri di Nagreg. Apa salah satu diantara kami harus mengalah? Atau kami harus sama-sama mengorbankan ibu kami? Pengorbanan yang menurut saya sangat mahal.

Saya pun tidak tahu apa yang ada di pikiran rekan-rekan saya yang ada di BEM ketika saya mengeluhkan posisi saya ini. Meninggalkan ibu saya sendiri untuk mengurusi BEM. Saya muak, saya benar-benar muak dengan keputusan saya sendiri. Semua perasaan ini secara holistik hanya saya yang bisa memahami. Saya tidak menyalahkan jika banyak yang tidak paham. Karena itu saya tidak pernah lagi bawa-bawa ibu saya ketika saya merasa ingin resign. Cari-cari alasan lain apapun, karena mereka mmeinta alasan. Alasan untuk bisa mereka sanggah. Dan sanggahan yang paling mengerikan adalah sanggahan pada alasan tentang ibu saya. "Kamu bisa menyeimbangkan antara keluarga dan organisasi." Apa mereka pikir saya robot yang jasad dan pikirannya bisa berpindah dalam sekejap. Karenanya saya benci kalau harus bawa-bawa lagi alasan keluarga ketika saya meminta resign. Karena mereka akan mencoba menyanggahnya, menganggap ini bisa diselesaikan dengan mudah. Perasaan bersalah saya. Dosa terbesar bagi saya.

Lalu komentar, "Perasaan pulang mulu deh." yang buat saya merupakan komentar paling sadis tahun ini. Apa yang harus saya lakukan? Tidak peduli dengan keadaan ibu saya. Hey, ibu saya pernah sakit satu minggu dan dia tidak memberitahukannya kepada anak-anaknya. Saya sering pulang hanya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Saya sering pulang magrib ke rumah dan subuhnya ke Jatinangor lagi hanya untuk melihat ibu saya sehat dan harus ke Jatinangor lagi karena ada agenda BEM. Helo ... apa saya harus sebutkan satu persatu kerugian apa saja yang dialami ibu saya ketika anak-anaknya tidak ada, apa harus saya ceritakan air mata apa saja yang saya lihat dengan mata saya sendiri pasca dia menjanda.

Jika keluarga saya utuh, kedua orang tua saya baik-baik saja, bahagia sentosa, saya tidak akan pulang sesering itu. Saya juga capek bolak-balik Garut Jatinangor. Kalau boleh memilih saya juga ingin istirahat di kosan, main dengan teman-teman, main kemana pun saya mau, tanpa harus dihantui bagaimana ibu saya di rumah. Berharap ada seseorang yang menjaganya, yang rela melakukan apapun untuk ibu saya, yang menganugrahkan hidupnya hanya untuk menjaga ibu saya. Dan nyatanya adalah, kami, anak-anaknya yang harus menjaganya. Bukan yang lain. Dan demi apapun saya benci kosan saya, saya benci tinggal di kamar kosan sendirian dan tidak tahu ibu saya sedang apa.

Dan saya sudah menahan amarah saya jika ada yang mengomentari bahwa saya terlalu sering pulang. Oke, sekarang saya menumpahkannya. Karena saya muak.

Ketika mendengar kata resign … orang akan mengira saya punya masalah, dengan orang, dengan situasi, dengan kondisi, apapun. Lalu mereka dengan susah payah akan menghalau masalah itu, memberikan penguatan bahwa saya tidak seharusnya resign. Seolah paham.
Saya tidak pernah bisa memahami-Nya. Tuhan … takdir-Nya. Jika semua masalah bisa selesai dengan hanya saya curhat kepada Tuhan, pasti semuanya tidak akan serumit ini.

Ini pertaruhan yang mahal. Lalu ketika saya sudah bertaruh, apa yang saya dapatkan? Tekanan. Ini hadiah karena saya sudah memilih berorganisasi daripada menemani masa tua ibu saya sendirian. Ini penghargaan untuk saya yang lebih memilih membantu Waferisme daripada keluarga sendiri. Saya ngerasa digampar sekeras-kerasnya.

Saya ada masalah dengan orang-orang di BEM? Ya, saya benci mereka yang tidak bisa profesional menjalankan tugasnya, saya benci melihat saya yang terlalu profesional di BEM. Saya tidak mau BEM yang begini-begini saja. Setelah saya mempertaruhkan ibu saya untuk aktf disini, inikah yang saya terima?

Jika saya memilih bertahan. Bertahan karena tertekan mendengar semua sanggahan mereka ketika saya mengeluhkan tuntutan saya untuk resign. Saya bertahan demi mereka. Mereka yang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi keluarga. Sampai kapan pun. Lalu selesai.

Kita sama-sama tahu tidak ada alasan saya masih harus bertahan disini kecuali masalah moral.
Saya hanya perlu lima bulan untuk menyelesaikan ini semua.
Saya hanya perlu lima bulan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Saya, passion saya, keluarga saya, beasiswa, saya pertaruhkan dalam perjudian yang paling memuakan.
Saya harus mempertanyakan ini pada-Nya. Saya tahu hanya dia yang punya alasan kenapa saya ada di sini. Bukan manusia-manusia itu. Bukan pula organisasi ini.
Bukan pula saya.

(Ditulis ketika saya sore-sore dari rumah berangkat untuk mengikuti rapat KKP. Saya SMS ada rapat apa, dibalas, tapi ketika saya meminta izin untuk tidak hadir melalui SMS tidak direspon, karena merasa berkewajiban datang saya meninggalkan keluarga saya dan datang ke Jatinangor. Sesampainya di Sekre, perasaan yang muncul hanya tertekan. Semoga saya tidak gila)
Continue reading Sore yang Menyebalkan

19 May 2013

nitip askep

Nama : Sarah Nurul Khotimah
NPM : 220110100134

2.1.1 Pengertian
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Kehamilan matur berlangsung  40 minggu dan tidak boleh lebih dari 42 minggu (Wiknjosastro, 1996).
2.1.2 Patofisologi
Ovum dilepaskan dalam proses ovulasi, ditangkap oleh fibrae dan berjalan menuju ke pers ampula tuba. Setelah proses ejakulasi, sperma masuk melalui kanalis servikalis menuju ke ampula tuba dengan kekuatannya sendiri. Terjadi proses konsepsi yaitu bertemunya ovum dan sperma pada pars ampula tuba. Kemudian kedua inti ovum dan sperma bersatu membentuk zigot terus membelah hingga membentuk morula dan terus berjalan menuju uterus.
Terjadi pertemuan sel di bagian luar morula menjadi sel trofoblas, pembentukan terus berjalan dan didalam morula terjadi ruangan yang mengandung cairan yang disebut blastula. Kemudian akan berimplantasi pada hari ke 6 sampai ke 7 setelah konsepsi.
Dengan terjadinya nidasi maka desidua terbagi menjadi desidua basalis yang berhadapan dengan korean frandusum yang berkembang menjadi plasenta. Desidua kapsularis yang menutupi hasil dan desidua kapsularis disebut desidua parietalis. Di dalam desidua kapsularis janin tumbuh dan berkembang hingga mencapai usia aterem  40 minggu.

2.1.3 Perubahan-perubahan pada wanita hamil
A. Perubahan Fisiologis
1. Perubahan yang kelihatan
a. Perubahan pada kulit
• Muka menyerupai topeng yang disebut cloasma gravidarum
• Pada areola dan papilla mammae mengalami hyperpigmentasi, dan papilla lebih menonjol
• Pada perut terdapat linea alba (garis hitam yang terbentang di atas symphisis sampai pusat) dan linea nigra (lebih hitam terbentang di tengah-tengah di atas pusat ada striae gravidarum yang merupakan garis-garis pada kulit yang dibedakan menjadi striae livide (berwarna hitam) dan striae albican (berwarna putih).
b. Pada vagina dan vulva timbul tanda chadwick yaitu warna kebiruan disebabkan oleh hipervaskularisasi karena hormon estrogen
c. Perubahan tungkai
Pada hamil tua sering oedem pada salah satu tungkai yang disebabkan oleh tekanan uterus yang membesar terkadang juga terjadi varises hal ini varises hal ini terjadi karena pengaruh hormon estrogen sehingga vena mengalami hypervaskularisasi
d. Perubahan sikap
Pada wanita hamil uterus membesar karena terisi oleh hasil konsepsi yang tumbuh menjadi janin dan juga karena perenggangan pada perut, maka untuk mengimbangi berat tersebut akan mengalami lordose.
e. Perubahan tulang dan gigi
Persendian panggul akan terasa lebih longgar, karena ligamen melunak (softening) dana terjadi sedikit pelebaran pada ruang persendian.
2. Perubahan yang tidak terlihat
a. Darah
Volume darah bertambah sekitar 30 % sedangkan sel darah bertambah sekitar 20 % curah jantung bertambah sekitar 30 %. Pertambahan sel darah tidak sesuai dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Biasanya tekanan darah tidak naik biarpun volume darah bertambah bahkan cenderung turun karena kepekatan darah bertambah bahkan cenderung turun karena kepekatan berkurang elastisitasnya.
b. Alat-alat Kencing
Ginjal bekerja lebih berat karena harus menyaring ampas dari dua orang yaitu ibu dan janin. Pada trimaster kedua kehamilan akan terjadi sering buang air kecil karena uterus lebih antefleksi dan membesar sehingga menekan kandung kemih.
c. Rahim atau Uterus
Akan mengalami hypertrofi atau hyperplasia dari yang semula sebesar jempol dengan berat 30 gram, pada kehamilan cukup bulan akan membesar dengan kapasitas lebih dari 4000 cc. Berat uterus akan naik menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 pekan)
d. Sistem pernafasan
Ibu hamil mengalami atau mengeluh sesak dan pendek nafas serta pernafasan lebih dalam 20-25 % dari biasanya. Hal ini terjadi karena desakan diafragma yang terdorong oleh rahim yang semakin membesar.
e. Saluran pencernaan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat sehingga menyebabkan hipersalivasi, morning siknes, emisis gravidarum. Progesteron menyebabkan gerakan peristaltik semakin berkurang sehingga dapat mengakibatkan Konstipasi.

B. Perubahan Psikologis
Perubahan psikologis pada wanita hamil menurut teori Reva Rubin dibedakan menjadi :
Trimaster I : Ambivalen, takut, fantasi dan khawatir
Trimaster II : Perasaan lebih enak, meningkatnya kebutuhan untuk mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan janin, kadang kelihatan egosentrik dan sel centered
Trimaster III : Berperasaan aneh, sembrono, menjadi lebih introvert, merefleksikan terhadap pengalaman masa lalu.
2.1.4 Pembagian Usia Kehamilan
Usia kehamilan di bagi dalam 3 Trimaster, yaitu :
a. Trimaster I : 0-12 minggu
b. Trimaster II : 13-27 minggu
c. Trimaster III : 28-40 minggu
Tuanya kehamilan diperiksa atau ditentukan berdasarkan :
 Lamanya amenorhoe
 Tingginya fundus uteri (hanya berguna untuk letak kepala)
12 minggu : 3 jari diatas symphisis
16 minggu : ½ symphisis pusat
20 minggu : 3 jari di bawah pusat
24 minggu : setinggi pusat
28 minggu : 3 jari diatas pusat
32 minggu : ½ pusat dengan px
36 minggu : 3 jari dibawah px

Rumus mencari usia kehamilan menurut Mc. Donald

20 cm  5 bulan
23 cm  6 bulan
26 cm  7 bulan
30 cm  8 bulan
33 cm  9 bulan
2.1.5 Pertumbuhan Janin
Perubahan-perubahan dan organogenesis yang terjadi pada berbagai periode kehamilan :
• Umur kehamilan 4 minggu
Panjang fetus 7,5-10 cm, rudimental mata, telinga, dan hidung, kepalanya ½ dari seluruh mudigah.Saluran yang akan menjadi jantung terbentuk dan sudah berdenyut. Dasar-dasar traktus digestivus sudah nampak, permulaan kaki dan tangan berbentuk tonjolan.
• Umur kehamilan 8 minggu
Panjang fetus 2,5 cm, hidung, telinga, jemari, kepala menengkur ke dada. Mukanya sudah jelas berbentuk muka manusia dan sudah mempunyai lengan dan tungkai dengan jari tangan. Alat kelamin sudah nampak, walau belum dapat ditentukan jenisnya.
• Umur kehamilan 12 minggu
Panjang fetus 9 cm. Daun kuping lebih jelas, kelopak mata melekat, leher mulai berbentuk alat kandungan luar berbentuk namun belum terdiferensiasi. Sudah ada pusat-pusat pertulangan, kuku sudah ada, ginjal sudah berbentuk sedikit air seni.
• Umur kehamilan 16 minggu
Panjang fetus 16-18 cm. Genetalia eskterna terbentuk dan dapat dikenal kulit tipis dan warna merah dibubuhi rambut halus (lanugo). Pergerakan anak mungkin sudah dapat dirasakan oleh ibu.
• Umur kehamilan 20 minggu
Panjang fetus 25 cm. Kulit lebih tebal, rambut mulai tambah di kepala bunyi jantung sudah dapat didengarkan
• Umur kehamilan 24 minggu
Panjang fetus 30-32 cm, kedua kelopak mata tumbuh alis dan bulu mata, kulit keriput kepala besar. Bila lahir dapat bernafas tetapi hanya bertahan hidup beberapa jam saja.
• Umur kehamilan 28 minggu
Panjang fetus 35 cm, kulit berwarna kemerahan ditutupi verniks kaseosa bila lahir dapat bernafas, menangis pelan dan lemah, bayi imatur.
• Umur kehamilan 32 minggu
Panjang fetus 40-32 cm, kulit merah dan keriput. Bila lahir kelihatan seperti orang tua kecil.
• Umur kehamilan 36 minggu
Panjang fetus 46 cm, muka berseri tidak keriput, bayi prematur.
• Umur kehamilan 40 minggu
Panjang fetus 50-55 cm, bayi cukup bulan, kulit licin, verniks kaseosa banyak, rambut kepala tumbuh baik, pada bayi laki-laki testis sudah turun dalam skrotum, sedangkan pada wanita labia mayora berkembang baik.
2.1.6 Letak Anak
a. Situs
Menentukan letak membujur / melintang
b. Habitus
Menentukan apakah anak fleksi/defleksi
c. Posito
Menentukan letak kepala

d. Praesentatio
Menentukan bagian terendah anak (letak kepala, letak bokong dan sebagainya)
 Letak belakang kepala 95 %, sebab :
- Sesuai dengan sumbu uterus
- Fundus merupakan tempat yang luas sehingga sesuai dengan bokong
- Kepala merupakan bagian yang berat sehingga berada dibawah
- Kepala bayi pas untuk pintu atas panggul
 Letak sungsang 3,5 %
 Letak lintang 0,5 %
 Punggung kiri 2x lebih banyak dari pada punggung kanan
2.1.8 Diagnosis Anak hidup atau Mati
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh ibu petugas untuk mengetahui keadaan janin masih hidup atau sudah mati adalah :
1. Bunyi jantung anak terdengar atau tidak
2. Rahim tidak membesar, fundus uteri turun
3. Palpasi anak kurang jelas
4. Reaksi biologis menjadi negatif
5. Pada gambar rontgen terlihat
- Tanda spalding
- Tulang punggung sangat melengkung
- Adanya gelembung-gelembung gas dalam rahim
6. Ibu tidak merasa lagi pergerakan
2.1.9 Diagnosis anak tunggal atau kembar
Tanda anak kembar antara lain :
1. Perut lebih besar dari usia kehamilan
2. Meraba 3 bagian besar/lebih, bokong/kepala
3. Meraba 2 bagian besar berdampingan
4. Merasa banyak bagian kecil
5. Terdengar DJJ di 2 tempat
6. Pada X photo terlihat 2 kerangka janin
7. VT teraba maserasi
2.1.10 Diagnosis atau Tanda kehamilan Ekstra Uterin
Kehamilan ekstra uterin biasanya tidak sampai aterm, pada bulan I, bulan II dan III terganggu. Tanda-tanda kehamilan ekstra uterin yang lanjut :
1. Bagian anak mudah sekali di palpasi
2. Cortonen lebih jelas
3. Biasanya ada kelainan letak anak
4. Ligamental rotundum tidak berbeda
5. Di samping bayi teraba tumor uterus
6. Oksitosin test negatif disuntik 2 unit pitosin 5 % IV uterus tidak berkontraksi
7. Vaginal toucher uterus pembesaran biasa
8. Bila perlu rontgen foto

2.1.11 Asuhan Antenatal
 Tujuan dari asuhan antenatal pada ibu hamil adalah :
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan dan tumbuh kembang bayi
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
3. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan / komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat (ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin)
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
 Kebijakan-kebijakan
1. Kebijakan program
2. Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan minimal 4x selama hamil TM I 1x, TM II 1x, TM III 2x.
Pelayanan / asuhan standar minimal termasuk “7 T”
- Timbang BB
- Ukur tekanan darah
- Ukur tinggi fundus uteri
- Pemeberian imunisasi (tetanus toksoid) TT lengkap
- Pemberian tablet zat besi
- Test terhadap PMS
- Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
3. Kebijakan Teknis
Penatalaksanaan ibu hamil secara teknis / keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
- Mengupayakan kehamilan yang sehat
- Melakukan deteksi dini komplikasi, melaksanakan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
- Persiapan persalinan yang bersih dan aman
- Perencanaan antispasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi

2.1.12 Gangguan yang dialami ibu hamil
 Trimaster I
Data psikologis dan perubahan-perubahan yang perlu dikaji adalah :
- Penerimaan keluarga khususnya psutri terhadap kehamilannya
- Bagaimana perubahan kehidupan sehari-hari
- Bagaimana reaksi keluarga terhadap perubahan tersebut
- Bagaimana cara keluarga memberikan dorongan pada ibu hamil
- Siapa yang bertanggung jawab terhadap perawatan bayi
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian pada masa ini adalah :
- Mual muntah
- Pengaruh obat terhadap janin
- Perubahan body image / citra tubuh (khususnya bagi ibu hamil yang masih muda / remaja usia 12-19 tahun)
- Kebutuhan nutrisi

 Trimester II
Pada masa ini ibu hamil dan keluarga memasuki masa transisi yang massa menerima kehamilan kemassa menyiapkan kelahiran dan menerima bayi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa ini adalah :
- Peningkatan BB dan tekanan darah
- Rasa tidak nyaman
- Aktivitas seksual
 Trimaster III
Pada masa ini perhatian bidan lebih diarahkan pada
- Persiapan untuk kelahiran
- Persiapan menyusui
- Rencana perawatan bayi
- Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin timbul
2.1.13 Nasehat-nasehat untuk Ibu Hamil
a. Diet
- Dianjurkan makan 4 sehat 5 sempurna, sebagai pengawasan gizi ibu dan kandungan dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badan rata-rata 6,5-16 kg selama hamil. Kenaikan berat badan yang berlebihan atau bila BB ibu turun 5 tahun kehamilan TM II, haruslah menjadi perhatian.

b. Pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan masih dapat dilakukan, pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan dan kurangi pekerjaan dengan seiring tuanya kehamilan.
c. Hubungan seksual
Coitus tidak dihalangi, kecuali jika ada sejarah :
- Sering abortus atau prematur
- Perdarahan pervaginam
- Pada minggu terakhir coitus harus hati-hati
- Bila ketuban sudah pecah coitus dilarang
- Dikaitkan bahwa pada hamil tua coitus dapat menyebabkan kontraksi uterus.
d. Gerak Badan
Gerak badan yang melelahkan dilarang, dianjurkan berjalan-jalan di pagi hari dalam udara yang masih segar.
e. Pakaian Hamil
- Gunakan pakaian yang longgar terbuat dari kain katun sehingga mempunyai kemampuan menyerap keringat terutama pakaian dalam
- Bra dianjurkan yang longgar dan mempunyai kemampuan menyangga payudara yang makin berkembang
- Memakai sepatu / sandal yang tumit yang tidak terlalu tinggi
f. Pemberian Obat
Pengobatan penyakit saat hamil harus selalu diperhatikan apakah obat tersebut tidak berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin.

Nursing Care Plan


Tanggal Pengkajian : 06 Oktober 2005 Jam : 07.00 WIB
3.1 Pengkajian
A. Data Subyektif
1. Biodata


2. Keluhan utama
Pasien mengatakan hamil 6 bulan dan ingin memeriksakan kehamilannya.
3. Riwayat kesehatan sekarang


4. Riwayat kesehatan yang lalu


5. Riwayat kesehatan keluarga


6. Riwayat kebidanan
a. Riwayat menstruasi
b. Riwayat kehamilan sekarang
HPHT :
HPL :
UK :
c. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu

d. Riwayat KB
7. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
b. Istirahat
c. Aktivitas
d. Aliminasi
e. Seksual
f. Personal hygiene
8. Keadaan psikososial
9. Latar belakang sosial budaya
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum :
Kesadaran : composmentis
Tinggi badan :
BB sebelum hamil :
BB saat hamil :
Kenaikan berat badan :
Lila :
2. Tanda-tanda vital : T :
N :
S :
RR :
3. Pemeriksaan fisik
a.
3.2 Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
Diagnosa :

3.5 Intervensi
Diagnosa : Ny. ”A” GIIP10001 umur kehamilan 24 minggu, hidup, tunggal, intrauterin, letak kepala, jalan lahir normal, keadaan umum ibu baik.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 15 menit, diharapkan ibu mengerti penjelasan yang diberikan oleh petugas.
Kriteria hasil : - pasien dapat mengerti dan memahami penjelasan yang diberikan oleh petugas.
- pasien dapat mengulang penjelasan yang diberikan oleh petugas.

Intervensi :
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien
R / Dengan penjelasan diharapkan pasien dapat mengerti tentang keadaannya saat ini.
2. Anjurkan pasien untuk makan makanan dengan gizi seimbang dalam sehari, misalnya : beras 2 gelas, daging 3 x kotak korek api tebal, tempe 4 x kotak korek api tebal, sayur padat 3 gelas/daun 6 gelas, buah (pepaya) 8 x kotak korek api tebal, susu ½ gelas.
R / Ukuran tersebut diatas merupakan kebutuhan wanita hamil selama trimester II dan III. Gizi yang seimbang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, pemeliharaan dan kesehatan ibu, persediaan untuk masa laktasi baik untuk janin maupun untuk ibu.
3. Beri tablet Fe, anjurkan pasien untuk minum tablet Fe / zat besi setiap hari, dan ajarkan cara minumnya, tidak boleh diminum dengan teh, sebaiknya diminum malam hari dan setelah makan.
R / - Zat besi diperlukan untuk pembentukan darah, pada saat hamil keperluan zat besi sangat meningkat untuk pembentukan darah janin dan persediaan bagi bayi untuk masa laktasi  6 bulan sesudah dilahirkan, persediaan ini diperlukan karena air susu ibu tidak mengandung garam besi. Kebutuhan zat besi sehari pada wanita hamil  17 gram.
- Fe tidak diminum dengan teh karena teh dapat mengganggu / menghambat penyerapan Fe.
- Diminum malam hari setelah makan, karena Fe dapat meningkatkan asam lambung dan meningkatkan peristaltik lambung sehingga dapat menyebabkan rasa mual.
4. Beri tablet kalk, anjurkan pasien untuk minum tablet kalk setiap hari
R / Karena kalsium sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang janin, kebutuhan kalsium sehari-hari saat hamil 1 gram.
5. Anjurkan pasien untuk beristirahat cukup dan mengurangi aktivitas yang berat
R / Dengan istirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas yang berat diharapkan keadaan umum ibu dapat selalu dalam keadaan baik sehingga ibu tidak rentan terkena penyakit.

6. Anjurkan pasien untuk selalu menjaga personal hygiene
R / Dengan personal hygiene mencegah masuknya kuman-kuman patogen penyebab infeksi.
7. Jelaskan tentang tanda bahaya kehamilan pada trimester II
R / Agar pasien dapat mengerti dan segera meminta bantuan pada tenaga kesehatan apabila tanda bahaya tersebut terjadi pada dirinya.
8. Anjurkan ibu untuk mengikuti senam hamil
R / Karena senam hamil pada usia kehamilan 24 minggu bertujuan untuk pembentukan sikap tubuh, latihan kontraksi dan relaksasi, latihan pernafasan untuk mengatasi nyeri kala I.
9. Anjurkan ibu untuk kontrol ulang
R / Dengan pemeriksaan secara rutin diharapkan dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan janin serta mendeteksi terhadap kelainan yang ada.



DAFTAR PUSTAKA


Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002, Yayasan BPSD. Jakarta.

Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Edisi 2. EGE.Jakarta.

Manuaba, Gde, Ida, Bagus, 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Bidan. EGC. Jakarta.

Wiknjosastro, DSOG, Prof. dr. Hanifa, 1996. Ilmu Kebidanan, Yayasan BPSD. Jakarta.

Continue reading nitip askep

06 May 2013

,

Insentif Penulisan Artikel di Media Cetak bagi Dosen, Pegawai, dan Mahasiswa Unpad

Unpad memberikan insentif bagi dosen, pegawai, dan mahasiswa Unpad yang tulisannya dimuat di media cetak.
Persyaratan:
Karya tulis berupa artikel, dimuat di media cetak koran / suratkabar nasional (Kompas, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, The Jakarta Post) dan regional Jawa Barat (Pikiran Rakyat). Selain media cetak tersebut, belum mendapat insentif.
Artikel berbentuk opini atau feature
Bobot tulisan bersifat positif
Minimal tulisan 500 kata
Sangat diutamakan bersifat ilmiah sesuai bidang keilmuan
Insentif diberikan bagi penulis yang karyanya dimuat sejak tanggal 24 April 2008
Menuliskan nama asal lembaga (fakultas / jurusan) Unpad, setelah penulisan nama yang bersangkutan di akhir artikel, dan tercantum pada artikel yang dimuat
Maksimal 2 tulisan per bulan
Cara Pencairan Insentif:
Melampirkan hasil tulisan yang telah dimuat di media cetak / surat kabar 2 rangkap
Setiap artikel yang diajukan dilengkapi masing-masing 2 (dua rangkap): fotokopi KTP / Karpeg bagi dosen dan pegawai, fotokopi KTM bagi mahasiswa
Mengisi formulir isian yang disediakan di Humas Unpad
Bersedia menyerahkan softcopy artikel untuk dimuat di website Unpad
Mencantumkan NPWP
Konfirmasi penyerahan insentif akan diinformasikan kemudian melalui SMS / telepon. Pengambilan insentif langsung oleh yang bersangkutan / tidak bisa diwakilkan
Untuk info lebih lanjut, Humas Unpad:
Telepon (022) 84288811, email humas@unpad.ac.id
facebook.com/unpad
twitter.com/unpad
Continue reading Insentif Penulisan Artikel di Media Cetak bagi Dosen, Pegawai, dan Mahasiswa Unpad